Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Kami Rita Sherpa Pecahkan Rekor Pendakian Everest

Huminca Sinaga
KAMI Rita Sherpa (48), pendaki asal Nepal melambai pada media pada kedatangannya setelah mendaki Gunung Everest untuk ke-24 kalinya. Jumlah tersebut mencatatkan rekor baru pendakian terbanyak di gunung tertinggi dunia tersebut.*/REUTERS
KAMI Rita Sherpa (48), pendaki asal Nepal melambai pada media pada kedatangannya setelah mendaki Gunung Everest untuk ke-24 kalinya. Jumlah tersebut mencatatkan rekor baru pendakian terbanyak di gunung tertinggi dunia tersebut.*/REUTERS

KATHMANDU, (PR).- Seorang warga Sherpa Nepal mencatat rekor karena mencapai puncak Gunung Everest ke-24 kali pada Selasa, 21 Mei 2019.

Dilansir Reuters, otoritas Nepal mengatakan bahwa sang sherpa dalam sepekan ini telah mendaki dua kali. Namun, itu bukan yang terakhir. Pasalnya, ia sudah menetapkan, masih akan melakukan pendakian lagi sebelum pensiun.

Kami Rita Sherpa (49) mencapai puncak dengan ketinggian 8.850 meter di atas permukaan laut tersebut melalui jalur sempit tradisional di bagian tenggara. Hal itu diungkapkan pejabat Departemen Pariwisata Mira Acharya, seperti dilaporkan Reuters dan dikutip Antara, Selasa, 21 Mei 2019.

Jalur tersebut dipelopori oleh warga Selandia Baru Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay pada 1953 dan tetap menjadi jalur bersalju yang paling terkenal menuju puncak tertinggi di Bumi tersebut.

Dua pendaki lain, keduanya warga Sherpa, masing-masing telah mendaki Puncak Everest 21 kali. Keduanya pensiun dari menjadi pendaki gunung.

Kami, yang menggunakan nama depannya, mengatakan bahwa ia ingin mendaki gunung itu sekali lagi.

"Saya masih kuat dan mau mendaki Sagarmatha ke-25 kali," kata Kami kepada Reuters sebelum berangkat untuk pendakian ke-23. Ia merujuk kepada Gunung Everest dalam Bahasa Nepal. Sagarmatha merupakan bahasa setempat untuk menyebut Puncak Everest.

Biaya mahal

Berdasarkan pengalaman "PR" ke Kathmandu, Nepal beberapa waktu lalu, tak semua orang bisa mendaki Puncak Everest. Dengan ketinggian di atas 8.000 meter, pendaki diwajibkan punya fisik yang kuat. Selain kesehatan, untuk mendaki Everest juga butuh biaya besar. 

Hanya tiket masuknya saja untuk bisa mendaki Everest sampai ke puncak tertinggi, sudah lebih dari Rp 100 juta. Ini belum termasuk biaya oksigen, biaya Sherpa untuk memandu dan memanggul barang bawaan, makanan, penginapan, ongkos pesawat ke Kathmandu.

Seperti dikutip dari laman resmi Kementrian Pariwisata Nepal, harga tiket masuk ke Everest per orang 11.000 dolar AS atau sekitar Rp 145 juta. Jika ini ditambah biaya sherpa, akomodasi, tiket pesawat, oksigen, makanan, peralatan mendaki, maka biaya mendaki per orang menjadi 45.000 dolar AS atau Rp 585 juta per orang.

Tak heran, selama ini orang-orang yang bisa mendaki Everest sampai ke puncak, mayoritas orang kaya asal Eropa dan Amerika. Kalau pun tak kaya, pendaki bisa mendapatkan sponsor dari lembaga dan perusahaan perlatan outdoor, yang juga bukan hal yang gampang untuk bisa diwujudkan.

Meskipun mahal, Everest sangat disukai pelancong, khususnya para pencinta alam dari seluruh dunia. Biaya tiket ini juga menjadi pemasukan utama pemerintah Nepal.

Pariwisata adalah sumber devisa utama di negara yang diapit Tiongkok dan India itu. Karena itu, meski harus membayar ratusan juta sampai miliaran rupiah untuk sampai ke puncak Everest, ini tak membuat warga dunia kehilangan minat mendaki gunung ternama di dunia tersebut.

Saat Nepal dilanda gempa parah pada 2015 lalu, pemerintah sempat membatasi akses ke jalur pendakian Gunung Everest. Kendati saat itu sebagian jalur rusak akibat longsor salju yang menewaskan 18 pendaki saat itu, pemerintah tak menutup jalur pendakian Everest.

Otoritas Nepal saat itu mengatakan, siapapun yang ingin mendaki Everest pascagempa bisa melakukan itu. Meksipun demikian, sejumlah media internasional sempat melaporkan, jalur pendakian ke Everest untuk sementara ditutup pascagempa parah. Namun, ini dibantah pemerintah. 

Katidaktegasan otoritas Nepal soal penutupan jalur Everest itu terjadi lantaran selama ini kawasan pendakian ke Everest merupakan salah satu pemasukan negara terpenting. Dalam hal ini, seperti dilaporkan Reuters, setiap pendaki ke Everest dikenakan biaya  11.000 dolar AS atau Rp 145 juta per orang. 
Saat itu, terdapat 357 orang yang terdaftar dan telah membayar Rp 145 juta per orang untuk melakukan pendakian ke Everest. Para pendaki tersebut sempat bingung akan melanjutkan pendakian atau berhenti dulu. Apalagi mereka telah mengeluarkan biaya yang sangat besar.

Bukan hanya tiket sebesar Rp 145 juta yang masuk ke kantong pemerintah Nepal, melainkan juga biaya lainnya, seperti akomodasi, sewa Sherpa (pemanggul dan juru pandu pendaki yang biasanya berasal dari etnik Sherpa).***

Bagikan: