Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Kiat Sukses Kurangi Kecanduan Internet

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI.*/DOK. KABAR BANTEN

BERLIN, (PR).- Banyak orang menghabiskan waktunya dengan Internet setiap minggu, tapi beberapa di antara mereka tidak bisa lepas darinya.

Dilansir CNN, sebuah studi kecil dalam Jurnal medis JAMA Psychiatry yang diterbitkan pada Rabu lalu, menuliskan bahwa ada satu jenis terapi jangka pendek yang bisa menjadi pengobatan efektif bagi individu yang mengalami kecanduan Internet.

Para peneliti menemukan bahwa 69,% dari pria yang kecanduan internet mengalami remisi atau penurunan tingkat kecanduan setelah terapi, dibandingkan dengan 23,9% lainnya yang mengalami remisi saat menjadi daftar tunggu untuk menerima terapi tersebut.

“Hal ini mengindikasikan efek yang kuat dari pengobatan untuk subjek yang mengalami kecanduan internet atau gangguan dalam bermain game,” ujar Klaus Wölfling, pemimpin utama dari studi untuk JAMA Psychiatry tersebut. Wölfling adalah seorang peneliti di Departemen Kedokteran Psikosomatik dan Psikoterapi di Universitas Medical Center di Johannes Guttenberg- University Mainz di Jerman.

Menurut para peneliti, kecanduan internet merupakan penggunaan yang berlebih terhadap internet yang secara negatif memengaruhi keluarga, kehidupan sosial, pekerjaan, dan aspek- aspek kehidupan lainnya.

Tahun lalu, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa gangguan dalam bermain game online merupakan kondisi kesehatan mental. Kriteria untuk gangguan ini, menurut WHO, meliputi setidaknya 12 bulan pola berulang dalam bermain game, kehilangan kendali serta perilaku yang berkelanjutan, bahkan  menyebabkan konsekuensi negatif dan perasaan tertekan dalam aspek kehidupan lainnya.

Untuk studi ini, para peneliti menggunakan definisi yang lebih luas terkait kecanduan internet, untuk memasukkan pasien yang kecanduan game, jejaring sosial, pornografi, berselancar online, ataupun penggunaan Internet secara umum. Tingkat kecanduan internet diperkirakan sebanyak 6% di seluruh dunia.

15 minggu terapi

Studi ini meneliti 143 pria antara 15 hingga 55 tahun di empat klinik rawat jalan di Jerman dan Austria. Yang diteliti adalah yang memiliki kriteria kecanduan internet berdasarkan pada hasil dari penilaian terhadap kecanduan internet dan game yang menjadi survei berstandar di lapangan.

Hal itu didasarkan pada 14 kriteria yang meliputi frekuensi aktivitas dengan internet, gejala- gejala menarik diri dari kehidupan sosial, keasyikan terhadap internet, dan kurangnya ketertarikan terhadap aspek- aspek lain dalam hidup.

Kecanduan internet ditentukan oleh nilai yang melebihi angka 13. Sementara remisi sendiri ditentukan oleh nilai yang kurang dari angka 7.

Terapi perilaku kognitif jangka pendek sendiri terdiri dari 15 minggu terapi yang terbagi dalam sesi grup dan individual. Program ini dibagi menjadi tiga tahapan: edukasi tentang kecanduan, intervensi psikoterapi- seperti menunjukan penggunaan internet secara sehat, serta “fokus pada pengulangan teknik pencegahan dan teknik transisi kedalam kehidupan sehari- hari,” kata Wölfling.

Orang yang ada dalam kelompok kontrol di daftar tunggu pada akhirnya menerima terapi ini setelah 15 minggu mengalami keterlambatan karena proses penyelesaian studi ini.

Studi ini hanya melakukan penilaian pada pria saja karena mereka merupakan pasien utama untuk kecanduan internet di klinik, ujar Wölfling. 

Untuk kecanduan perilaku sencara umum, pria “mewakili 90% dari pasien yang dirawat dan didiagnosis di klinik rawat jalan,” tulis para peneliti.

Pasien dinilai pada awal, pertengahan, dan setelah pengobatan dengan jangka waktu empat bulan. Mereka yang ada dalam terapi grup juga diharuskan untuk mengikuti penilaian setelah enam bulan.

Setelah itu, para peneliti melihat laporan terkait perilaku dan gejala kecanduan internet.

Di akhir perawatan, pasien dalam kelompok terapi menunjukkan beberapa peningkatan seperti kehidupan sosial dan kerja yang semakin membaik setiap harinya.

Sejauh ini, pasien menunjukkan tingkat depresi yang rendah dan tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan antara kedua grup. Adapun sebagian kecil dari mereka menjadi lebih tertekan dan harus dipindahkan ke ruang rawat inap, tambah para peneliti.

Ini baru uji klinis pertama yang dilakukan secara acak di beberapa klinik yang merawat pasien dengan kecanduan Internet, tapi studi ini memiliki beberapa keterbatasan.

Ukuran sampel yang kecil bisa “melebih- lebihkan” efek dari terapi jangka pendek, kata para peneliti.

Selain itu, studi ini hanya terbatas untuk pria saja dan berdasar pada informasi yang dilaporkan pasien tentang kondisi pribadinya.

Beberapa pasien keluar dari penelitian dan 100 lainnya berhasil menyelesaikan penelitian yang telah dijadwalkan.

Uji klinis selanjutnya harus memiliki pilihan pasien yang lebih baik termasuk wanita dan lebih ditambahkan dalam hal jangka waktunya, kata Wölfling.

“Pasien mungkin akan mendapatkan keuntungan yang lebih apabila tahap pengobatan diperpanjang,” ujarnya.***

Bagikan: