Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.3 ° C

Nepal Melarang Permainan PUBG

Huminca Sinaga
ILUSTRASI./ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI./ DOK. PIKIRAN RAKYAT

KATHMANDU, (PR).-  Nepal menjadi negara terkini yang melarang permainan daring PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG).  Permainan ini dianggap mengandung konten kekerasan yang dapat memberikan pengaruh negatif terhadap anak.

PUBG merupakan sebuah permainan daring yang dibuat oleh Bluehole Inc dari Korea Selatan. Permainan ini pertama kali diluncurkan di tahun 2017 hingga kini memiliki pemain dari seluruh dunia. Dalam permainan tersebut, para pemain yang berjumlah 100 orang dijatuhkan di sebuah pulau dan mereka harus berperang untuk mempertahankan diri. Pemain atau tim terakhir yang berhasil bertahan akan memenangkan permainan.

Dilansir Channel News Asia, pada Kamis pekan lalu, NTA mendesak seluruh penyedia layanan internet di Nepal untuk memblok trafik internet yang berasal dari server PUBG.

“Kami telah mengeluarkan larangan bermain PUBG karena permainan tersebut membuat anak dan remaja kecanduan,” ungkap Sandip Adhikari yang merupakan wakil direktur Badan Regulasi Telekomunikasi Nepal atau Nepal Telecommunications Authority (NTA) kepada Reuters.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa pelarangan mulai diberlakukan pada hari Kamis 11 April 2019.

Juru bicara NTA Min Prasad Aryal mengatakan, pelarangan tersebut berawal dari rekomendasi Kepolisian Daerah Metropolitan (MPDC) Teku, yang mendapat sejumlah laporan dari sekolah dan wali murid yang mengatakan bahwa permainan daring tersebut membuat siswa kecanduan. MPDC mengatakan bahwa dalam sebulan terakhir mereka telah mendapatkan laporan dari delapan sekolah dan 25 orang tua murid.

“Berdasarkan laporan, kami mengadakan sebuah penelitian terhadap pengaruh jelek dari permainan tersebut dan pelarangan yang telah diberlakukan di sejumlah negara di India. Kami telah meminta persetujuan Pengadilan Negeri Kathmandu sebelum akhirnya memberikan rekomendasi terhadap NTA untuk melarang permainan tersebut,” ungkap Kepala Inspektur Senior MPDC Dhiraj Pratap Singh seperti yang dikutip oleh The Himalayan Times.

Meski begitu, sejumlah ahli menganggap pelarangan tersebut tidak mungkin dan bukanlah sebuah solusi.

Subhaprabhat Bhandari dari Federation of Nepali Guardians Coordinator menekankan pentingnya mengajarkan murid, orang tua, dan guru bagaimana caranya menggunakan internet.

“Anak sekarang sudah paham teknologi sehingga mereka dapat dengan mudah mencari jalan keluar. Kita dapat menangani masalah (kecanduan) ini apabila kita dapat membimbing anak untuk menghindari permainan itu dengan sendirinya,” ujarnya.

Hal yang serupa juga disampaikan pihak penyedia layanan internet seperti Sudhir Parajuli dari Subisu, salah satu penyedia layanan internet di Nepal. Ia mengatakan bahwa pelarangan tersebut tidak efektif karena pemain yang kecanduan bermain PUBG dapat tetap mengakses permainan tersebut dengan mudah menggunakan Jaringan pribadi virtual atau VPN.

Membuat kecanduan

Seorang psikolog bernama Gopal Dhakal mengungkapkan bahwa orang dewasa juga bisa kecanduan bermain PUBG. Ia menyebutkan bahwa dirinya menerima kasus di mana seseorang tidak dapat berkonsentrasi saat bekerja karena kecanduan PUBG.

Kecanduan pada anak menurutnya lebih dikarenakan kurangnya kesadaran orang tua dan guru. “Orang tua memberikan ponsel pintar kepada anak untuk menenangkan anak-anak. Masalah ini tidak akan selesai sebelum pemain, orang tua, dan guru mendapatkan bimbingan,” ungkapnya.

Santosh Sigdel yang memimpin gerakan pembebasan internet Nepal mengungkapkan bahwa pelarangan tidak cukup untuk dijadikan solusi masalah ini, tapi perlu juga didampingi pendidikan bagaimana menggunakan internet.

“Perlu adanya diskusi mengenai penggunaan internet secara sehat,” ujarnya.***

Bagikan: