Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 21.7 ° C

Reboisasi Solusi Efektif Atasi Perubahan Iklim Global

Huminca Sinaga
FOTO ilustrasi hutan hujan.*/DOK. PR
FOTO ilustrasi hutan hujan.*/DOK. PR

BERDASARKAN penelitian terbaru, mengembalikan hutan dunia yang hilang dapat menghilangkan dua pertiga gas karbon dari aktivitas manusia yang menyebabkan panas bumi.

Seperti dilansir CNN pekan lalu, sejak adanya revolusi industri, manusia telah menciptakan sekitar 300 miliar ton gas karbon ekstra ke atmosfer. Sebagian besar dari bahan bakar fosil yang memanaskan bumi ke level yang berbahaya. Pohon secara alami menghilangkan karbon yang ada di atmosfer dengan menyimpannya di dalam tanah.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di Swiss University ETH Zurich dan dipublikasikan di jurnal Science, telah mengalkulasi bahwa mengembalikan hutan yang terdegradasi di seluruh dunia, bisa mengatasi sekitar 205 miliar ton karbon secara total. Emisi karbon global saat ini mencapai 10 milyar ton per tahunnya.

Hutan terdegradasi

Para peneliti mengidentifikasi ekosistem d iseluruh dunia yang akan secara alami mendukung beberapa level perlindungan oleh pohon. Tetapi, sebagian besar sudah terdegradasi, digunduli untuk balok kayu, atau diubah menjadi lahan pertanian yang sudah ditinggalkan. 

Mereka tidak termasuk wilayah yang saat ini dijadikan pemukiman atau lahan pertanian, atau yang secara alami akan menjadi padang rumput atau lahan basah. Alasannya, ekosistem ini sendiri dapat menjadi penyimpan karbon yang berharga serta mendukung keanekaragaman hayati.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa kita memiliki lahan yang cukup dan cocok untuk memperbaiki sepertiga hutan dunia. Hal itu akan memberikan bumi lebih dari satu triliun pohon ekstra dan 900 juta hektar tambahan kanopi pohon. Lahan tersebut kira- kira memiliki luas yang sama dengan AS. 
 

Solusi paling efektif

Para peneliti mengatakan bahwa mengembalikan hutan adalah langkah yang paling efektif untuk menangani perubahan iklim. Tom Crowther, penulis senior penelitian itu mengatakan bahwa solusi ini merupakan solusi besar termurah sejauh ini.

Selain itu, proyek pengembalian hutan yang kita ketahui adalah mengembalikan jutaan pohon senilai 30 sen per pohon, yang apabila dikalkulasikan akan menjadi 300 juta Dollar AS.

Penelitian ini menemukan bahwa lahan yang paling cocok untuk proyek ini berada di enam negara, yaitu Rusia (151 juta hektar), Amerika Serikat (130 juta hektar), Kanada (78 juta hektar), Australia (58 juta hektar), Brasil (50 juta hektar), dan Tiongkok (40 juta hektar).

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa lahan lahan tersebut bisa menyusut karena perubahan iklim. Kemungkinan, lahan tersebut juga hanya tersisa setengahnya saja di tahun 2050 nanti.

Tim peneliti juga menemukan bahwa dalam model ekosistem mereka, walaupun iklim yang lebih hangat sepertinya akan meningkatkan perlindungan pohon di daerah utara seperti Siberia, hal itu akan dikalahkan oleh perubahan iklim karena menyusutnya hutan di daerah tropis.

Mereka juga menambahkan, model ekosistem masa depan mereka memiliki ketidakpastian yang tinggi serta tidak memperhitungkan kemungkinan hilangnya hutan untuk penggembalaan atau peternakan.

Christiana Figueres, mantan sekretaris eksekutif di badan Konvensi Iklim PBB menjelaskan, penelitian ini sebagai penilaian otoritatif tentang seberapa banyak tanah yang bisa dan harus ditutupi dengan pohon, tanpa mengganggu produksi pangan atau lingkungan tinggal.

Sementara, Simon Lewis, profesor dari Global Change Science di University College of London yang tidak terlibat dalam penelitian ini, setuju bahwa kita harus menanam hutan baru untuk mencapai target perubahan iklim. 

Dia mengatakan bahwa estimasi pengembalian lahan seluas 900 juta hektar bisa menyimpan 250 miliar ton karbon tambahan itu terlalu besar dan tidak mendukung penelitian dan model ekosistem sebelumnya.

Lewis menambahkan, pemikiran bahwa hilangnya lahan karena perubahan iklim yang akan terjadi pada 2050 juga tidak konsisten dengan hasil dari model iklim atau penelitian observasional untuk hutan yang ada. Ancaman untuk hutan tropis saat ini ialah penggundulan hutan oleh manusia dan kebakaran yang tidak terkontrol, bukan dampak dari suhu yang lebih tinggi.

Upaya perbaikan

Penanaman pohon bukanlah cara perbaikan iklim yang cepat. Pohon bisa membutuhkan waktu beberapa dekade untuk tumbuh dan menyerap karbon demi mencapai potensi maksimalnya.

Manfaat langsung lainnya adalah dengan menghentikan penggundulan hutan yang menghabiskan sekitar 15 milyar pohon setiap tahunnya. Walaupun penanaman pohon dalam skala besar mendapati banyak tantangan, upaya yang menyeluruh sedang dilakukan saat ini.

Contohnya, pemerintan Australia dan Tiongkok dalam program Great Green Wall telah memulai gerakan penanaman pohon dengan target capaian di tahun 2030.

Myles Allen, profesor ilmu geosistem di University of Oxford mengatakan bahwa penelitian tersebut memiliki estimasi yang berlebihan tentang pengurangan karbon. Mengembalikan hutan bisa saja menjadi salah satu solusi yang efektif. 

Crowther mengatakan bahwa yang jelas, hal yang harus kita lakukan saat ini ialah mengurangi 300 miliar ton gas emisi yang ada saat ini.***

Bagikan: