Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Kemanusiaan Senjata Utama Melawan Ekstremisme

Tim Pikiran Rakyat
YUSUF Islam, sebelumnya dikenal sebagai Cat Stevens, tampil di Upacara Peringatan Nasional untuk para korban serangan Masjid Christchurch, di Taman Hagley di Christchurch, Selandia Baru 29 Maret 2019. *
YUSUF Islam, sebelumnya dikenal sebagai Cat Stevens, tampil di Upacara Peringatan Nasional untuk para korban serangan Masjid Christchurch, di Taman Hagley di Christchurch, Selandia Baru 29 Maret 2019. *

CHRISTCHURCH, (PR).- Upacara peringatan diselenggarakan di Kota Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat 29 Maret 2019 waktu setempat untuk menghormati 50 korban penembakan yang terjadi pada 15 Maret 2019 lalu. Upacara disiarkan langsung di acara televisi di seluruh negara.

Perdana Menteri Jacinda Ardern, bersama dengan para pemimpin Muslim serta lebih dari 20.000 orang menghadiri acara yang diselenggarakan di Hagley Park dengan kemanan yang ketat. Cat Stevens atau Yusuf Islam penyanyi muslim berkebangsaan Inggris turut menghadiri acara tersebut.

Berbicara kepada massa di taman dekat Masjid Al Noor, di mana lebih dari 40 orang tewas awal bulan lalu, Ardern mengatakan Selandia Baru memiliki “tanggung jawab untuk menjadi tempat yang diinginkan”. “Kita (Selandia Baru) tidak kebal terhadap virus kebencian, ketakutan, dan lainnya, tetapi kita bisa menjadi bangsa yang menemukan obatnya,” katanya menjelaskan.

Keseluruhan, 50 orang tewas pada serangan pada 15 Maret 2019 ketika seorang kulit putih menyerang dua masjid di Christchurch yang disiarkan di Facebook. Arden menggambarkan bagaimana dunia telah terjebak dalam lingkaran setan ekstremisme yang mengembangbiakkan estremisme. Lalu ia mengatakan “jawabannya terletak pada kemanusiaan kita”.

Mengenakan jubah Maori, dia menerima tepukan tangan meriah ketika naik ke atas panggung. Perwakilan pemerintah dari seluruh dunia turut menghadiri peringatan itu, termasuk perdana menteri Australia Scott Morrison.

Farid Ahmed, salah satu korban selamat dari serangan itu mengajukan permohonan perdamaian. Ia mengatakan dirinya telah memaafkan pria bersenjata itu walaupun istrinya Husna terbunuh. “Saya tidak ingin hati yang mendidih seperti gunung berapi, sebaliknya penuh cinta dan perhatian, juga  berbelas kasihan,” ucapnya.

Pemulihan

Dua minggu telah berlalu, tetapi peristiwa 15 Maret masih membekas di hati masyarakat Christchurch. Mereka berkumpul di ladang hijau Hagley Park untuk menghormati para korban yang hanya sedikit dari mereka yang tahu.

Beberapa wanita mengenakan jilbab, sebagai tanda solidaritas terhadap umat Islam. Katika nama-nama korban dibacakan, ribuan warga berdiri menghormati dengan diam. Warga ikut bangga dengan bagaimana Jacinda Ardern mewakili bangsa dalam kesedihannya. Tetapi kini, ketahanan dan pemulihan mulai berangsur kembali kepada kehidupan normal sebelum terjadinya serangan lalu.

Cat Stevens  yang bernama muslim Yusuf Islam yang merupakan musisi mualaf berkebangsaan Inggris, menyanyikan lagu-lagunya Peace Train dan Don’t be Shy. “Hanya ketika orang-orang baik tetap diam, kejahatan meningkat. Akan tetapi, kami telah melihat hal yang sebaliknya di negara ini,” jelasnya.

Seluruh nama korban yang tewas dalam serangan dibacakan di acara tersebut oleh anggota komunitas Muslim Kota Christchurch. Para korban terdiri atas pria, wanita, dan anak-anak dari seluruh dunia. Korban termuda baru berusia tiga tahun. Masih ada 22 orang yang masih perlu diberikan perwatan di rumah sakit, termasuk seorang gadis berusia empat tahun yang terluka parah.

Banyak yang pindah ke Slandia Baru dengan harapan kehidupan yang lebih baik dan beberapa di antaranya adalah pendatang. Ardern menggambarkan serangan itu sebagai salah satu “hari tergelap” bangsa Selandia Baru. Sejak penembakan massal tersebut, Ardern telah mengumumkan larangan semua jenis sejata semiotomatis dan senapan serbu.

Acara peringatan itu disiarkan secara langsung di saluran televisi di seluruh negeri, tetapi Selandia Baru melaporkan bahwa banyak di antaranya dibatalkan karena sumber daya kepolisian  yang kurang memadai. (TJ-Devita Savitri)***

Bagikan: