Pikiran Rakyat
USD Jual 14.670,00 Beli 14.370,00 | Umumnya cerah, 27.7 ° C

Warga London pun Menyerbu Rendang Saat Berbuka

Ella Yuniaperdani
ILUSTRASI Ramadan Tent Project.*/ Thomson Reuters Foundation/Claudio Accheri
ILUSTRASI Ramadan Tent Project.*/ Thomson Reuters Foundation/Claudio Accheri

LONDON, (PR). –  Menu Indonesia ternyata menjadi favorit dalam gelaran acara Open Iftar  yang diadakan Ramadan Tent Project, di Tavistock Square, London, Jumat malam 17 Mei 2019. Buka puasa bersama  kali ini diikuti sekitar  400 orang yang mendapat suguhan menu masakan Indonesia berupa nasi putih berlauk rendang, mi goreng, capcay, dan tahu bumbu rujak .

Konsep Open Iftar ini yaitu buka puasa bersama di bawah tenda besar di pusat kota London. Biasanya dihadiri sekitar 250 orang setiap malam selama Ramadan, sebagian adalah Muslim dari berbagai negara dan tak sedikit non-Muslim, dan yang mengaku tak beragama.

“Jumlah peserta malam ini memecahkan rekor, lebih dari 400 orang hadir mengikuti acara buka puasa ,” kata Omar Salha, pendiri Ramadan Tent Project, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Jumlah peserta buka puasa Open Iftar di Tavistock Square setiap hari biasanya di kisaran 200 hingga 300 orang. Tapi dalam buka puasa hari Jumat malam peserta membeludak. Banyak di antara mereka yang tahu akan ada menu masakan Indonesia berkat cuitan yang diunggah anggota panitia beberapa hari sebelumnya.

“Terima kasih sudah menyediakan rendang. Sungguh lezat,” kata Mokhar, peserta Ramadan iftar ini. Mohammad, warga London yang hampir 20 tahun menetap di London menyampaikan hal serupa. “Enak sekali. Tak rugi saya mengajak beberapa rekan untuk datang di buka puasa hari ini,” kata Mohamad. Esat, warga London berasal dari Turki mengatakan rendang adalah salah satu makanan paling enak yang pernah ia rasakan. “Kapan akan ada menu Indonesia di Open Iftar?” tanyanya.

Menu masakan Indonesia ini disediakan oleh keluarga Indonesia yang ada di London bekerja sama dengan organisasi bantuan kemanusiaan Human Aid Initiative (HAI) dengan warga Muslim Indonesia, dan komunitas pengajian di London.

Direktur HAI Nurani Susilo mengatakan, ini untuk ketiga kalinya HAI dan warga serta komunitas pengajian Indonesia di London menyediakan rendang untuk peserta Open Iftar. “Ini menjadi bagian dari upaya kami untuk lebih mengenalkan Indonesia di forum lintas agama dan lintas negara di London,” ujar Nurani.

HAI adalah organisasi sosial yang didirikan warga Indonesia di Inggris dan sejak 2017 sudah terdaftar resmi di Charity Commission, payung resmi organisasi-organisasi sosial di Inggris.

Dikatakannya pada bulan Ramadan kali ini HAI mengadakan program bantuan food aid dan iftar di beberapa wilayah yang terkena dampak bencana di Indonesia, dan di kamp pengungsi Rohingya di Cox Bazaar, Bangladesh.

Acara serupa dilaksanakan di berbagai kota

Ramadan Tent Project menyelenggarakan buka puasa bersama sejak tahun 2013. Di awal berdirinya, hanya ada sekitar 50 orang, kebanyakan mahasiswa. Kini, buka puasa yang dihadiri tidak kurang dari 70.000 tamu, dan acara serupa telah melebar hingga ke berbagai kota di Inggris seperti Birmingham, Manchester dan juga ke Portland di Amerika Serikat dan Istanbul di Turki.

Acara dimulai dengan materi singkat oleh pembicara yang berganti setiap malam. Para pembicara ini adalah tokoh Muslim dan perwakilan berbagai organisasi di Inggris. Setelah berbuka puasa dengan kurma dan air putih serta makanan kecil, acara dilanjutkan dengan dengan salat Magrib berjamaah dan diakhiri dengan makan malam.

Nama-nama terkenal pernah menjadi pembicara di Open Iftar ini, mulai dari Wali Kota London Sadiq Khan, cendekiawan Muslim Tariq Ramadan, pemain Liga Primer, hingga aktivis dan politisi.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lokasi Open Iftar 2019 untuk sepuluh hari terakhir akan berpindah-pindah. Di antaranya akan digelar di kompleks Westminster Abbey, pelataran Stadion Wembley, dan lapangan terkenal di London, Trafalgar Square.

Omar Salha mengatakan Open Iftar antara lain ditujukan untuk membuka dialog antarumat beragama di London. “Semuanya boleh datang untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang apa saja,” katanya. Ia menjelaskan slogan organisasi yang ia pimpin adalah turning strangers into friends atau mengubah orang asing menjadi kawan. “Dan saya senang, prakarsa saya dan kawan-kawan ini mendapat sambutan hangat,” tutur Omar Salha.***

 

Bagikan: