Pikiran Rakyat
USD Jual 14.670,00 Beli 14.370,00 | Umumnya cerah, 24.4 ° C

Facebook Perketat Aturan Live-Streaming Setelah Teror Christchurch

Tim Pikiran Rakyat
null
null

NEW YORK, (PR).- Facebook mengumumkan akan perketat aturan seputar fitur live-streaming setelah serangan teror  di Selandia Baru. Perusahaan tersebut memperkenalkan kebijakan "one-strike" untuk penggunaan Facebook Live. Hal ini demi membatasi akses bagi mereka yang berbuat melanggar aturan.

Kebijakan ini segera diambil setelah peristiwa penembakan di dua masjid Christchurch pada bulan Maret. Kejadian yang menewaskan 51 orang tersebut disiarkan langsung di situs media sosial oleh seorang pria bersenjata.

Dilansir dari Sky News 15 Mei 2019, menjelang pertemuan puncak tentang ekstremisme online di Paris, Facebook akan mengumumkan fitur terbaru. Pada acara yang juga dihadiri oleh para pemimpin dunia itu, Pihaknya memperkenalkan kebijakan "one-strike" untuk penggunaan Facebook Live. Facebook ingin membatasi akses bagi orang-orang yang melanggar aturan serius di mana pun pada  situsnya. .

Facebook mengatakan, “Pelanggar pertama kali akan ditangguhkan dari menggunakan Live untuk jangka waktu tertentu.” Ini juga memperluasjangkauan serangan  yang termasuk untuk penangguhan one-strike.

Perdana Menteri Theresa May, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau adalah para pemimpin yang rencanaya akan menghadiri KTT Paris. May sendiri akan bertemu dengan mantan rekan koalisinya di pemerintah, Nick Clegg. Clegg sekarang telah menjadi eksekutif Facebook.

KTT ini juga akan dihadiri Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, dan PM Irlandia Leo Varadkar. Para pimpinan perusahaan IT seperti Twitter, Google, Microsoft dan Wikipedia juga turut hadir.

Tujuan pertemuan ini adalah untuk meningkatkan upaya internasional dalam penghentian media sosial yang digunakan untuk mengatur dan mempromosikan terorisme. Janji bersama, "Christchurch Call To Action", untuk menghapus konten teroris dan ekstremis daring akan ditandatangani.

Menjelang KTT, May mengatakan, "Serangan pada jamaah Muslim di Christchurch sungguh mengejutkan dunia.” May menambahkan, "1,5 juta salinan video itu harus dihapus oleh Facebook. Masih dapat pula ditemukan di YouTube selama delapan jam setelah pertama kali diposting. Ini adalah pengingat bahwa kita perlu berbuat lebih banyak untuk menghapus konten ini. Menghentikan perbuatan ini masuk ranah daring merupakan langkah awal”.

Ia juga berpesan kepada para tamu yang rencananya akan hadir, "Pesan saya kepada pemerintah dan perusahaan internet di Paris adalah bahwa kita harus bekerja bersama dan memanfaatkan kemampuan teknis gabungan kita untuk menghentikan setiap pembagian konten yang penuh kebencian seperti ini."

Mengenai perlunya tindakan internasional, dia May juga mengatakan, "Saya ingin internet menjadi tempat yang aman bagi semua warga negara." Internet bersifat global dan ancaman online tidak memiliki batas. Perusahaan harus memegang standar internasional yang konsisten, sehingga pelanggan mereka menikmati tingkat perlindungan yang sama di mana pun mereka tinggal," Pungkasnya. (JT-Fathini Sabrina Azzahra)***

Bagikan: