Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

821 Juta Orang Menderita Kelaparan

Huminca Sinaga
ILUSTRASI penderita kelaparan.*/KABAR BANTEN
ILUSTRASI penderita kelaparan.*/KABAR BANTEN

NEW YORK, (PR).- Lebih dari 821 juta orang di seluruh dunia menderita kelaparan tahun lalu. Demikian diungkapkan otoritas PBB di markasnya di New York,  Selasa 16 Juli 2019, seperti dilansir laman Channel News Asia.

Menurut otoritas PBB, peningkatan jumlah warga dunia yang kelaparan itu, telah berlangsung dalam tiga tahun terakhir. Dalam hal ini, setelah beberapa dekade mengalami penurunan, malnutrisi mulai meningkat pada tahun 2015. Penyebab utamanya disebabkan oleh perubahan iklim dan peperangan.

PBB berharap data statistik ini bisa berubah ke arah positif untuk mencapai salah satu target lembaga multinasional tersebut, yakni Pembangunan Berkelanjutan pada 2030. Tujuannya, untuk memperbaiki planet Bumi dan orang- orang yang hidup di dalamnya.

Akan tetapi, untuk sampai ke dunia dimana tidak satu orang pun mengalami kelaparan merupakan “tantangan yang besar,” ungkap laporan PBB itu, sambil mencatat bahwa jumlah orang- orang yang kekurangan makanan mengalami peningkatan menjadi 811 juta orang di 2017.

“Kita tidak akan mencapai dunia tanpa kelaparan di tahun 2030,” ujar David Beasley, kepala dari World Food Programme, salah satu badan PBB yang juga ikut berkontribusi terhadap isi laporan tersebut.

“Data itu merupakan statistik yang buruk. Tanpa adanya ketahanan pangan, kita tidak akan pernah memiliki hidup yang damai dan stabil,” tambahnya, menyayangkan karena media lebih sering membawakan berita terkait Brexit dan Donald Trump daripada anak- anak yang mati karena kelaparan.

Memecah belah

Lebih lanjut, David memperingatkan bahwa kelompok- kelompok ekstrimis menggunakan kelaparan dan kontrol terhadap persediaan makanan sebagai senjata untuk memecah belah suatu komunitas atau untuk merekrut anggota baru.

Laporan terkait keadaan ketahanan pangan dan nutrisi dunia di terbitkan oleh PBB Food and Agriculture Organization (FAO) dan badan- badan PBB lain, termasuk World Health Organization (WHO)
“Untuk melindungi ketahanan pangan dan nutrisi, sangatlah penting untuk memiliki tempat dalam aturan sosial ekonomi untuk menangkal dampak dari siklus ekonomi yang merugikan, seraya menghindari pemotongan untuk layanan penting, seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, dengan cara apa pun," ujar David.

Hal ini akan membutuhkan “pengintegrasian ketahanan pangan dan nutrisi kedalam upaya pengurangan kemiskinan” sembari mengatasi permasalahan ketidaksetaraan gender dan diskriminasi kelompok, ungkapnya.

Malnutrisi masih tersebar luas di Afrika dimana 20 persen populasinya terdampak, dan di Asia sendiri lebih dari 12 persen penduduknya mengalami kekurangan gizi. Sementara, di Amerika Latin dan Karibia, hanya kurang dari tujuh persen populasinya yang mengalami malnutrisi.

FAO mengatakan, upaya yang saat ini dilakukan masih belum cukup dalam memenuhi tujuan untuk mengurangi separuh dari jumlah anak yang pertumbuhannya terhambat gizi buruk pada 2030.

Wanita terpukul

Robin Willoughby, kepala badan kebijakan pangan dan iklim di Oxfam GB, mengatakan wanita adalah orang yang paling terpukul oleh meningkatnya kelaparan.

"Racun buatan dari guncangan iklim, ketidaksetaraan dan konflik terus bermunculan seiring dengan berjalannya waktu" katanya.

"Jika kita ingin memenuhi target untuk mengakhiri kelaparan di tahun 2030, pemerintah harus segera mengurangi emisi rumah kaca, menyediakan lebih banyak dukungan untuk pertanian skala kecil dan meningkatan upaya untuk memberantas konflik kekerasan.”

Kelompok non- pemerintah di Perancis, CCFD- Terre Solidaire mengatakan bahwa di Afrika dan Amerika Latin, lemahnya ketahanan pangan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Sekitar 149 juta anak- anak di dunia yang saat ini menderita kelaparan mengalami keterlambatan pertumbuhan.

Pada saat yang sama, laporan PBB mencatat bahwa obesitas dan kelebihan berat badan yang mempengaruhi anak- anak usia sekolah dan orang dewasa pun meningkat di semua wilayah.***

Bagikan: