Pikiran Rakyat
USD Jual 14.007,00 Beli 14.105,00 | Umumnya cerah, 25.8 ° C

Setelah 30 April 2019, Kaisar Akihito akan Menghilang

Huminca Sinaga
KAISAR Akihito.*/THOMAS PETERS/REUTERS
KAISAR Akihito.*/THOMAS PETERS/REUTERS

TOKYO, (PR).- Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko yang biasanya menjadi sorotan masyarakat Jepang, akan menghilang dalam masa pensiun setelah turun tahta tanggal 30 April nanti.

Dilansir Channel News Asia yang mengutip Reuters, Rabu  10 April 2019, hari-hari pasangan kerajaan Jepang ini sudah dari lama selalu sibuk. Biasanya mereka menyelenggarakan ratusan upacara dan audiensi setiap tahunnya, melalukan minimal tiga perjalanan domestik pertahun, dan mengunjungi lebih dari 50 negara.

Hampir semua kegiatan tersebut akan berakhir setelah Putra Mahkota Naruhito naik tahta menjadi kaisar pada 1 Mei nanti setelah Kaisar Akihito turun dari tahtanya, dimana beliau telah memerintah dari tahun 1989 hingga 2019.

“Kaisar yang baru harus menjadi simbol baru,” ujar Makoto Watanabe, mantan ajudan Akihito. “Kaisar Akihito menghabiskan waktunya memikirkan dengan serius mengenai bagaimana cara menghindari masalah otoritas ganda. Kesehariannya ini akan sepenuhnya berhenti.”

Pasangan kerajaan yang akan pensiun, dikenal sebagai kaisar emeritus dan permaisuri emerita, akan kembali ke Istana Togu, dimana sebelumnya mereka tinggal sebelum Akihito menjadi kaisar. Namun, sebelum itu mereka akan tinggal di kediaman kekaisaran yang sedang kosong dikarenakan Istana Togu sedang direnovasi.

Jumlah pelayan yang mereka miliki akan menjadi lebih sedikit, tapi pemerintah masih akan membiayai biaya hidup mereka.

Beberapa kenalan mengatakan bahwa Permaisuri Michiko tidak akan terlalu bingung tentang bagaimana kelak beliau akan mengisi hari-hari pensiunnya, beliau memiliki banyak minat, diantaranya musik dan sastra. Akan tetapi sang kaisar mungkin akan menghadapi tantangan yang lebih besar, karena fokus sepenuhnya habis oleh pekerjaan.

Tantangan usia

Teman-teman Akihito berharap beliau bisa memiliki waktu untuk menikmati olah raga tenis yang beliau cintai, tapi hal itu akan menjadi tantangan mengingat usianya.

“Ia tidak bermain (tenis) akhir-akhir ini,” ujar Kazuo Oda, seorang penggemar tenis yang hadir ketika Akihito dan Michiko bertemu pada tahun 1957. Ia juga yang ‘mencomblangkan’ pasangan itu dengan mengatur agar keduanya bisa berbicara lewat telepon.

Teman-teman sang kaisar berpikir untuk memberikannya meja ping-pong. “Ia suka tenis meja,” jelas Oda.Pada konferensi pers tahun 2007, pasangan kerajaan tersebut ditanyai mengenai apa yang akan mereka lakukan jika mereka dapat bergaul dengan publik.

Akihito menjawab, “Saat ini, tidak terpikirkan oleh saya apa yang saya ingin lakukan,” walau beliau menambahkan bahwa beliau ingin lebih banyak waktu untuk menikmati alam dan melakukan penelitian. 

Pada konferensi pers tahun 2007, pasangan kerajaan tersebut ditanyai mengenai apa yang akan mereka lakukan jika mereka dapat bergaul dengan publik.

Akihito menjawab, “Saat ini, tidak terpikirkan oleh saya apa yang saya ingin lakukan,” walau beliau menambahkan bahwa beliau ingin lebih banyak waktu untuk menikmati alam dan melakukan penelitian.

Hobi sang kaisar adalah biologi kelautan, terutama ikan gobi.

Kaisar Jepang tersebut telah menjalani perawatan karena kanker prostat dan telah melakukan operasi jantung; pada tahun 2016, beliau berkata bahwa beliau takut umurnya akan menyulitkannya dalam mengemban tugasnya.

Salah seorang kenalan berkata, “Saya pikir beliau akan lega” karena mundur dari kehidupan publik.

Citra abadi

Pasangan lanjut usia tersebut akan meninggalkan citra abadi dimana mereka menghibur orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat – dari pasien kusta hingga orang tua, orang-orang cacat dan korban bencana.

Para kenalan dan cendekiawan setuju bahwa Michiko lah yang sangat berperan dalam menjangkau publik.

Sebagai orang awam pertama yang menikah dengan keluarga kerajaan Jepang, beliau pernah kehilangan suaranya setelah serangan keras dari tabloid-tabloid.

“Beliau diremehkan, dikerjai, dan dilecehkan… namun, sedikit banyak Michiko telah menciptakan sebuah revolusi – dimana anggota kerajaan bisa lebih dekat dengan masyarakatnya,” ujar Naotaka Kimizuka, seorang professor di Universitas Kanto Gakuin.

Bagi Permaisuri Michiko, masalah pribadi yang telah dilaluinya telah membantunya dalam mengerti orang lain.

“Terkadang dalam keadaan bersedih hati dan ketidak pastian, saya merasa diri saya terkoneksi dengan orang-orang yang lain,” ujarnya dalam konferensi pers 2007.

Bagi Akihito, sosok Michiko tergambarkan dalam sebuah puisi yang dituliskan ketika mereka berdua masih berpacaran: “Semakin ku berbicara dengannya, semakin ku menyadari, dalam hatiku, sebuah jendela mulai terbuka.”***
 

Bagikan: