Pikiran Rakyat
USD Jual 14.014,00 Beli 14.112,00 | Sebagian berawan, 21.9 ° C

Akibat Anomali Cuaca, Warga Jepang Nikmati Matahari Cuma 3 Jam/Hari

Huminca Sinaga

ILUSTRASI sinar matahari.*/ANTARA
ILUSTRASI sinar matahari.*/ANTARA

TOKYO, (PR).-  Beberapa pekan paling suram yang terjadi di Tokyo dalam 60 tahun terakhir telah membayangi sejumlah pasar sayuran di Tokyo. Hal ini memaksa para pedagang menaikan harga hingga 70%.

Dilansir The Guardian, Kamis 18 Juli 2019, Jepang telah dilanda cuaca berawan yang tidak sesuai musim, dan juga suhu dingin. Akibat anomali cuaca ini, berdasarkan data BMKG Jepang, warga Tokyo menikmati sinar matahari kurang dari tiga jam per hari selama 20 hari ke depan, dimulai sejak hari Selasa dua pekan lalu. 

Badan Meteorologi Jepang sudah rutin mengumpulkan data cuaca sejak tahun 1961.

Sedikitnya sinar matahari dan rendahnya suhu telah mempengaruhi pertanian sepanjang negara kepulauan Jepang. Tak ayal, harga mentimun pun terkena imbasnya.

Otorita Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan setempat mengatakan, harga mentimun naik sampai 70%. Sementara sayuran lainnya juga ikut mengalami kenaikan dua digit di seluruh pasar pusat Tokyo. 

Akan tetapi, tidak semua jenis sayuran mengalami kenaikan harga. Justru harga bawang, lobak putih dan wortel mengalami penurunan. Pasalnya, produk pertanian tersebut berasal dari utara pulau Hokkaido,  yang menikmati sinar matahari di tingkat normal.

Tekanan udara

Sementara itu, penyebab dinginnya suhu dan tingginya cura hujan di Tokyo di musim panas ini  adalah  tekanan udara tinggi di laut Okhotsk, di lepas pantai timur Rusia. Kondisi ini menyebabkan udara dingin dan lembab terdorong ke selatan Jepang, termasuk ke Tokyo.

Jepang dilanda musim hujan sekitar akhir Juni hingga awal Juli yang biasanya telah selesai sekarang, diikuti oleh cuaca sangat terik dan lembab sekitar dua bulan atau sampai awal September. 

Namun, pada musim panas kali ini, terjadi anomali yang ditandai dengan suhu dingin dan curah hujan tinggi. Pola cuaca yang tidak biasa ini juga mempengaruhi penjualan pakaian musim panas. 

Gelombang panas di Jepang pada bulan Juli tahun lalu telah menewaskan puluhan warga dan ribuan lainnya dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, tercatat suhu panas di Jepang mencapai rekor tertinggi, yakni 41,1 derajat Celicus di Saitama, Tokyo utara.

Pihak penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 dan para atlet mengharapkan cuaca musim panas tahun depan bisa lebih dingin tahun depan.

Ajang olah raga tersebut akan digelar pada 24 Juli 2020 hingga 9 Agustus 2020.

Sementara itu, Badan Meteorologi Jepang telah memprediksi, cuaca berawan masih akan berlangsung sampai dua pekan ke depan. Perkiraan suhu akan kembali terik, seperti musim panas biasanya, akan terjadi pada akhir Juli.***

Bagikan: