Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

[Laporan Khusus] Sekelumit Cerita dari Leiden, Kisah Mendunia Dua Ilmuwan Indonesia

Yulistyne Kasumaningrum
MAHASISWA Indonesia memperhatikan patung Hussein Jayadiningrat di Academie Gebouw Universitas Leiden, Belanda, Senin 4 Maret 2019. Hussein Jayadiningrat merupakan doktor pertama dari Indonesia. Sementara, sarjana pertama adalah Sosrokartono atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang merupakan kakak kandung Raden Ajeng Kartini.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR
MAHASISWA Indonesia memperhatikan patung Hussein Jayadiningrat di Academie Gebouw Universitas Leiden, Belanda, Senin 4 Maret 2019. Hussein Jayadiningrat merupakan doktor pertama dari Indonesia. Sementara, sarjana pertama adalah Sosrokartono atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang merupakan kakak kandung Raden Ajeng Kartini.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

ANDA tentu mengenal Raden Ajeng Kartini. Pejuang kesetaraan hak perempuan dari Jepara itu begitu populer di masya­rakat. Bahkan, hari lahirnya yang jatuh pada 21 April selalu diperingati dengan meriah.

Akan tetapi, boleh jadi Anda tak begitu mengenal sosok Sosrokartono. Ya, kakak kandung Kartini ini juga memiliki kisah hidup yang tak kalah hebatnya. Bahkan, mungkin lebih isti­mewa.

Sejarah mencatat, RMP Sosrokartono atau Raden Mas Panji Sosrokartono adalah orang Indonesia pertama yang melanjutkan kuliah ke negeri Belanda sekaligus yang pertama meraih gelar sarjana.

Keturunan ningrat dari Raden Mas Ario Sosrodiningrat ini men­dapatkan gelar sarjana­nya dari Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Universitas Leiden pada 1908.

Akan tetapi, menurut literatur lainnya, gelar sarjana sebetulnya telah ia sandang beberapa tahun sebelumnya.

Tahun 1908 seharusnya menjadi tahun dia merampungkan program doktoralnya. Diduga karena ba­nyak pihak ikut campur dalam proses studinya, disertasi Sos­ro­kartono tak kunjung rampung.

Sosrokartono/DOK. PR

Sosrokartono tinggal di Breestraat Nomor 95 saat menjalani ­studi di Leiden, Belanda. Lokasinya tak jauh dari Rapenburg, ­tempat Leiden Academie Gebouw berada.

Pada suatu sore, saya beruntung berkesempatan melihat tempat tinggal Sosrokartono. Gedung yang terdiri atas tiga lantai itu kini telah beralih fungsi menjadi butik.

Dari dokumen KITLV yang sempat saya baca, Sosrokartono awal­nya mendaftar kuliah di Technische Hoge­school di Delft. ­Leiden-Delft berjarak 20 menit menggunakan kereta api. Namun, di Delft, kota yang memiliki julukan Prinssenstad atau Kota Pange­ran ini, Sosrokartono tak merasa betah.

Ia lebih ­tertarik dengan Fakultas Seni dan Filsafat di Universitas Leiden. Ia lalu memilih studi Bahasa dan Kesusastraan Timur di kampus itu.

Di bidang studi tersebut kemampuan intelektual Sosro­kartono makin berkembang dan mampu menarik perha­tian sejumlah profesor senior ternama, seperti Profesor Kern, Profesor Speyer, Profesor De Groot, dan Nieuwenhuis.

Dengan kecerdasannya, Sosrokartono diangkat menjadi anggota Royal Institute for Language, Land, and Ethnology di Den Haag (Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), lembaga yang mempelajari dan meneliti kebudayaan suku bangsa nusantara.

Kecemerlangannya tak berhenti di sana. Pada Kongres Ke-25 Bahasa dan Sastra Belanda di Ghent, Belgia, Sosrokartono menda­patkan kesempatan berpidato.

Di depan para peserta kongres yang membicarakan berbagai masalah bahasa dan sastra di beragam negara, ia menyampaikan pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia) yang mendapatkan sambutan dari para peserta kongres.

Selain cemerlang secara akademik, Sosrokartono juga ikut me­mainkan peran aktif dalam pergerakan sosial di Belanda.

Sosro­kartono tercatat ikut berpartisipasi dalam pendirian Indian Veree­niging atau yang lebih dikenal de­ngan Perhimpunan Indonesia. Pergerakan itu kemudian dilanjutkan oleh teman-teman sekolahnya seperti Moh Hatta di Rotterdam serta Sartono dan Iwa Kusuma Sumantri di Leiden.

Sedari awal, bakat dan keterampilan Sosrokartono sudah mencuri perhatian banyak pihak. Bagaimana tidak, ia ada­lah seorang poligot (me­nguasai berbagai bahasa ­asing) yang fasih dua puluh bahasa Eropa dan Asia. Bahkan, sebuah sumber mencatat bahwa ia menguasai 24 bahasa ­asing dan 10 bahasa daerah di nusantara.

Sayangnya, catatan kecemerlangan Sosrokartono dalam aka­demik mendapatkan hambatan kala terjadi perubah­an di atmosfer akademik Universitas Leiden saat Prof Dr Snouck Hurgronje datang ke kampus itu. Pada akhir masa studinya, dikatakan bahwa pihak fakultas mencegahnya untuk menyelesaikan di­sertasinya.

Kiprah Hussein Jayadiningrat

Jika Sosrokartono menjadi sarjana pertama, putra bangsa pertama yang meraih gelar doktor adalah Hussein Jayadiningrat (Hoesein Djajadi­ningrat) pada 1913.

Hussein Jayadiningrat yang merupakan anak dari Bagus Jayawinata (R Bagoes Djajawinata) mendapatkan gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Critische Beschou­wing van de Sadjarah Banten (Tinjauan Kritis Atas Sejarah Banten) dari Fakultas Huma­niora, Universitas Leiden.

HUSSEIN Jayadiningrat/WIKIWAND

Nama lengkap Hussein Jayadiningrat adalah Pange­ran Ario Hoesein Djajadi­ningrat. Disertasinya menda­pat predikat cum laude dari promotornya Snouck ­Hurgronje.

Setelah lulus dari Universitas Leiden, Hussein Jayadiningrat menghasilkan sejumlah karya, di antara­nya kamus bahasa Aceh yang berjudul Atjeh-Netherlandsche Woordenboek yang diterbitkan tahun 1934.

Kemudian, karya tulis berjudul De Mohammedaansche Wet en het Geesttesleven der Indonesische Moham­me­daansche dan karya ber­judul De Magische Achtergrond van de Maleische Pantoen.

Hussein Jayadiningrat juga ikut ber­partisipasi menuliskan karya yang ber­judul Local Traditions and the Study of Indonesian History dalam buku An Introduction to Indonesian Historiography yang terbit tahun 1965.

Selain itu, Hussein Jayadiningrat menghasilkan banyak karya lainnya dalam bentuk artikel di berbagai majalah.

Menjadi wartawan perang

Ada dua kesamaan dari dua tokoh yang menjadi pelopor tradisi keilmuan di Indonesia itu. Pertama, peran Snouck Hurgronje bagi keduanya yang bertolak belakang.

Snouck Hurgronje merupakan promotor bagi Hussein Jayadiningrat yang kemudian meng­antarkannya meraih gelar doktor.

Di sisi lain, Snouck Hurgronje justru dituding sebagai penyebab tidak rampungnya disertasi Sosrokartono yang rencananya berjudul De Middel Javaansche Taal (bahasa Jawa Tengahan sebagai bahasa peralihan antara bahasa Jawa kuno dan bahasa Jawa baru). Banyak sumber menyebutkan Sosrokartono kerap berbeda pandangan dengan Snouck Hurgronje yang kala itu diangkat sebagai profesor.

Kesamaan yang kedua, baik Sosro maupun Hussein Jayadiningrat kedua­nya berkecimpung dalam dunia jurnalistik.

Sosrokartono tercatat pernah menjadi wartawan perang. Bahkan, sebelumnya namanya juga tercantum sebagai koresponden di surat kabar lokal dan internasional, seperti Bandera Wolanda. Sementara, Hussein Jayadiningrat pernah menjadi pembina surat kabar, redaktur, hingga menerbitkan majalah.

HUSEIN Jayadiningrat/DOK. PR

Ada cerita menarik ketika Sosrokartono menjadi peliput Perang Dunia I (1914-1918) dari surat kabar The New York Herald, Amerika Serikat yang bertugas di Eropa.

Demi kelancaran tugasnya, kakak kandung Kartini itu mendapatkan pangkat mayor dari pemerintah Amerika Serikat.

Tak hanya itu, di kalangan jurnalis internasional, nama Sosro­kartono ramai diperbincangkan. Kisahnya bermula kala Perang Dunia Pertama hampir berakhir. Ketika itu, ada perunding­an rahasia yang diadakan oleh kedua blok yang bertikai. Lokasi perundingan dijaga amat ketat, tak sembarang orang diizinkan masuk, apalagi wartawan.

Semua hasil perundingan dirahasiakan dan tidak boleh disiarkan tanpa persetujuan resmi. Akan tetapi, saat banyak wartawan masih kasak-kusuk mencari informasi, tiba-tiba saja The New York Herald memuat hasil perundingan perdamaian rahasia tersebut secara lengkap.

Sontak, hal itu menggemparkan Amerika dan Eropa. Belakang­an diketahui, penulis berita tersebut anonim dan hanya menggunakan kode pengenal ”Bintang Tiga”. Di kalangan wartawan perang pada masa itu, kode bintang tiga adalah kode koresponden dari Sosrokartono.

Lain halnya dengan Sosrokartono, Hussein Jayadiningrat yang juga dikenal sebagai Bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia berkecimpung dalam dunia jurnalistik de­ngan peminatan yang berbeda.

Hussein Jayadiningrat adalah penanggung jawab surat kabar bulanan Sekar Roekoen. Surat kabar berbahasa Sunda yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen.

Sekar Roekoen adalah suatu orga­nisasi para pemuda Sunda yang didirikan oleh para siswa Sekolah Guru (Kweekschool) di Jalan Gunungsari, Batavia, pada 26 Oktober 1919.

Hussein Jayadiningrat juga menerbitkan Pusaka Sunda, majalah berbahasa Sunda yang membahas perihal adat istiadat Sunda. Pada tahun yang selaras, beliau juga mendirikan Java Instituut. Sementara, sejak tahun 1921 karier jurnalistiknya berlanjut sebagai redaktur ­majalah Djawa bersama de­ngan Raden Ngabehi Purbacaraka ­(Poerbatjaraka).

Ada utang kehormatan

Fakta bahwa dua pelopor tradisi intelektual Indonesia yang memilih berkecimpung di dunia jurnalistik setelah menuntaskan studi akademik adalah hal yang menarik untuk dikaji.

Hans de Bekker, antropolog dan juga kandidat doktor di Universitas Leiden mengatakan bahwa hal itu langka terjadi di Belanda. Me­nurut dia, akan lebih me­narik jika diteliti lebih lanjut.

Pendiri Akatiga Agrar Sudrajat berpendapat, pada dasarnya cara kerja jurnalis mirip dengan akademisi karena sama-sama harus melakukan cek dan ricek.

Hanya, ada perbedaan dari sisi deadline atau tenggat waktu jurnalis yang sangat singkat sehingga terbatas untuk mela­kukan analisis.

Hal itu berbeda dengan sifat akademisi yang tenggat waktunya sangat longgar sehingga memiliki kesempatan untuk melakukan analisis secara mendalam.

Agrar menilai pada masa Sosrokartono dan Hussein Jayadiningrat menuntaskan studi, pembagian tugas kerja belum sevariatif sekarang.

Kala itu dapat dikatakan bahwa setiap orang memiliki banyak kemampuan, ­misalnya pada saat yang sama berperan sebagai jurnalis, sastra­wan, tokoh masyarakat, atau bahkan tokoh agama.

Rea­litas itu berbeda dengan saat ini, saat keragaman dan informasi begitu banyak sehingga tidak lagi dikerjakan satu orang.

Lebih lanjut Agrar memaparkan, tradisi akademik tanah air tak terlepas dari sejarah kolonial Belanda yang merasa berutang budi.

Belanda yang telah sekian lama memetik keuntungan dari Indo­nesia dihadapkan pada munculnya perasaan utang kehormatan. Mereka kemudian merasa harus membalas budi kepada tanah air.

Hal itu ditandai dengan munculnya sekolah-sekolah dan adanya kesempatan bagi penduduk Indonesia untuk mengeyam pendidik­an formal meskipun dibatasi untuk pribumi kalang­an tertentu saja.

Banyak pihak yang mencurigai kebijakan Belanda tersebut. Tak sedikit pula yang menilai langkah itu semata akal-akalan Belanda karena sedang membutuhkan tenaga admi­nistrasi.

Akan tetapi, Agrar menilai, pada saat itu ada juga ketulusan dari kalangan gereja dan kemanusiaan di Belanda. Menurut dia, sejarah mencatat banyak anak muda Indonesia yang menjadi berwawasan ­luas.

Dari golongan seperti Sosrokartono dan Hussein Jayadiningra,  banyak mahasiswa ­Indonesia yang tak kehilangan jati dirinya menjadi tokoh-tokoh berbagai perge­rakan. Bahkan, ia meng­ungkapkan, pemerintah Belanda pun sengaja mem­bangun usaha penerbitan agar lebih banyak lagi penduduk Indonesia yang bisa membaca dan menulis.

”Tetapi, periode ini tidak lama, hanya pada rentang 1900-1920 karena pada saat itu kondisi dunia berubah. Ada perang dunia ­pertama dan kondisi ekonomi yang sulit,” katanya.

Perihal mengapa Sosrokartono dan Hussein Jayadiningrat lebih memilih terjun ke dunia jurnalistik, Agrar tak menampik bahwa bidang jurnalistik merupakan alat efektif untuk mencerdaskan bangsa.

Dunia media dipilih keduanya untuk mengatrol pendidikan masyarakat Indo­nesia yang saat itu masih sangat memprihatinkan.***

Bagikan: