Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian cerah, 23.2 ° C

Video Penembakan Selandia Baru Dipakai Kampanye, Erdogan Dikecam

Huminca Sinaga
PRESIDEN Turki, Recep Tayyip Erdoğan.*/REUTERS
PRESIDEN Turki, Recep Tayyip Erdoğan.*/REUTERS

ANKARA, (PR).- Pemerintah Selandia Baru mengecam tindakan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, karena berulang kali memutarkan video penembakan Masjid Christchurch pada saat berkampanye di kota Gaziantep.

Dilansir The Guardian, Selasa, 19 Maret 2019, Presiden Erdoğan meyakini bahwa aksi teror tersebut merupakan aksi kelompok tertentu. Ia mengatakan bahwa dirinya akan membantai siapapun yang mencoba melakukan hal yang sama di Turki.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, memperingatkan Presiden Erdoğan karena telah mempertontonkan video tersebut. Menurut dia, tindakan tersebut dapat membahayakan warga Selandia Baru di luar negeri.

Pemerintah Selandia Baru sendiri meminta Facebook dan media sosial lainnya untuk memblokir video penembakan tersebut. Mereka gusar saat mengetahui ada pemimpin negara yang sengaja memutarkan video tersebut.

"Hal apapun yang memberikan representasi yang salah mengenai negara ini - mengingat (pelaku) bukan warga Selandia Baru - mengancam masa depan dan keamanan warga Selandia Baru dan warga kami di luar negeri dan ini sangatlah tidak adil," ujar Winston.

"Kami telah melakukan pembicaraan mengenai kewajiban negara lain, atau Turki dalam hal ini, untuk memastikan negara kami, Selandia Baru, tidak salah direpresentasikan," ujarnya lagi seperti dikutip  The Guardian.

Demi pemilu

Turki yang saat ini tengah mengalami kesulitan ekonomi membuat Presiden Erdoğan berusaha keras untuk memenangkan pemilihan umum kali ini. Pada saat mengkampanyekan partainya, presiden Turki tersebut mengatakan: "Mereka sedang menguji kita dari 16.500km sana, dari Selandia Baru, dengan pesan yang mereka kirimkan. Ini bukan aksi perorangan, ini aksi yang sudah direncanakan."

Presiden Erdoğan pun memutarkan rekaman video penembakan yang pernah disiarkan secara langsung oleh pelaku di Facebook. Selain video, Presiden Erdoğan juga memperlihatkan sebuah kutipan dari "manifesto" yang ditulis pelaku di sosial media.

Dirinya mengklaim bahwa salah satu poin dalam manifesto tersebut yakni rencana untuk mengeluarkan Turki dari Eropa.

Ironisnya, Wakil Presiden Turki, Fuat Oktay, justru tak mendukung sikap Erdogan yang provokatif.  Fuat telah meminta semua pihak untuk berhenti menggunakan ujaran kebencian setelah kasus penembakan mencuat. Ia sebelumnya mengatakan bahwa dunia harus berhenti menggunakan ujaran provokatif tersebut.

"Kita harus mulai menggunakan bahasa yang berbeda. Seluruh dunia harus berhenti mempromosikan bahasa yang provokatif semacam itu," ungkapnya.***

Bagikan: