Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Badai Ida Tewaskan Ratusan Orang

Huminca Sinaga
ILUSTRASI badai dilihat dari satelit.*/DOK PR
ILUSTRASI badai dilihat dari satelit.*/DOK PR

BEIRA, (PR),- Serangan badai Ida di kawasan Afrika menewaskan ratusan orang. PBB memperkirakan badai Idai yang bergerak  dengan kecepatan angin 170 km/jam itu, sebagai badai terburuk yang pernah terjadi di belahan bumi selatan.

Badai Idai yang menerpa Mozambik, Malawi, dan Zimbabwe ini menyebabkan tiap bangunan yang dilewatinya rusak parah, menelan banyak korban, mendatangkan banjir, dan merusak hasil panen. 

Dilansir The Guardian, Rabu 20 Maret 2019, bila berlanjut, sebanyak 2,6 juta penduduk akan terkena dampak dari badai ini. Bahkan, Kota Beira di Mozambik yang diterpa badai Jumat lalu rusak parah hingga akses keluar kota terputus.

Hingga saat ini, korban jiwa di Mozambik sebanyak 200 jiwa, di Zimbabwe 98 jiwa, dan di Malawi sebanyak 56 jiwa. Namun, jumlah korban jiwa tersebut masih belum dapat diketahui secara pasti mengingat ketiga negara tersebut masih membutuhkan waktu untuk mengatasi dampak dari bencana.


Presiden Mozambik, Filipe Nyusi, mengumumkan tiga hari berkabung nasional sejak hari Selasa. Dirinya juga menyebutkan bahwa Mozambik akan segera mengumumkan krisis nasional.

Mozambik sendiri sebelumnya sudah pernah diterpa badai dan banjir. Kejadian yang paling parah pernah terjadi di tahun 2000. Namun, badai kali ini tampaknya akan jauh lebih parah dibanding sebelumnya.

Banyak rumah, jalanan, dan tiang telepon terendam banjir. Pasukan militer Afrika Selatan dan sejumlah organisasi lainnya berusaha untuk menyelamatkan warga melalui udara. Namun, beberapa dari mereka kesulitan mengirim bantuan ke lokasi dikarenakan akses jalan dan jembatan yang rusak.

Tersangkut di pohon

Menurut tim penyelamat, beberapa penduduk terlihat tersangkut di atas pohon dan yang lainnya terjebak di atas rumah. Tim penyelamat juga mengatakan bahwa mereka kesulitan mendapatkan makanan.

"Terkadang kami hanya berhasil menyelamatkan dua dari lima (korban); terkadang kami memilih untuk memberikan makanan dan segera menuju ke orang lain yang sedang dalam bahaya besar," ungkap salah satu anggota tim penyelamat, Ian Scher, seperti dilansir AFP dan dikutip The Guardian.

Seorang pilot Mission Aviation Fellowship (MAF) yang terbang menyusuri Sungai Buzi yang meluap, berhasil memperoleh informasi awal mengenai area sekitar sungai tersebut.

Rick Emenaker dari MAF mengungkapkan bahwa timnya sangat sedih ketika melihat area di sekitar Sungai Buzi terendam banjir.

"Kami melihat banyak orang terdampar di atas atap rumah yang dikelilingi air banjir hingga berkilo-kilo jauhnya. Sangat sulit membayangkan berapa banyak orang yang meninggal," ungkapnya seperti dikutip Lowvelder.

Begitu bandara dibuka pada hari Minggu dan jaringan seluler Movitel kembali aktif, lebih banyak detail mengenai bencana di Beira mulai bermunculan.

"Di sini sangat parah. Mohon doanya untuk ribuan orang yang kehilangan rumahnya ... Orang-orang terjebak di pohon dan atap rumah. Tim penyelamat perlahan mulai datang. Hujan kembali membuat semua sulit. Banyak korban jiwa dan rumah-rumah hancur," tulis Jill Lovel, seorang warga Australia yang memimpin sekolah misionaris di Beira, dalam surat elektronik yang dikirimkannya.

Pasukan Palang Merah berhasil mengirim truk berisikan tablet klorin serta 1500 terpal dan peralatan untuk mendirikan tenda pengungsian sebelum akses jalan ke Beira terputus. Truk lain pun akhirnya dialihkan ke Manica. Palang Merah juga berusaha menyetorkan bantuan menggunakan perahu.

Jadi lautan

Program Pangan Dunia (WFP) berhasil mengirimkan bantuan berupa makanan dan mengirimkannya kepada korban yang terdampar melalui udara.

"Yang dulunya daratan, kini jadi lautan. Akses menuju kota pun terputus. (Kota) ini pun kini jadi pulau di lautan," ungkap Matthew Cochrane dari Palang Merah. Dirinya juga menambahkan bahwa Palang Merah akan mengucurkan dana bantuan sebesar 10 juta franc atau 142 miliar rupiah untuk tempat pengungsian dan air bersih.

Saat ini, resiko penyebaran penyakit kolera dan tifoid makin meningkat. Hal ini juga dikarenakan kabar mengenai saluran air ke kota tersebut telah terputus.

Mark Ellul, seorang dokter di Beira, mengungkapkan bahwa kondisi di rumah sakit pusat cukup kritis dan kapasitas rumah sakit tersebut sudah penuh sebelum badai menyerang. Dokter Ellul mengatakan bahwa pasien sedang berada di bangsal saat badai tiba. Ia menambahkan bahwa badai Idai menerbangkan atap dan merusak jendela rumah sakit.

"(Pasien) yang bisa berjalan segera beranjak dan pergi ke koridor, dan yang tidak bisa berjalan hanya berpegangan pada tempat tidur mereka," ujarnya.

Dokter Ellul sendiri berlindung dibawah wastafel hotel saat badai menerpa. Saat dirinya keluar, ia melihat puing-puing bertebaran, pohon-pohon tumbang, atap tercabut, dan tiang listrik tertarik ke jalanan. Dia bertemu beberapa orang yang memberitahukan bahwa mereka melihat mayat tergeletak di jalan dan tetangganya yang tewas.

Penduduk Kota Beira mengabarkan bahwa bendungan yang terletak 70 kilometer dari kota, baik itu bendungan Chicamba atau Mazuvi, jebol. Sementara itu, bendungan lain dikabarkan meluap sehingga pintu air akan segera dibuka. Bendungan besar Kariba dan Cahora Bassa di Sungai Zambezi diduga tidak mengalami apa-apa. Namun, kedua bendungan tersebut sudah cukup tua dan bendungan Kariba sendiri butuh perawatan.

Palang Merah telah merilis daftar nama orang yang selamat dan menghilang. Pihak keluarga korban juga dapat mencari dan menambah anggota keluarga mereka pada daftar tersebut.

Sementara itu, dilansir BBC, dari sekitar 200 WNI di Mozambique, sekitar setengah di antaranya berada di Beira. Menurut Ivan Rismi Polontalo, kepala fungsi protokol, konsuler dan ekonomi, KBRI di Moputo, semua WNI dalam kondisi selamat dan aman.***


 

Bagikan: