Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Kanada Larang Plastik Sekali Pakai, Pengusaha Diberi Batas Waktu Penyesuaian sampai 2021

Vebertina Manihuruk
SAMPAH plastik.*/DOK. PR
SAMPAH plastik.*/DOK. PR

OTTAWA, (PR).- Kanada berencana melarang penggunaan sebagian plastik sekali-pakai seperti sedotan, tas dan alat pemotong paling lambat pada 2021. Kebijakan itu dilakukan untuk mengurangi limbah yang tak bisa didaur-ulang dan melindungi samudera dunia. 

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, pada Senin, 10 Juni 2019, mengumumkan tindakan itu dari tepi danau di Gault Nature Reserve di Quebec, kurang dari lima bulan sebelum pemilihan umum nasional. Perubahan iklim dan polusi termasuk dalam masalah utama kampanye untuk proses demokrasi tersebut.

"Jujur saja, sebagai seorang ayah, berat untuk berusaha menjelaskan kepada anak-anak saya. Bagaimana anda menjelaskan ikan paus mati yang terseret arus ke pantai di seluruh dunia, perut mereka dipenuhi oleh tas plastik?" kata Trudeau.

Ia mengatakan, sebagai orang tua, masyarakat berada pada tahap ketika membawa anak-anak ke pantai tapi harus mencari jalan di pasir yang tidak dipenuhi sampah sedotan, styrofoam, atau botol. “Ini masalah, yang harus kita tangani," tambah perdana menteri tersebut, sebagaimana dikutip Reuters, yang dilansir kantor berita Antara di Jakarta, Selasa, 11 Juni 2019.

Aksi nyata Kanada setelah sempat ada pertikaian dengan Filipina dan Malaysia

ILUSTRASI sungai masih dijadikan tempat pembuangan sampah.*/DOK. KABAR BANTEN

Tindakan Kanada itu mengikuti tindakan Parlemen Eropa, yang awal tahun ini melakukan pemungutan suara untuk melarang beberapa produk plastik sekali-pakai. Selain itu, ada pula pertikaian baru-baru ini dengan Filipina dan Malaysia mengenai limbah Kanada yang dikirim ke kedua negara itu.

Tahun lalu, Kanada menaja atau memelopori piagam plastik samudra G7 yang dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan plastik. Pada Mei 2019, PBB menyatakan 180 negara mencapai kesepakatan untuk mengurangi secara tajam jumlah plastik yang hanyut ke samudera.

Kanada melakukan itu sampai batas tahun 2021 supaya memberi waktu untuk membuat keputusan yang didasarkan atas ilmu pengetahuan mengenai plastik mana yang berbahaya buat lingkungan hidup dan kesehatan manusia. Itu juga akan memberi pengusaha waktu untuk menyesuaikan diri. Misalnya, restoran cepat-saji yang harus menemukan penyelesaian baru untuk sedotan dan pisau plastik.

Kanada belum lama ini terlibat pertikaian politik dengan Filipina sehubungan dengan 1.500 ton limbah rumah tangga --yang secara menyesatkan diberi label sebagai plastik daur-ulang-- yang dikirim ke negara Asia Tenggara tersebut pada 2013 dan 2014. Kanada pun setuju untuk menerimanya kembali, setelah perselisihan diplomatik yang berlarut.

Malaysia juga menyatakan akan mengembalikan 3.000 ton limbah plastik. Limbah itu dikirim dari Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris.

"Masalah polusi plastik akan terus dipandang sebagai masalah buat negara berkembang, yang merasa mereka ditimbuni limbah dari negara kaya --yang mesti mengurus limbah mereka sendiri di dalam negeri mereka," kata Sara Seck, profesor hukum di Dalhousie University.***

Bagikan: