Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Data Kotak Hitam Ethiopian Airlines dan Lion Air Mirip

Huminca Sinaga
ILUSTRASI pesawat Ethiopian Airlines.*/ AMR ABDALLAH DALSH/REUTERS
ILUSTRASI pesawat Ethiopian Airlines.*/ AMR ABDALLAH DALSH/REUTERS

ADDIS ABABA, (PR).- Data yang didapatkan dari kotak hitam penerbangan pesawat ET 302 milik Ethiopian Airlines yang jatuh minggu lalu menampilkan data yang serupa dengan data pesawat Lion Air yang jatuh di Indonesia beberapa bulan yang lalu.

Seperti dilansir The Guardian, Senin, 18 Maret 2019, temuan ini bertepatan dengan upacara pemakaman sebagian korban pesawat ET 302 yang diselenggarakan di Addis Ababa pada Minggu waktu setempat.

Sebanyak 17 peti kosong dimakamkan sebagai bentuk penghormatan kepada korban. Peti yang kosong tersebut dikarenakan evakuasi dan pengidentifikasian korban membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Menteri perhubungan Etiopia, Dagmawit Moges, mengungkapkan bahwa kotak hitam pesawat ET 302 berhasil didapatkan dalam kondisi yang baik sehingga data yang ada di dalamnya bisa diambil semua.

Informasi yang didapatkannya sejauh ini menunjukkan persamaan antara kedua kecelakaan. Akan tetapi, menteri tersebut tidak menyebutkan secara detail persamaan antara kedua tragedi itu. Dirinya mengatakan bahwa hal tersebut akan dijadikan subyek penelitian lebih lanjut.

Hasil rekaman data penerbangan dan suara kokpit dikirimkan ke Paris untuk diteliti lebih lanjut oleh Biro Penyelidikan dan Analisis Keselamatan Penerbangan Sipil (BEA). Menteri Moges mengatakan bahwa pemerintah Etiopia berencana merilis hasil temuan dalam waktu satu bulan.

Serupa Lion Air  

Lembaga Penerbangan Federal (FAA) di Amerika Serikat menyebutkan bahwa data satelit mereka menangkap pergerakan pesawat ET 302 yang serupa dengan pergerakan pesawat JT 610 Lion Air yang jatuh bulan Oktober lalu.

Kedua pesawat diketahui terbang dengan perubahan ketinggian yang tak menentu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pilot kesulitan mengendalikan pesawat. Sesaat setelah lepas landas, kedua pesawat berusaha kembali ke bandara. Kesalahan sensor dan perangkat lunak pesawat diduga menjadi salah satu penyebab jatuhnya pesawat.

CEO Ethiopian Airlines, Tewolde GebreMariam, mengkonfirmasi bahwa pilot pesawat ET 302 memang mengalami kendala dalam mengendalikan pesawat tepat sebelum mereka terjatuh.

"Dia kesulitan mengendalikan laju terbang pesawat, sehingga ia meminta izin untuk kembali ke landasan," ungkapnya seperti yang dikutip oleh CNN. Namun sesaat setelah petugas memberikan izin mendarat, pesawat menghilang dari radar.

Menanggapi pernyataan dari menteri perhubungan Etiopia, CEO Boeing Dennis Muilenburg mengatakan bahwa perusahaannya akan terus mendukung penyelidikan dan bekerja sama dengan petugas untuk mengevaluasi informasi terbaru yang tersedia.

Dirinya juga menyebutkan bahwa perusahaan Boeing tengah mengembangkan pembaruan perangkat lunak yang akan mencegah kesalahan pada pemasukan sensor pesawat yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Jatuhnya pesawat ET 302 Ethiopian Airlines dan JT 610 Lion Air sendiri membuat Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya melarang penggunaan pesawat Boeing 737 Max.

Sepekan lalu, Dan Elwell dari otoritas Penerbangan Sipil AS (FAA ) mengatakan kecelakaan yang dialami Ethiopian Airlines mirip dengan Lion Air.  "Menjadi jelas bagi semua pihak bahwa pola (penerbangan) Ethiopian Airlines sangat dekat dan berperilaku sangat mirip dengan penerbangan Lion Air," ujar Elwell seperti dikutip BBC.

Masih kata Elwell, bukti yang telah ditemukan pihaknya di darat membuat FAA beanggapan pola penerbangan Ethiopian Airlines sangat mirip dengan Lion Air. 

AS adalah negara terbaru yang menangguhkan Boeing 737 Max agar tidak terbang setelah negara-negara lain, termasuk Inggris, Uni Eropa, India, Tiongkok dan Australia.***

Bagikan: