Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

Jangan Sepelekan Rasa Sakit Menstruasi

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BERDASARKAN penelitian di Belanda, seringkali para wanita yang menderita rasa sakit dan pendarahan hebat akibat datang bulan tidak pernah memberitahu keluarga serta dokter mereka. Bahkan, seperti dilansir Channel News Asia yang  mengutip Reuters, walaupun penderitaan yang mereka rasakan sampai mengganggu aktifitas mereka, mereka tetap bungkam mengenai hal ini.

Di antara 43.000 gadis dan wanita yang menanggapi hasil sigi nasional secara daring, 85% mengatakan bahwa mereka menderita rasa kram yang menyakitkan ketika sedang datang bulan, 77% memiliki gejala gangguan mood, dan 71% merasakan rasa kelelahan.

Lebih dari sepertiga dari responden mengatakan bahwa gejala menstruasi dapat menghentikan mereka dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Namun, kurang dari setengah dari mereka yang mengatakan pada anggota keluarga bahwa gejala menstruasi lah yang menjadi alasan mereka beristirahat dari tugas sehari-hari.

“Kami pikir ada tabu dalam membicarakan mengenai menstruasi, terutama karena para perempuan berpendapat bahwa hal ini seharusnya hal yang normal dalam kehidupan. Mereka pikir masalah ini tidak bisa seenaknya didiskusikan secara terbuka,” jelas Dr. Mark Schoep, kepala penulis penelitian dari Universitas Medis Pusat Radboud, kota Nijmegen, Belanda.

Beberapa masalah yang harus mereka hadapi ketika masa datang bulan adalah perubahan mood, rasa sakit, rasa lelah, dan sebagainya. Semua gejala itu tidak gampang terlihat dan tidak bisa diidentifikasi secara objektif melalui tes medis, ujar Schoep melalui email.

“Rasa sakit, rasa lelah, dan permasalahan psikologis dapat mengganggu para perempuan dalam kegiatan kesehariannya bahkan hingga kinerja mereka menurun dan mereka tidak bisa berkegiatan normal seperti biasanya,” ujar Schoep. 

“Pendarahan hebat dalam masa menstrasi berkemungkinan menghalangi mereka dalam melakukan kegiatan sosial dan pekerjaan mereka," ujarnya lagi.

Studi ini merekrut peserta survei pada tahun 2017 melalui platform media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Sekitar dua dari lima partisipan mengatakan bahwa mereka menggunakan obat penghilang rasa sakit dalam upaya meredakan rasa sakit gejala menstruasi.

Menurut laporan dari Jurnal Amerika dalam obstetri dan ginekologi, secara keseluruhan, 44% telah berkonsultasi dengan dokter umum mereka mengenai gejala datang bulan, dan 11% telah dirujuk untuk pergi ke dokter kandungan.

Sekitar satu dari 10 telah didiagnosis dengan kondisi medis yang dapat mempengaruhi gejala menstruasi mereka seperti endometriosis, sindrom ovarium polikistik, atau permasalahan tiroid.

“Penting bagi para perempuan untuk mengetahui jika gejala menstruasi mereka sampai mengganggu kegiatan sehari-hari, maka mereka perlu mencari bantuan medis,” ujar Dr. Trine Stanley Karlsson dari Rumah Sakit Universitas Karolinska di Stockholm, Swedia.

Terkadang kondisi medis dapat diidentifikasi dan diatasi, “tapi banyak gejala yang meski tanpa dasar kondisi medis, tetap bisa dengan mudah diobati,” ujar Karlsson, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, melalui email.

Penelitian ini bukanlah percobaan terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah dan bagaimana gejala datang bulan mengganggu keseharian para perempuan. Mereka juga tidak mencari tahu apa yang menyebabkan gejala tersebut.

Tetap saja, hasil yang didapatkan seharusnya dapat meyakinkan mereka yang menderita akibat gejala menstruasi bahwa mereka tidak sendirian, dan bahwa masalah medis yang mereka hadapi dapat diobati, kata Dr. Andrea Lukes, pemilik Pusat Penelitian Kesehatan Wanita di Durham, Carolina Utara.

Lukes juga menjabat sebagai peneliti utama dalam sejumlah studi yang berkaitan degnan siklus menstruasi untuk beberapa perusahaan – salah satunya termasuk Abbvie, Myovant, Bayer, Gynesonics, Ferring, dan Merck.

“Semoga hasil penelitian ini akan mendorong para perempuan – baik muda ataupun tua – untuk membahas masalah ini dengan dokter mereka,” harap Lukes, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, melalui surel.

“Ada banyak obat yang dapat meredakan beban siklus menstruasi, dan para perempuan sebaiknya didukung untuk mencari solusi medis," ujarnya.***

Bagikan: