Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Sebagian berawan, 20.2 ° C

Hubungan Amerika Serikat-Iran Memanas

Huminca Sinaga
Refleksi Baghdad, Ibu Kota Irak terlihat di kaca mata kru helikopter militer Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.*/REUTERS
Refleksi Baghdad, Ibu Kota Irak terlihat di kaca mata kru helikopter militer Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.*/REUTERS

BAGHDAD, (PR).- Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad telah memerintahkan semua staf yang tidak penting dan tidak darurat untuk segera meninggalkan Irak. Hal ini dilakukan seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Iran.

Lokasi Irak dan Iran yang berbatasan darat membuat Amerika Serikat khawatir warga negaranya di Baghdad bisa menjadi target serangan negara mullah. 

Pekan lalu, Washington mengatakan telah mendeteksi ancaman baru dan mendesak dari Iran dan pasukan penggantinya di kawasan Timur Tengah yang menargetkan warga Amerika dan kepentingan nasional Amerika Serikat.

Namun, seperti dilansir The Guardian, Rabu, 15 Mei 2019, pernyataan itu bertentangan dengan komentar Mayor Jenderal Chris Ghika, perwira senior Inggris di koalisi internasional melawan ISIS.

Menurut Ghika, tidak ada peningkatan ancaman pasukan Iran, baik itu di Suriah maupun Irak, sebagaimana dikhawatirkan pemerintah Trump yang membuat sejumlah staf Kedubes di Baghdad diminta segera keluar dari Irak. "Tidak ada peningkatan ancaman dari pasukan yang didukung Iran di Irak dan Suriah," ujar Ghika kepada The Guardian.

Tak lama setelah Ghika melontarkan pernyataan itu, Komando Sentral AS mengatakan bahwa pernyataan perwira senior Inggris itu  "bertentangan dengan ancaman kredibel yang diidentifikasi" dari pasukan yang didukung Iran di Timur Tengah. Dalam sebuah pernyataan tertulis, dikatakan bahwa koalisi di Baghdad telah meningkatkan level  siaga untuk semua anggota mereka  di Irak dan Suriah.

Perintah itu datang ketika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan ancaman terselubung dalam pidato di mana ia mengatakan "tidak ada yang mencari perang". Dia menyebutkan, tidak akan sulit bagi Republik Islam untuk memperkaya uranium ke tingkat pembuatan senjata. 

Komentar Khamenei ini dilontarkan untuk merespons serangan pesawat nirawak terkoordinasi oleh pemberontak Houthi di Yaman pada pipa minyak Saudi. Gambar satelit menunjukkan salah satu dari dua stasiun pompa yang ditargetkan oleh pesawat tanpa awak itu, tak terlihat rusak.***

Bagikan: