Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian cerah, 23.2 ° C

Ke Belanda, Saat Tepat Berburu Barang Murah di Pasar Loak Terbesar Eropa IJ-Hallen

Yulistyne Kasumaningrum
DUA mahasiswa Indonesia, Aminuddin dan Kurniawan, menemukan lukisan berharga karya Jan Toorop di IJ-Hallen, Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu. Di pasar loak terbesar dan terunik di Eropa ini, selain tersedia berbagai barang bekas bermerek de­ngan harga miring, juga sering ditemukan benda seni bernilai tinggi.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR
DUA mahasiswa Indonesia, Aminuddin dan Kurniawan, menemukan lukisan berharga karya Jan Toorop di IJ-Hallen, Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu. Di pasar loak terbesar dan terunik di Eropa ini, selain tersedia berbagai barang bekas bermerek de­ngan harga miring, juga sering ditemukan benda seni bernilai tinggi.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

MESIN penghitung waktu mundur yang berada di sisi kiri dermaga telah menunjukkan angka 10. Itu berarti hanya tersisa 10 detik sebelum kapal yang akan kami tumpangi se­gera berlayar.

Sejurus kemudian, saya sigap mengambil lang­kah seribu agar tak tertinggal. Sedianya kapal feri itu akan membawa kami ke IJ-Hallen.

”Kamu yakin tidak akan membawa troli? Nanti kalap loh,” ujar Kusnandar, seorang teman kala feri mulai berlayar.

Akhir pekan lalu saya berkesempatan menyambangi pasar loak terbesar dan terunik di Eropa. Pasar yang berlokasi di kawasan Amsterdam Noord, Pelabuhan Nederlandse Droogdok en Scheepsbouw Maatschappij (NDSM) ini selalu menggelar aneka barang yang ditunggu-tunggu, bahkan menjadi primadona ­bagi para wisatawan.

Untuk mencapai lokasi, saya menggunakan kereta api dari Leiden lalu turun di Amsterdam Central Station.

Perjalan­an dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dermaga di belakang stasiun. Di sana, sebuah feri berangka 906 sudah menunggu. Feri ini me­miliki jadwal keberangkatan teratur setiap 30 menit. Mena­riknya, kita dapat menum­panginya tanpa dipungut biaya.

Setelah berlayar selama 15 menit, kami sampai di tujuan. Sekali dalam sebulan, selama dua hari berturut-turut NDSM akan dipenuhi 500-750 stan yang menjual berbagai barang menarik.

Barang-barang yang dijajakan antara lain pakai­an, sepatu, tas, barang antik, perhiasan, buku, kaset musik, hingga furnitur bekas. Di saat itulah IJ-Hallen dibuka.

PASAR loak IJ-Hallen/AWESOME AMSTERDAM

Meski pasar loak, kondisi barang-barang yang dijual masih sangat baik. Harganya yang ramah di kantong menjadi magnet buat pengunjung. Bahkan, sering kali pengunjung yang beruntung akan mendapatkan barang berkua­li­tas dengan harga yang supermurah. Maka, tak heran, saat IJ-Hallen dibuka, orang-orang akan berbondong-bondong mendatanginya.

Budi, mahasiswa asal Indo­nesia, sering mendapatkan barang-barang bermerek di IJ-Hallen. Ia mencontohkan, se­patu Timberland, pada salah satu lokapasar (marketplace) tanah air harganya sekitar Rp 5 juta. Namun, ia mendapat­kan sepatu serupa dengan kondisi masih mulus seharga  4 euro, setara Rp 75.000.

Bagi mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi di Belanda, keberadaan IJ-Hallen ibarat surga, terutama bagi mereka yang dituntut cerdik mengatur ke­uang­an.

Tentu karena barang-barang itu masih sangat layak pakai dan jauh dari kesan bekas, apalagi kumal. Selain itu, alasan kepraktisan menjadi motif lain. Kebanyakan me­reka tidak menggunakan ba­rang tersebut untuk waktu yang lama mengingat periode ma­sa studi yang singkat.

Lain halnya dengan yang dialami Aminuddin TH Siregar yang tengah meneliti Indonesian Art Historiography di ­Leiden University for Area Studies, Faculty of Humanities.

Pada ­suatu kunjungannya ke IJ-Hallen, ia menemukan lukisan karya Jan Toorop, se­orang seniman terkenal pada era 1920-an yang merupa­kan kelahiran Purworejo dan kemudian pindah ke Belanda.

Lukisan bergaya simbolis dengan ukuran A4 tersebut ia dapat­kan dengan harga 25 ­euro saja. Padahal, menurut perkiraannya, di tangan kolektor harga lukisan itu sedikitnya seharga 3.000 euro.

”Tanda tangannya jelas. Se­orang kurator Belanda yang juga karib saya mengakui bahwa lukisan ini autentik,” katanya.

Banyaknya barang antik dan bernilai yang tersimpan di IJ-Hallen, terutama yang ber­hubungan dengan Indonesia masih ­sering ditemukan.

Ba­rang-barang itu diduga berasal dari para ­pensiunan Belanda yang kembali dari Indonesia pada era kolonial. Besar kemungkinan mereka membeli berbagai barang untuk ­me­nge­nang mooi-nya (indah) Indonesia, seperti dari Batavia dan Bandung.

Aminuddin atau Ucok, begitu biasa dipanggil, yang juga dosen FSRD ITB mengaku beberapa kali menemukan lukis­an yang di­sinya­lir merupakan hasil karya seniman terkenal lainnya.

PASAR loak IJ-Hallen/YOURLITTLEBLACKBOOK

Hal itu tampak dari nuansa lukisan dan teknik dari lukisan itu sendiri yang menandakan bahwa hasil karya itu bukan dihasilkan oleh seniman sembarangan.

”Barang-barang ini mungkin dulunya ada di Indonesia kemudian dibawa kemari. Di sini menariknya bagaimana kita menemukan barang-barang berharga ini, bagaimana menyelamatkannya dari rongsokan,” katanya.

Dari penelusuran saya, setidaknya IJ-Hallen memiliki dua segmen pengunjung yang berbeda. Pertama, pengunjung yang mencari barang yang sarat nostalgia ataupun nilai sejarah. Segmen lainnya adalah pengunjung yang membidik barang bermerek dengan harga murah meriah.

Beli dan pakai ulang

Hampir tiga pekan di Negeri Kincir, saya menemukan bahwa ber­belanja barang bekas bukanlah sesuatu hal yang me­malukan.

Masyarakat di ne­geri ini, termasuk mahasiswa asing, terbiasa untuk membeli barang bekas yang memang mayoritas masih dalam kondisi sangat bagus dan layak pakai. Selain IJ-Hallen, kita juga bisa mene­mu­kan hal serupa di kring­loop, yakni toko barang bekas yang bisa ditemukan di setiap kota.

Kondisi tersebut tentu memantik tanya dalam benak, bagai­mana masyarakat di negara maju tidak tabu untuk menggunakan barang bekas. Sementara, di negeri sendiri, kita lebih terbiasa untuk membeli barang baru.

Hans de Bekker, seorang antropolog yang juga kandidat doktoral dari LEAD Program­me menuturkan, masyarakat Belanda meyakini membuang barang bukanlah tindakan yang baik.

Perbuatan tersebut bisa dikategorikan sebagai waste atau penghamburan karena boleh jadi barang yang dibuang itu masih diperlukan atau ­dimanfaatkan orang lain.

Mengenai harga barang di IJ-Hallen dan kringloop yang sangat murah, bahkan tak jarang ada yang diberikan secara cuma-cuma, Hans menuturkan, pada prinsipnya bukan demi mendapat uang, melain­kan upaya untuk mengeluarkan barang bekas tersebut agar tak menumpuk di rumah.

 ”Rumah di sini di-setting efisien sehingga ketika kita mau menambah satu barang, harus ada yang dikeluarkan,” ujarnya menambahkan.

Kultur dan pemahaman itu  rupanya menular juga ke mahasiswa asal Indonesia yang bersekolah di Belanda.

Mereka tak sungkan menggunakan barang bekas, baik dengan membelinya di toko maupun di pasar lokal atau juga dari sesama mahasiswa yang sudah akan kembali ke tanah air. Bahkan, pada satu kesempatan saya melihat bagaimana mesin cuci, mesin pengering bermerek Bosch, kulas, micro­wave, hingga sepeda diberi­kan secara cuma-cuma.

Kejadian menarik dialami Budi saat dia memungut jaket kulit seharga kurang lebih 70 euro di toko secara gratis dan di dalam saku jaket itu ada kepingan uang logam 2 euro.

”Lihat, di jaket yang gratis pun ternyata ada uang,” ujarnya seraya tertawa.

Beberapa mahasiswa  sepakat bahwa apa yang dilakukan masyarakat negeri kincir ini patut ditiru. Alur barang bekas selaras dengan konsep reuse yang ramah lingkungan.

Pe­man­faatan barang bekas, secara tidak langsung membuat setiap individu ikut mengurangi potensi keru­sakan ling­kungan.***

Bagikan: