Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 18.3 ° C

Kelompok HAM Mengutuk Pembantaian Belasan Petani

Huminca Sinaga
ILUSTRASI pembantaian.*/DOK. PRFM
ILUSTRASI pembantaian.*/DOK. PRFM

MANILA, (PR).- Presiden Filipina Rodrigo Duterte membatalkan pembicaraan damai dengan para pemberontak komunis dan memerintahkan polisi untuk “menghancurkan” mereka.

Seperti dilansir Channel News Asia yang mengutip  AFP, pada hari Minggu 31 Maret 2019 sejumlah kelompok HAM mengutuk aksi  yang mereka sebut sebagai “pembantaian” 14 petani oleh polisi di Filipina. 

Pernyataan pihak berwenang bahwa insiden tersebut merupakan operasi yang sah dalam melawan para tersangka pemberontak komunis semakin membuat aktivis HAM meradang.

Polisi mengatakan bahwa para pemberontak menembak pihak polisi yang memegang surat perintah penggeledahan untuk senjata api ilegal pada akhir pekan lalu. Tindakan itu mendorong polisi untuk membalas tembakan. Akan tetapi, kelompok-kelompok HAM bersikeras bahwa para petani tersebut adalah “petani yang memperjuangkan hak tanah mereka”, dan mereka merupakan korban baru di bawah tindakan keras Presiden Rodrigo Duterte.

Pemerintahan Duterte membatalkan pembicaraan damai dengan para pemberontak komunis, dan memerintahkan pasukannya untuk “menghancurkan” mereka.

Kekerasan terbaru ini terjadi dalam tiga insiden terpisah di Pulau Negros, pusat dari industri gula nasional dan rumah bagi pemilik tanah terkaya di Filipina serta tempat tinggal bagi beberapa buruh tani termiskin setempat.

Otoritas berwenang menyatakan bahwa operasi tersebut adalah respon kepada serangan yang dilakukan para pemberontak komunis di Negros, menambahkan juga bahwa seorang polisi telah dilukai.

“Mereka melawan balik unit operasi kami. Kami terpaksa untuk menembak balik. Beberapa dari 14 pria yang ditembak adalah petani, tapi kami tidak bisa memastikan berapa banyak,” ujar juru bicara kepolisian provinsi, Edilberto Euraoba, kepada AFP.

Polisi menangkap 12 pria lainnya ketika mereka berusaha mengambil kembali berbagai senjata api dari mereka yang sudah tewas, tambah Euraoba.

Namun, kelompok HAM berserta kelompok petani mengatakan bahwa 14 orang yang tewas pada hari Sabtu itu adalah petani, beberapa diantaaranya warga lansia. Keterangan dari mereka ini bertentangan dengan pertanyaan polisi.

“Mereka tidak berdaya. Jelas tindakan itu adalah pembantaian. Mereka dicap sebagai anggota dan simpatisan (pemberontak komunis), tetapi pada kenyataannya mereka hanya petani yang menyuarakan hak mereka atas tanah,” ujar Maria Sol Taule, penasihat hukum untuk kelompok HAM Karapatan.

Sementara itu, Federasi Buruh Pertanian mengutuk kejadian ini, mengatakan bahwa mereka menyoroti meningkatnya pelanggaran hak di Pulau Negros.***

Bagikan: