Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Hasil Penelitian: Remaja Laki-laki Lebih Sering Berbohong

Huminca Sinaga

ILUSTRASI remaja laki-laki sering berbohong.*/DOK. PRFM
ILUSTRASI remaja laki-laki sering berbohong.*/DOK. PRFM

“ADA banyak sekali kebohongan.” Kalimat tersebut merupakan pembuka dalam buku On Bullshit yang ditulis oleh Harry G Frankfurt, seorang filsuf asal Amerika. Kalimat tersebut juga dituliskan oleh seorang pelajar dari Princeton pada tahun 2005, sebelum sebuah fakta baru akan kebohongan itu ada.

Dilansir The Guardian, Senin 1 April 2019, pada sebuah penelitian anyar tentang kebohongan, para peneliti mengungkapkan bahwa remaja laki-laki lebih sering berbohong. Dari 40.000 remaja, mereka (para remaja laki-laki) yang memiliki latar belakang yang baik dan berasal dari Amerika Utara berada ditingkat teratas soal kebohongan. Begitu juga mereka yang berasal dari Skotlandia dan Irlandia Utara. 

Menurut sebuah studi 15 tahun lalu dari daerah Anglophone atau daerah yang masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris beberapa negara lain seperti AS, Canada, Australia, New Zealand dan lainnya ikut termasuk.

“Semua orang kenal dengan para pembohong, tapi mereka hampir tidak pernah mempertanyakan mengapa mereka berbohong. Atau ciri psikologis apa yang mereka miliki.” ujar John Jerrim, pemimpin studi tersebut di UCL’s Institute of Education.

Dengan kedua rekannya, Nikki Shure dan Phil Parker, seorang psikolog di Australian Catholic University, Jerrim menganalisis data yang telah dikumpulan oleh PISA, sebuah program untuk menilai para siswa berskala internasional. Prosedur yang dijalankan merekaterdiri dari beberapa langkah. Pertama-tama mereka mengajukan sebuah pertanyaan. Dari pertanyaan itu para siswa harus dapat menilai seberapa kenalkan mereka dengan 16 konsep matematika. Dibaliknya istilah asli tersebut, ada tiga yang palsu. Mereka adalah angka yang tepat, skala subjective dan fungsi declarative.

Lebih populer

Jerrim membandingkan tanggapan para siswa dengan tiga konsep tersebut untuk menyusun skala kebohongan. Kemudian ia membandingkan berbagai kelompok, seperti laki-laki dan perempuan, status sosial ekonomi yang tinggi dan rendah, dan daerah tempat tinggal mereka.

"Remaja laki-laki lebih banyak berbohong daripada remaja perempuan. Mereka yang berasal dari kelas sosial dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung sering terlibat masalah dari yang lainnya. Begitu juga mereka yang berasal dati Amerika utara," ungkapJerrim. Mereka yang berada ditingkatan atas pada sekala tersebut cenderung lebih percaya diri, lebih gigih, dan lebih populer di sekolah, daripada mereka yang berada di bawah. Para ilmuwan tidak tahu mengapa perbedaan itu terjadi, tetapi mereka berspekulasi bahwa budaya suatau daerah ikut berperan.

Penelitian ini diadakan dari kumpulan esai yang diterbitkan pada tahun 1983 tentang The Prevalence of Humbug hingga buku-buku terbaru yang ada di masa sekarang. Sepanjang berlangsungnya penelitian, para akademisi telah menyusun skala Kebohongan, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang percaya pada hal-hal gaib mungkin lebih dapat menerima omong kosong.

Dari situ para ilmuwan berpendapat bahwa orang yang melakukan kebohongan cenderung melakukannya jika mereka dapat lolos dengan mudah.

 "Beberapa orang mungkin melakukannya lebih dari yang lain, tetapi kita semua pasti pernah berbohong," kata John Petrocelli, seorang psikolog di Wake Forest University di North Carolina, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. (Huminca Sinaga/PR)***
 

Bagikan: