Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 21.7 ° C

Wanita Ini tak Kenal Rasa Sakit setelah Operasi

Huminca Sinaga
JO Cameron (71) yang tidak dapat merasakan sakit atau stress setelah operasi.*/THE GUARDIAN
JO Cameron (71) yang tidak dapat merasakan sakit atau stress setelah operasi.*/THE GUARDIAN

LONDON, (PR).- Para ilmuwan mengidentisikasi sebuah mutasi baru pada Jo Cameron (71) yang tidak dapat merasakan sakit atau stress setelah operasi. Dilansir The Guardian, Kamis 28 Maret 2019, mereka sempat heran dengan cara kesembuhannya dari operasi tersebut dan akhirnya mengadakan pengujian genetik.

Wanita itu memiliki kelainan genetik yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Para ilmuwan pun percaya bahwa mutasi ini berperan dalam pengiriman sinyal rasa sakit, mood dan memori. Penemuan ini telah meningkatkan harapan cara pengobatan baru untuk penyakit kronis yang diidap oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Masih dilansir The Guardian, Cameron sendiri dulunya adalah seorang guru yang tinggal di Inverness, Skotlandia. Dia telah mengalami beberapa kali kecelakaan seperti patah tulang, dan berbagai macam operasi tanpa harus menggunakan obat bius sedikitpun. Bahkan terkadang dia sering bersandar para kompor dan caranya merasakan kalau bagian tubuhnya ada yang terbakar bukan dari rasa sakitnya, akan tetapi dari baunya.

Tidak hanya ketidakmampuan merasakan sakit pada permukaan kulit, dia juga tidak dapat merasakan stress. Dia berkata bahwa dia tidak pernah merasa panik. Dua tahun lalu, Cameron pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan. Saat itu dia bahkan masih sempat untuk bangkit dan menenagkan si pengemudi. Dalam tes untuk mengetahui kadar stress dan depressi pun hasilnya dapat mencapai nol persen.

Dari penuturannya kelainan tersebut berawal pada usia 65 tahun. Hal itu terjadi saat Cameron merasakan ada yang salah pada pinggulnya. Dia awalnya selalu menolak saat akan dibawa ke rumah sakit karena tidak merasakan apa-apa. 

Akan tetapi, setelah melakukan rontgen, ada kerusakan parah yang terjadi dipinggulnya. Selain itu saat di rumah sakit, Cameron harus menjalankan operasi lain karena pada ibu jarinya terdapat cacat yang disebabkan oleh osteoarthritis. Lagi-lagi Cameron tidak merasakan keanehan apa-apa pada tubuhnya saat di operasi.

Dua mutasi

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Kamis di British Journal of Anesthesia, tim dari University College London, memaparkan tentang bagaimana kelainan tersebut dapat terjadi. Mereka menemukan dua mutasi. Kedua mutase genetik itu menekan rasa sakit dan perasaan cemas dengan meningkatkan kebahagiaan dan hilangnya memori serta menyembuhkan luka.

Mutasi pertama yang ditemukan para ilmuwan adalah jenis mutasi umum. Sistem kerjanya adalah dengan meredam aktivitas gen yang disebut FAAH. Gen tersebut dapat membuat enzim yang memecah anandamide. Enzi mini merupakan bahan kimia yang dihasilkan tubuh untuk memberikan sensasi rasa sakit, dan menjadi pusat suasana hati dan memori. Anandamide bekerja seperti ganja. 

Kemudian, mutasi kedua adalah potongan DNA yang hilang. Awalnya para peneliti sempat kebingungan karena hal ini sebelum analisis selanjutnya menunjukkan bahwa adanya pemotongan pada bagian depan gen yang kemudian dinamakan dengan bernama FAAH-OUT. Para peneliti berpikir gen baru ini bekerja seperti pengatur gen FAAH. Dari adanya pemotongan itu produksi enzim anandamide dapat menjadi dua kali lipat.  

James Cox, seorang peneliti dalam studi ini mengatakan bahwa dalam kasus-kasus ekstrem, mutasi dapat membuat orang tidak merasakan sakit sama sekali. “Sebanarnya pasien ini tidak benar-benar kehilangan kepekaannya terhadap rasa sakit. Biasnanya ketika mereka masih kecil, mereka seringkali mencoba untuk mengigit lidah mereka sendiri atau jari mereka karena tidak merasa kalau itu berbahaya."
Cox mengomentari apa yang terjadi dengan Cameron : "Ada banyak hal buruk yang bisa kita pelajari darinya. Setelah kita memahami cara kerja gen baru, kita dapat berpikir tentang terapi gen yang dapat meniru efek tersebut.”

Cameron berharap bahwa kondisinya dapat membantu mengembangkan ilmu-ilmu kedokteran. "Mungkin ada lebih banyak orang seperti saya yang ada di luar sana yang belum menyadari apa yang ada dalam diri mereka," katanya. "Jika mereka bersedia untuk melakukan penelitian ini, bisa jadi hal tersebut dapat membantu penyempurnaan obat pereda rasa nyeri yang sedang dikembangkan."***
 

Bagikan: