Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Donald Trump Jadi Nama Desa di Dataran Tinggi Golan

Tim Pikiran Rakyat
ISRAEL merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam perang pada 1967.*/REUTERS
ISRAEL merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam perang pada 1967.*/REUTERS

TEL AVIV, (PR).- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meresmikan Dataran Tinggi Trump, satu desa baru di Dataran Tinggi Golan, wilayah yang direbut Israel dari Suriah dalam perang pada 1967.

Saat meresmikan desa, Netanyahu mengatakan nama Trump dipakai sebagai bentuk terima kasih dan penghargaan atas keputusan Trump "mengakui secara resmi kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan" pada Maret 2019.

"Desa ini memiliki makna simbolik yang sangat penting ... Amerika Serikat adalah sahabat Israel. Kami bangga bisa menamakan desa ini Dataran Tinggi Trump," kata Netanyahu, seperti dilansir BBC.

Mewakili Presiden Trump, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, David Friedman, mengatakan terima kasih atas keputusan pemerintah Israel.

Ia menggambarkan penamaan desa ini sebagai "penghormatan yang bersejarah".

Ia menambahkan dalam 70 tahun terakhir hanya ada dua presiden Amerika yang menjadi nama tempat. Yang pertama adalah Harry Truman dan yang kedua Donald Trump.

Desa di Dataran Tinggi Golan ini masih kosong. Belum ada rumah-rumah yang dibangun.

Hanya papan nama "Dataran Tinggi Trump" dan logo bendera Israel dan Amerika yang terlihat di papan nama tersebut.

Pihak-pihak yang mengritik peresmian desa menyebutnya sebagai "aksi publisitas yang tidak memiliki landasan hukum sama sekali".

Dataran Tinggi Golan adalah wilayah seluas 1.000 kilometer persegi yang berada sekitar 60 kilometer di barat daya ibu kota Suriah, Damaskus.

Israel merebut Dataran Tinggi Golan di tahap akhir perang pada 1967. Suriah mencoba merebut kembali wilayah ini pada 1973, namun dihalau militer Israel.

Setahun kemudian, kedua negara setuju untuk tidak mengambil tindakan militer dan menyepakati zona demiliterisasi sepanjang 70 kilometer yang diawasi oleh pemantau PBB. Namun secara teknis kedua negara masih berperang.

Aneksasi

Pada 1981, parlemen Israel meloloskan undang-undang yang menjadi dasar "pemberlakuan sistem hukum, yuridiksi dan pemerintahan Israel' di Dataran Tinggi Golan.

Undang-undang ini pada praktiknya adalah aneksasi Israel atas wilayah tersebut namun masyarakat internasional tidak mengakui undang-undang ini dan berpendapat bahwa Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah yang diduduki Israel.

Resolusi PBB Nomor 497 menyatakan keputusan Israel batal dan tak punya efek secara hukum internasional.

Suriah selalu menyatakan bahwa mereka tidak akan menyepakati perjanjian damai dengan Israel kecuali jika Israel mundur dari seluruh wilayah Golan.

Perundingan terakhir Israel-Suriah yang dimediasi Amerika pada 2000 berakhir tanpa kesepakatan.

Setidaknya terdapat ada 30 permukiman Israel di Golan dengan jumlah warga mencapai 20.000.

Hukum internasional tidak mengakui permukiman ini, meski Israel tidak setuju dengan pandangan ini.

Mereka hidup bersama sekitar 20.000 warga Suriah, sebagian besar adalah Arab Druze, yang tidak mengungsi setelah Dataran Tinggi Golan direbut oleh Israel.

Amerika Serikat adalah negara pertama yang mengakui aneksasi Israel atas Golan.***
 

Bagikan: