Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 25.3 ° C

Perempuan Gratis Naik Bus, Warga Protes

Huminca Sinaga
ILUSTRASI bus gratis.*/FREEPIK
ILUSTRASI bus gratis.*/FREEPIK

NEW DELHI, (PR).- Sonakshi Dogra, mahasiswi jurusan politik di India, meminta pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan menggratiskan semua wanita yang naik metro dan bus setempat. Menurut Sonakshi, jika kebijakan itu diimplementasikan, ini akan menimbulkan ketidakadilan. 
 
"Tak masuk akal. Mengapa hanya wanita? Bagaimana dengan pelajar dan pekerja pria? Wanita tidak bisa meminta kesetaraan gender, kemudian mendukung ketidaksetaraan dalam transportasi umum, " katanya dengan tegas, seperti dilansir The Guardian awal pekan ini.

Dogra memasuki stasiun Ashram dengan tiga teman pria sekampus. Mereka menghabiskan sekitar 4.000 rupee (Rp 800 ribu) setiap bulan hanya untuk transportasi. Teman pria Dogra, Gaurav Verma mengatakan: "Dimana bentuk keadilan jika saya membayar dan Sonakshi tidak? Kami telah meminta kepada pemerintah Delhi untuk memberikan keringanan ongkos bagi pelajar yang menggunakan metro. Pemerintah justru tidak menerima dan malah melakukan ini?."

Rencana pemerintah yang akan menggratiskan semua penumpang wanita yang naik metro itu telah menimbulkan kekesalan di kalangan warga India, bukan hanya kaum pria, melainkan juga wanita, seperti yang disuarakan Sonakshi. Mereka menilai kebijakan itu diskriminatif.

Sementara pemerintah Delhi berkukuh akan menerapkan kebiakan penggratisan ongkos metro dan bus untuk kaum perempuan. Pemerintah menilai bahwa diskriminasi positif yang akan dilakukan pihaknya, justru akan membuat perempuan aman berpergian kemanapun di Delhi. 

Dilansir The Guardian, Senin, kebijakan penggratisan ongkos metro bagi kaum perempuan itu diinisiasi oleh partai Aam Aadmi yang saat ini berkuasa di New Delhi. 

Bukan solusi terbaik

Sementara itu, Jasmine Shah, wakil ketua Komisi Dialog dan Pembangunan Delhi, mengatakan: “Transportasi umum, terutama metro, adalah bentuk transportasi teraman bagi wanita. Banyak wanita yang tidak mampu membayar ongkos metro, sehingga mereka harus berjalan jauh ke tempat kerja atau jauh ke halte bus. Terkadang mereka menggunakan becak atau layanan mobil omprengan yang tidak aman."

Shah adalah orang pertama yang mengakui bahwa angkutan umum gratis bukanlah solusi terbaik. Faktor lain seperti ketertiban, penerangan jalan, perubahan sikap pria - juga sangatlah penting. Meskipun kehadiran lebih banyak wanita di transportasi umum, seperti metro akan membuat wanita merasa lebih aman, tetapi begitu wanita keluar dari stasiun, mereka berada di jalan dan ruang publik yang tidak aman. Namun, kata Shah, ini adalah sesuatu yang dapat pemerintah Delhi lakukan saat ini.

Masih kata Shah, akan sama baiknya dan adil, jika pemerintah Delhi menurunkan ongkos transportasi metro. Kenaikan tarif metro sampai 100 persen pada tahun 2017 lalu menjadi pukulan besar bagi masyarakat miskin dan kelas menengah ke bawah.

“Ini akan menjadi hal yang paling logis untuk dilakukan, tetapi kami tidak dapat membuat keputusan untuk menurunkan tarif sendiri. Itu tergantung pada Ppemerintah juga, dan ketika kami mencoba pada tahun 2017 untuk menghentikan kenaikan, kami gagal meyakinkan mereka,” kata Shah kepada The Guardian.

Perubahan besar

Bahkan, sejak kenaikan tarif 100 persen dua tahun lalu, metro telah mengalami perubahan besar. Ketika dibuka pada tahun 2004, metro di Delhi langsung menjadi sumber kebanggaan warga setempat. Pasalnya, saat itu India memiliki infrastruktur kelas dunia, seperti yang dimiliki negara-negara di Eropa, Australia, AS dan negara maju lainnya. 

Jaringannya saat itu masih baru, kereta-kereta pun berangkat dan tiba tepat waktu, stasiun-stasiunnya pun luas dan terang benderang. Tarifnya juga cukup murah untuk dinikmati orang miskin secara massal. Kini, tepatnya sejak 2017, ongkos metro mencekik leher kaum kelas menengah ke bawah.

Sebelumnya, transportasi umum di Delhi adalah pembagi kelas,dimana orang kaya menghindari bus dan kereta api lokal karena menjadi transportasi umum untuk orang miskin. Namun sejak 2004, Metro mengubah semua. Karena sistem metro efisien dan nyaman, orang kaya pun mulai menggunakannya. Transportasi metro pun menjadi salah satu ruang demokrasi di India, dimana pekerja konstruksi dan bankir bertemu tanpa memandang kelas sosial. Tidak ada kelas eksekutif seperti di kereta; tidak ada kelas bisnis seperti di pesawat.

Akan tetapi, kenaikan ongkos Metro sampai 100 persen pada 2017 lalu mengubah semuanya. Untuk keluarga berpenghasilan rendah, emreka dapat menghabiskan 25-35% dari pendapatan bulanan mereka di metro. 

“Menggunakan metro sesekali tidak apa-apa untuk perjalanan singkat. Tetapi menggunakannya untuk pergi bekerja ke kantor adalah hal yang sulit, maka saya kembali menggunakan bus beberapa waktu yang lalu, ” kata Martin Faleiro, yang bekerja di salon kecantikan.

Shah menunjukan bahwa orang miskin telah terusir meskipun mereka adalah orang-orang yang paling membutuhkan metro.***

Bagikan: