Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Christchurch: Mengapa Kota Kecil Jadi Target Teror?

Huminca Sinaga
WARGA meletakkan bunga di depan Masjid Wellington, Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu 16 Maret 2019. Warga Wellington meletakkan bunga sebagai aksi solidaritas pascapenembakan di dua masjid kota Christchurch pada Jumat 15 Maret 2019.*/RAMADIAN BACHTIAR/ANTARA
WARGA meletakkan bunga di depan Masjid Wellington, Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu 16 Maret 2019. Warga Wellington meletakkan bunga sebagai aksi solidaritas pascapenembakan di dua masjid kota Christchurch pada Jumat 15 Maret 2019.*/RAMADIAN BACHTIAR/ANTARA

ADA pertanyaan yang muncul dua puluh empat jam setelah tragedi penembakan terjadi di South Island, Christchurch. Mengapa kota kecil yang begitu sunyi dan damai ini bisa menjadi target terorisme terkejam di New Zealand? Lalu apa yang membuat si pelaku rela mengemudi sejauh 350 Km dari rumahnya yang berada di Dunedin ke Christchurch untuk melancarkan aksinya?

Dilansir The Guardian,  ada atmosfir yang janggal nan mencekam di kota yang dijuluki “the garden city” ini. Telah lama kota ini disebut sebagai kota yang paling mirip dengan Inggris yang berada diluar negara itu. Pasalnya,  banyak taman dan bangunan bergaya gothic berdiri di sana. Kota ini dilintasi oleh sungai Avon di tengah-tengahnya, dan di pusatnya ada gereja katerdal Christchurch yang sempat ruak parah akibat gempa terparah di kota tersebut pada 2011 lalu.

Paul Buchnan, seorang analis keamanan mengatakan bahwa dari 340.000 warga Christchurch,  1% sampai 2%nya adalah muslim. Dia mengatakan, dekatnya jarak antara kedua masjid (5,5 km) dan ukurannya yang besar serta kurangnya keamanan membuat mereka menjadi "sasaran empuk".

“Pemilihan Donald Trump memperkuat para ekstrimis kanan di seluruh dunia, tak terkecuali di Selandia Baru. Para ekstrimis kanan di berbagai negera semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, mereka tidak berada di bawah pengawasan layanan keamanan komunitas Muslim itu sendiri,” tambahnya.

Masih dilansir The Guardian, setelah gempa bumi Christchurch 2011, yang menewaskan 185 orang dan menghancurkan banyak bangunan,  otoritas berwenang sempat menghentikan program pembangunan tempat suaka bagi pengungsi. Pasalnya, mereka fokus untuk membangun kembali pusat kota yang hancur akibat gempa mengerikan pada 2011 tersebut.

Di tahun-tahun yang sama, Christchurch juga kehilangan 20.000 penduduknya. Mereka tidak lagi melihat masa depan untuk dirinya sendiri di kota itu. Masalah kesehatan mental, KDRT, dan tingkat penggunaan narkoba juga meningkat.

Sentra pengungsi

Tahun lalu, setelah sebagian besar infrastruktur yang rusak selesai dibangun, kota Christchurch pun mulai beroperasi kembali menjadi pusat  pemukiman pengungsi. Kota itu menyambut hangat orang-orang dari Suriah dalam jumlah besar. Beberapa di antaranya turut  menjadi korban tewas dalam tragedi Jumat lalu. 

Perdana Menteri Jacinda Arden yang sangat pro imigran, telah menambahkan kuota para pengungsi dari 750 orang per tahun menjadi 1500 orang. Kebanyakan dari para pengungsi itu berasal dari Suriah. 

Tempat pengungsian yang dibangun pemerintah itu di kota  Dunedin dan Chistchurch dimana populasi mereka kebanyakan adalah orang-orang tua. Saat itulah, warga Muslim pun mulai merebak diantara penduduk homogen tersebut. Jumlah populasi Muslim di Christchurch lebih besar ketimbang di kota Dunedin tempat pelaku serangan teror menetap setelah pindah dari Australia bebeapa bulan lalu. 

Prof Robert Patman, pakar hubungan internasional di Universitas Otago, mengatakan, sementara ini masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ukuran populasi Muslim Christchurch, yang lebih besar dari Dunedin, bisa jadi sebuah alasan untuk menjadikannya target.

Dia juga mengatakan kalau reputasi Selandia Baru sebagai negara yang cinta damai bisa menjadi pertimbangan pelaku dalam melancarkan aksi terornya.
“Selandia Baru memiliki semua hal yang mereka (ekstremis) benci. Negara ini sangat indah dan sangat mencintai perbedaan dan toleransi. Hal tersebut, dalam sudut pandang kaum ekstremis, akan mengantarkan sebuah kebanggaan tersendiri jika mereka berhasil melancarkan aksinya.”

Akan tetapi,kata Patman, warga Selandia Baru tak terpengaruh dengan ideologi ekstremis yang rasis.  Warga Selandia Baru akan terus menganggap penduduk Muslim sebagai saudara mereka. Ini membuat keinginan pelaku serangan teror yang ingin menyebarkan rasa takut dn kebencian di Selandia Baru gagal. 

Menurut penafsiran para ekstrimis, dunia Barat dan Muslim tidak bisa hidup berdampingan. Penafsiran ini salah total.  Kota Christchurch menjadi bukti bahwa penafsiran para ekstrimis salah karena mereka tetap hidup berdampingan dengan damai. (Huminca Sinaga/PR)***

Bagikan: