Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Badai petir, 28 ° C

Kini Facebook Larang Konten Nasionalisme Kulit Putih

Huminca Sinaga
ILUSTRASI Facebook.*/Ist
ILUSTRASI Facebook.*/Ist

SAN FRANSISCO, (PR).- Facebook tidak akan lagi mengizinkan konten yang mendukung nasionalisme kulit putih dan separatisme kulit putih. Hal itu diumumkan otoritas perusahaan Facebook seperti dikutip The Guardian, Kamis 28 Maret 2019. 

Pengumuman itu muncul hampir setahun setelah pemberitahuan mengenai kebijakan mereka yang menentang supremasi kulit putih dan ujaran kebencian.

Perubahan kebijakan yang diumumkan pada  Rabu waktu setempat, yang akan mulai berlaku minggu depan, terjadi setelah serangan teror supremasi kulit putih terhadap dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang. 

Facebook mengatakan bahwa pada awalnya mereka melihat nasionalisme putih sebagai sudut pandang yang dapat diterima, mirip dengan nasionalisme Amerika, atau separatisme Basque. Meskipun kebijakan Facebook telah lama melarang retorika kebencian tertentu berdasarkan ras, etnis atau agama, Facebook awalnya tidak percaya bahwa "separatisme putih" harus termasuk dalam kategori terlarang.

"Kami awalnya tidak menerapkan alasan yang sama untuk ekspresi nasionalisme kulit putih dan separatisme karena kami berpikir tentang konsep nasionalisme dan separatisme yang lebih luas - hal-hal seperti kebanggaan Amerika dan separatisme Basque, yang merupakan bagian penting dari identitas masyarakat," ungkap otoritas Facebook dalam unggahan di laman resmi mereka,  Rabu.

Dokumen pelatihan Facebook untuk moderator, yang diperoleh tahun lalu oleh Motherboard Vice News, menjelaskan bahwa konten yang mempromosikan kelompok dan pemimpin kebencian yang terorganisir dilarang dan harus dihapus, tetapi nasionalisme kulit putih dan separatisme kulit putih diizinkan secara eksplisit.

Ungkapan-ungkapan seperti "Saya seorang nasionalis kulit putih yang bangga" dan "AS harus menjadi bangsa yang hanya kulit putih" dikutip sebagai contoh sudut pandang yang dapat diterima, bahkan ketika "Saya seorang supremasi kulit putih" dilarang, Demikian Motherboard Vice News melaporkan, seperti dikutip The Guardian.

Konotasi negatif

Dokumen-dokumen tersebut berpendapat bahwa nasionalisme kulit putih “tampaknya tidak selalu dikaitkan dengan rasisme (setidaknya tidak secara eksplisit)” dan bahwa kaum nasionalis kulit putih “dengan hati-hati menghindari istilah supremasi karena memiliki konotasi negatif”.

Setelah tiga bulan berkonsultasi dengan para pakar akademis dalam ekstremisme rasis, Facebook mengumumkan pada Rabu, bahwa nasionalisme kulit putih “tidak dapat dipisahkan secara makna dari supremasi kulit putih dan kelompok-kelompok kebencian yang terorganisir.

"Ke depan, sementara orang masih dapat menunjukkan kebanggaan pada warisan etnis mereka, kami tidak akan mentolerir pujian atau dukungan untuk nasionalisme dan separatisme kulit putih," tulis Facebook.

Pencarian untuk kata kunci tertentu yang terkait dengan nasionalisme kulit putih juga akan mengarahkan pengguna ke Life After Hate, sebuah organisasi yang membantu orang meninggalkan kelompok kebencian rasis, kata otoritas Facebook.

Kelompok-kelompok advokasi, yang telah melabeli kebijakan Facebook sebelumnya "salah kaprah, tidak konsisten, dan berbahaya", memuji langkah tersebut tetapi mengatakan itu "sudah lama terlambat".

"Tidak ada perbedaan yang dapat dipertahankan antara supremasi kulit putih, nasionalisme kulit putih atau separatisme kulit putih," kata Kristen Clarke, presiden dan direktur eksekutif Komite Pengacara untuk Hak Sipil Dalam Hukum. "Dengan mempertahankan perbedaan ini, Facebook akhirnya menyediakan platform rasis yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong kebencian."

Selama beberapa tahun terakhir, organisasi berita secara rutin menggunakan istilah "supremasi kulit putih"nasionalis putih" secara bergantian. Para ahli tentang ekstremisme telah lama memperingatkan desakan kaum nasionalis kulit putih bahwa mereka "bukan rasis", dan bahwa menyerukan politik kulit putih bukanlah hal yang sama dengan "membenci" orang-orang kulit berwarna lainnya, adalah taktik propaganda dan tidak boleh diambil serius.

Perubahan kebijakan Facebook, yang memengaruhi Facebook dan Instagram, terjadi hampir empat tahun setelah serangan rasis terhadap gereja kulit hitam di Charleston, South Carolina, pada 2015; hampir dua tahun setelah serangan mobil terhadap pengunjuk rasa di Charlottesville, Virginia, pada 2017, oleh seorang pemuda yang berbaris dengan kelompok nasionalis kulit putih; empat bulan setelah penembakan massal di sebuah sinagog di Pittsburgh, Pennsylvania, pada tahun 2018; dan kurang dari dua minggu setelah serangan terhadap dua masjid di Christchurch.***

Bagikan: