Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 30.2 ° C

Polusi Udara Perpendek Umur Anak-anak

Huminca Sinaga
ILUSTRASI polusi udara.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI polusi udara.*/DOK. KABAR BANTEN

NEW DELHI, (PR).- Krisis polusi udara global mengambil korban terbanyak pada anak-anak di Asia Selatan.

Dilansir The Guardian,  hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa angka harapan hidup anak-anak yang lahir di era ini akan berkurang rata-rata 20 bulan dikarenakan polusi udara yang sudah menyebar luas di seluruh dunia. Jumlah korban terbanyak terdapat di Asia Selatan.

Menurut penelitian State of Global Air (SOGA) 2019 yang diterbitkan pada hari Rabu 3 April 2019, polusi udara berkontribusi pada hampir satu dari sepuluh kematian yang terjadi di tahun 2017. Udara yang terkontaminasi ini mengalahkan angka kematian akibat malaria dan kecelakaan di jalan, dan setara dengan bahaya dari merokok.

Gara-gara polusi udara, angka harapan hidup anak-anak di Asia Selatan  akan berkurang sebanyak 30 bulan, dan 24 bulan bagi mereka di sub-Sahara Afrika. Hal ini terjadi karena kombinasi dari polusi udara dari kendaraan dan pabrik, serta udara kotor dari kegiatan rumah tangga (sebagian besar karena api ketika memasak). 

Sementara di Asia Timur, kemungkinan usia anak-anak disana akan terpotong 23 bulan. Namun, harapan hidup anak-anak di negara maju hanya diperkirakan berkurang lima bulan saja.

“Benar-benar mengagetkan mengingat banyak anak-anak yang umurnya menjadi lebih pendek,” ujar Robert O’Keefe, wakil presiden dari Institut Efek Kesehatan, institut yang membuat laporan tersebut. “Tidak ada obat yang dapat mengobati hal ini, tapi pemerintah harus segera mengambil tindakan.”

Udara beracun

Alastair Harper, kepala kampanye dan advokasi di Unicef UK, yang sudah berulangkali memperingatkan akan bahaya terhadap kesehatan anak-anak, mengatakan: “Hal ini menambahkan ilustrasi suram mengenai bagaimana udara yang tercemar berdampak pada kesehatan dari anggota paling rentan dari masyarakat, terutama anak-anak. Bukti terus menggunung, menunjukkan hubungan antara udara beracun dengan masalah berat badan rendah pada bayi yang lahir, terhambatnya perkembangan paru-paru, dan asma pada anak-anak.”

Ia menambahkan: “Sudah jelas dengan pemantauan data polusi global yang lebih baik, kami akan meningkatkan pemahaman kami mengenai isu ini dan mencari solusinya. Saat ini, anak-anak benar-benar menderita kerugian pada kesehatan mereka.”

Meskipun para anak kecil menghadapi ancaman tertentu seperti perkembangan paru-paru yang terhambat di sepanjang hidup mereka, orang dewasa juga menghadapi risiko: hampir sembilan dari sepuluh kematian yang disebabkan oleh polusi udara berumur diatas 50 tahun. Betambahnya populasi yang menua di banyak bagian dunia, lanjut O'Keefe,  kemungkinan akan menambah jumlah kematian pada tahun-tahun mendatang,

Namun, pemerintah juga sudah mengambil tindakan, seperti mengurangi bentuk dari polusi partikulat di negara maju.

O’Keefe juga merujuk pada tingkat polusi udara di Tiongkok, yang berbeda dengan negara berkembang lainnya, Tiongkok mulai menurunkan tingkat polusi udaranya dalam beberapa tahun terakhir. Strategi negara tersebut yang dibuat pada tahun 2013 bertujuan untuk meningkatkan kualitas udara, dilaksanakan dengan mengurangi ketergantungan terhadap batubara dan membuat pabrik lebih bersih sambil mengendalikan jumlah kendaraan di beberapa kota dan berinvestasi dalam energy yang lebih ramah lingkungan. 

“Mereka terus mengejar target ini. Mereka mengirim pejabat pemerintahan ke tempat-tempat dimana peraturan ramah lingkungan harus ditegakkan, dan polusi udara mulai berkurang di sana,” ujar O’Keefe.

Sulit bernapas

Berdasarkan laporan, Asia Selatan memiliki tingkat paparan tertinggi terhadap PM2,5 (ukuran partikel yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan masalah kardiovaskular) dimana tingkat paparan di Nepal dan India mencapai 2 kali lipat Tiongkok. Sedangkan negara-negara dengan tingkat paparan terendah adalah AS, Norwegia, Kanada, Swedia, dan Selandia Baru. Selain itu, Maladewa, Brunei, dan Estonia juga memiliki skor rendah dalam paparan terhadap polusi udara.

Secara umum, perbedaan dengan negara berkembang dan negara maju dalam hal polusi ini terlihat jelas di seluruh dunia. Negara berkembang rata-rata menderita paparan PM2,5 yang tingkatnya empat hingga lima kali lipat dari negara-negara maju.

Polusi udara rumah tangga adalah masalah utama lainnya, dengan 3,6 miliar orang diperkirakan akan menghadapi udara tercemar secara global, kesehatan mereka yang terpapar langsung dengan polusi udara dari luar, kini terancam juga dengan polusi udara bahkan ketika mereka berada dalam ruangan. Di negara berkembang, ketergantungan pada bahan bakar padat seperti biomassa untuk memasak, merupakan sumber utama polusi rumah tangga.

Laporan juga menemukan bahwa ground-level ozone (O3) terus menjadi masalah besar di negara-negara kaya. Lapisan ozon tersebut diproduksi oleh nitrogen oksida dan polutan supa yang dipancarkan dari asap kendaraan dan beberapa polusi udara pabrik. Menghirup gas ini meningkatkan kemungkinan kematian akibat penyakit pernapasan dan dapat memperburuk masalah pernapasan lainnya.

Penelitian SOGA tahun lalu menemukan bahwa udara kotor hampir ada dimana-mana dalam populasi global. 90% manusia menghirup udara berbahaya hasil dari ekspansi industri, jumlah kendaraan yang terus meningkat, dan paparan pada polusi rumah tangga.

Polusi udara merupakan masalah yang terus meningkat di seluruh dunia. Banyak penelitian yang menghubungkannya dengan berbagai efek pada kesehatan; dari demensia hingga keguguran, dan telah dipandang sebagai keadaan darurat global.

O’Keefe mengatakan bahwa langkah-langkah yang harus diambil diantaranya berinvestasi pada kendaran listrik dan energi yang dapat diperbaharui. Ia juga memperingatkan bahwa investasi pada beberapa infrastruktur seperti tenaga batu bara dapat membuat polusi udara menjadi permanen untuk tahun-tahun yang akan datang.***

Bagikan: