Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 16.4 ° C

Pengalaman Pelajar Sukabumi Berpuasa Ramadan di Oregon

Huminca Sinaga

MAKANAN sahur dan berbuka puasa yang dinikmati Muhammad Alfian Ramadhan di Oregon, Amerika Serikat.*/DOK. PRIBADI
MAKANAN sahur dan berbuka puasa yang dinikmati Muhammad Alfian Ramadhan di Oregon, Amerika Serikat.*/DOK. PRIBADI

OREGON, (PR).- Berpuasa di negara orang adalah sesuatu yang tidak susah. Namun, juga tidak mudah, khususnya di kota kecil di Amerika Serikat, sebagaimana yang dirasakan remaja asal Sukabumi, Muhammad Alfian Ramadhan, yang saat ini berada di Oregon untuk mengikuti program pertukaran pelajar Youth Exchange & Study (YES) 2018-2019 yang disponsori Pemerintah Amerika Serikat.

Berikut ini Muhammad Alfian menuliskan pengalamannya saat menjalankan puasa di Negeri Paman Sam.

Saat ini saya merupakan salah satu peserta program pertukaran pelajar Youth Exchange & Study (YES) 2018-2019 yang disponsori oleh Pemerintah Amerika Serikat. Saya yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, saat ini tinggal di kota Amity, Oregon, kota kecil berpopulasi 1.600 jiwa. Saya sudah berada di sini sejak 9 bulan yang lalu. 

Tidak ada perkumpulan atau komunitas Islam di Amity. Lokasi Masjid yang terdekat ada di ibukota Oregon, Salem, yang berjarak satu jam perjalanan dari kota saya. Tidak adanya transportasi publik dan kesibukan orangtua angkat (host-parents) membuat keadaan sangat susah untuk pergi ke sana. Akan tetapi, saya sudah pernah pergi ke sana dua kali – diantar oleh koordinator – untuk menjalankan ibadah Salat Jumat. 

Di musim semi seperti ini, waktu berpuasa dimulai dari sekitar pukul 3:30-4:00 pagi hingga pukul 8:30-9:00 malam, total kurang lebih 16-17 jam. Waktu berpuasa yang saya ambil adalah waktu yang ditentukan oleh aplikasi Muslim Pro, aplikasi yang sangat membantu saya dalam hal-hal yang berkaitan dengan Islam sehari-hari. Tentu saja waktunya sangat berbeda dengan waktu berpuasa di Indonesia yang berkisar 13 jam.

Untuk membiasakan diri berpuasa, saya mencoba berpuasa satu hari sebelum Ramadan tiba. Ternyata tidak sulit, namun memang ada hal-hal yang membuat berpuasa menjadi tantangan.

Di sini, saya harus mencari berbagai aktivitas pengisi waktu ("ngabuburit" dalam bahasa sunda) dari pulang sekolah sampai waktu berbuka puasa (4-5 jam). Saya tetap melakukan aktivitas olahraga seperti sebelum Ramadan sebagai pengisi waktu. Bermain basket dengan teman-teman, workout di weight room sekolah, jalan keliling track adalah beberapa contohnya. Lalu saya pulang ke rumah dan kumpul bersama keluarga. Saya juga suka membantu di dapur.

Menemani berbuka

Saya berbuka puasa dengan apa yang host parents saya sajikan untuk makan malam. Keluarga angkat (host family) saya selalu menyiapkan makan malam lebih telat dari biasanya di bulan Ramadan sebagai bentuk dukungan kepada saya yang berpuasa, dan mereka juga selalu menyisihkan waktu mereka lebih lama di ruang tamu untuk menemani saya berbuka (jadwal tidur mereka biasanya adalah jam 8 malam). Mereka cukup mengerti tentang Ramadan dari siswa pertukaran pelajar tahun sebelumnya yang juga menjalankan Ramadan.

Selesai saya makan, saya juga selalu menyiapkan sisa makan malam (left over) untuk saya makan waktu sahur nanti. Saya juga kadang memasak sesuatu untuk sahur saya jika memang tidak ada left over makan malam; memperhatikan karbohidrat dan protein karena saya punya tiga kali aktivitas olahraga setiap hari di sekolah.

Berpuasa dalam situasi ini merupakan tantangan buat saya karena waktu yang lebih lama dan suasana yang sangat berbeda. Salat di bulan Ramadan ini juga lebih berat untuk saya dikarenakan waktu. Salat Isya di sini adalah pukul 10 malam. Karena itu, Salat Tarawih saya biasanya sampai sekitar jam 10:30 malam. Saya biasanya Salat Tarawih sendiri di kamar saya. Waktu di bulan Ramadan ini membuat jadwal tidur saya sedikit terlambat, sehingga saya harus pandai membagi waktu dengan baik.
 
Banyak orang-orang di sekolah yang bertanya tentang Ramadan; tentang mengapa kita (Muslim) berpuasa, apa saja yang dilakukan saat berpuasa, apakah masih bisa meminum air, dan lain sebagainya. Jawaban yang saya berikan adalah kami Muslim berpuasa di bulan Ramadan adalah hal yang wajib untuk dilakukan dan untuk mengingatkan diri kita akan segala hal yang kita punya dan belajar untuk menghargai semua hal, seperti makanan; akan terasa sekali bagaimana nilai makanan ketika kita berpuasa.

Saya juga menjelaskan bahwa kita berpuasa dari sebelum sunrise sampai sunset, tidak boleh ada yang kita konsumsi selama itu termasuk air. Mereka pun terkejut ketika saya bilang bahwa air pun tidak boleh. Bagaimanapun juga, mereka tetap menghargai kita yang berpuasa dengan bertanya apakah kita keberatan kalau mereka makan dekat kita. Pihak sekolah juga memberi dukungan berupa penyediaan ruangan untuk Salat Dzuhur di sekolah. Saya merasakan toleransi yang baik.

Secara keseluruhan, berpuasa di sini merupakan sebuah tantangan bagi saya karena perbedaan waktu, suasana, dan kebiasaan Ramadan. Semua hal ini membuat saya rindu dengan Indonesia, dimana "ngabuburit" ramai dilakukan bersama-sama, suasana Ramadan yang sangat terasa, Salat Tarawih bersama teman-teman, street food yang sangat enak, dan jelang waktu yang lebih sebentar.

Hangat rasanya mengingat semua kenangan itu. Tapi semua ini tidak membuat saya sedih dan tidak suka akan kondisi sekarang. Hal ini justru membuat saya tambah bersyukur dan senang karena dapat merasakan perbedaan.***
 

Bagikan: