Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Whale Watching, Bisnis Wisata yang Berkembang Pesat di Jepang daripada Memburu Paus

Siska Nirmala
Seekor paus melompat di perairan kawasan Rausu, Hokkaido, Jepang.*/REUTERS
Seekor paus melompat di perairan kawasan Rausu, Hokkaido, Jepang.*/REUTERS

RAUSU, (PR).- Pengamatan paus atau whale-watching menjadi bisnis wisata yang berkembang pesat di Jepang. Jumlah pengunjung pengamatan paus di Jepang bertambah dua kali lipat antara rentang waktu 1998 hingga 2015, berdasarkan data nasional Jepang.

Seperti dilansir Reuters, salah satu usaha bisnis pengamatan paus di Okinawa, memiliki 18.000 pengunjung sepanjang Januari hingga Maret 2019 ini.

Terdapat berbagai spot populer untuk mengamati paus di Jepang, mulai dari pulau Okinawa hingga Rausu yang merupakan desa nelayan di Hokkaido.

Di Rausu, sebanyak 33.451 memesan paket tur kapal untuk pengamatan burung dan paus akhir tahun lalu. Sebagian besar menginap di hotel, makan di restoran milik warga lokal, dan juga membeli produk-produk lokal seperti landak laut dan rumput laut.

"Dari keseluruhan bisnis tur kapal untuk turis, 65 persennya adalah untuk pengamatan paus," ujar Ikuyo Wakabayashi, executive director dari Shiretoko Rausu Tourism Association. Dia mengatakan, jumlah peminat pengamatan paus terus bertambah setiap tahunnya.

Para wisatawan akan memenuhi dek-dek kapal, mereka berteriak kegirangan saat melihat sekelompok orcas muncul saling memercikkan air satu sama lain, berguling dan melompat keluar dari air. Sebuah pemandangan yang indah.

Di Kushiro, hanya 160 kilometer dari selatan Rausu, lusinan orang tertawa dan bersorak di kapal komersial pertama Jepang dalam 31 tahun terkahir, untuk berburu paus.

Saat itu, dua paus minke berhasil diburu dan dibunuh. Situasi ini membuat kapten kapal pengamat paus Masato Hasegawa merasa sangat khawatir.

"Mereka (pemburu paus) tidak akan datang ke daerah ini (Rausu) karena ini adalah taman nasional. Dan paus yang kita lihat hari ini, paus sperma dan orcas bukanlah jenis paus yang mereka buru," ujar mantan nelayan pollock berusia 57 tahun itu.

"Tapi kami juga sebenarnya mengamati minkes (yang menjadi target buruan mereka-red). Jika para pemburu mengambil banyak (minkes) di laut Okhotsk (dekat sini), akan terjadi perubahan yang signifikan dan itu buruk," ujarnya lagi.

WISATAWAN di Rausu, Hokkaido, Jepang mengamati paus yang tengah melompat.*/REUTERS

Industri kecil

Pemerintah Jepang diketahui telah menetapkan untuk mempertahankan daging ikan paus sebagai bagian penting dari budaya makanan negara tersebut. Namun meski begitu. jumlah yang dikonsumsi setiap tahunnya telah menurut menjadi hanya 0,1 persen dari total konsumsi daging.

Jepang di bawah Perdana Menteri Shinzo Abe menarik diri dari Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (International Whaling Commision), dan kembali ke perburuan paus koersial pada 1 Juli lalu.

Atas keputusan tersebut, para pendukung perburuan paus di Jepang menyambut gembira.

"Kami tertahan selama 31 tahun. Tapi sekarang semuanya terbayar," ujar Kepala Asosiasi Perburuan Paus Kecil Jepang, Yoshifumi Kai, seperti dilaporkan Reuters.

Menurut dia, membangun kembali budaya memakan daging paus tidak akan mudah setelah berpuluh-puluh tahun paus menjadi makanan mahal yang sulit ditemukan. Konsumsi paus menyebar luas setelah perang dunia kedua, ketika Jepang yang miskin membutuhkan protein murah. Namun budaya ini jatuh sekitar awal 1960-an, ketika jenis daging lainnya mulai bermunculan dengan harga lebih terjangkau.

"Jepang memiliki begitu banyak jenis makanan, bahkan sampai makanan terbuang percuma. Jadi kami tidak berjarap permintaan ikan paus akan meningkat secepat itu," ujar Kazuo Yamamura, presiden Asosiasi Penangkapan Ikan Paus Jepang. 

Dia menyebut, jika budaya mengkonsumsi daging paus ditinggalkan, makan orang-orang akan lupa bahwa paus juga merupakan salah satu sumber makanan.

Menolak tradisi

Meski perburuan paus kembali digalakan di Jepang, namun orang-orang di Rausu menolak untuk mengikuti tradisi tersebut. Restoran dan hotel yang ada di sana bahkan menghindari untuk menyajikan daging paus dalam menu mereka.

"Kami kedatangan banyak anak-anak saat liburan musim panas. Jika Anda memberi tahu mereka di atas kapal pengamatan paus, bahwa yang mereka lihat adalah paus-paus yang mereka makan tadi malam, mereka akan menangis," ujar Hasegawa, seorang nelayan generasi keempat yang memulai bisnis perahu wisata pengamatan paus sejak 2006 silam.

Wisata pengamatan paus telah mengubah sudut pandang warga Rausu untuk memilih hidup berdampingan dengan paus. Bukan memburunya.***

Bagikan: