Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Sistem Senjata Iran Lumpuh

Huminca Sinaga

WASHIGTON, (PR).- Krisis Teluk masih berlangsung antara Iran dan AS setelah AS melakukan serangan siber yang melumpuhkan sistem senjata Iran.

 Dilansir BBC, Minggu 23 Juni 2019, serangan itu dilakukan pada Jumat waktu setempat. Namun, media baru melaporkan hal itu pada Sabtu waktu setempat atau Minggu WIB.

Serangan siber dilakukan tak lama setelah Trump membatalkan opsi militer terkait serangan Iran terhadap drone AS di dekat perairan Oman. 

 Pascaserangan Iran terhadap pesawat nirawak AS pada Kamis pekan lalu, ketegangan di Teluk sempat mengeskalasi. Namun, ini mereda setelah Presiden Donald Trump membatalkan serangan balasan terhadap Iran dengan alasan mencegah kematian 150 warga Iran yang bisa jadi korban.

Dilansir The Guardian, Trump semula memerintahkan militernya untuk menyerang Iran, tetapi beberapa jam sebelum serangan itu dilakukan, dia membatalkan itu. Masih dalam laporan The Guardian, Trump menyebutkan, harga yang dibayar AS akan sangat mahal jika dia bersikukuh dengan opsi militer.

Apalagi, kata Trump, Iran menembak pesawat tak berawak. Dengan kata lain, tak ada korban jiwa dalam serangan Iran Rabu pekan lalu itu.

Sementara jika dirinya bersikukuh dengan opsi militer, maka kata Trump, akan ada 150 warga Iran yang jadi korban.

Sistem lumpuh

Terkait serangan siber AS terhadap Iran, BBC yang mengutip laporan Washington Post, menyebutkan bahwa aksi itu melumpuhkan sistem komputer yang mengendalikan peluncur roket dan rudal Iran.

Sementara New York Times menyebutkan, serangan itu sebagai balasan atas penembakan pesawat tak berawak AS serta serangan terhadap kapal tanker minyak yang dipersalahkan AS atas Iran.

AS juga telah menjatuhkan sanksi yang digambarkan Presiden Trump sebagai "besar".

Dia mengatakan sanksi itu diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, dan tekanan ekonomi akan dipertahankan kecuali Teheran mengubah arah.

Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara penting dunia pada tahun lalu, dan menerapkan kembali sanksi, yang memicu krisis ekonomi di Iran.

Pekan lalu Iran mengatakan program nuklirnya akan melampaui batas yang disepakati secara internasional.

Trump mengatakan dia tidak ingin perang dengan Iran, tetapi memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi "pemusnahan" jika konflik pecah.

Terkait serangan siber AS, media-media AS menyebutkan, serangan itu telah direncanakan selama beberapa minggu,  dan dinyatakan sebagai cara untuk menanggapi serangan terhadap kapal tanker di Teluk Oman.***

Serangan itu ditujukan pada sistem senjata yang digunakan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps, IRGC) Iran, yang menembak jatuh pesawat nirawak AS pada hari Kamis lalu, dan yang menurut AS juga menyerang kapal tanker di Teluk Oman awal Juni lalu.

Baik Washington Post dan kantor berita AP yang dikutip BBC, mengatakan serangan siber AS telah melumpuhkan sistem senjata Iran. The New York Times mengatakan serangan itu dimaksudkan untuk membuat sistem offline untuk jangka waktu tertentu.

 Di pihak lain, seperti dilaporkan Reuters, Minggu, Jepang, Jerman dan Rusia ingin memediasi agar konflik antara Iran dan AS mereda. Dalam hal ini, PM Jepang Shinzo  Abe dalam waktu dekat. Abe mengatakan, hubungan Jepang dengan Iran selama ini sangat baik. Begitu juga hubungan Jepang dengan AS.***

Bagikan: