Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.303,00 | Hujan singkat, 28.8 ° C

Greta Thunberg Nomine Nobel Perdamaian

Huminca Sinaga
GRETA Thunberg.*/GRETA THUNBERG INSTAGRAM
GRETA Thunberg.*/GRETA THUNBERG INSTAGRAM

NORWEGIA, (PR).- Pelopor dari gerakan protes kaum muda terkait perubahan iklim telah disiapkan untuk menerima penghargaan Nobel sekaligus memimpin gerakan protes global yang telah direncanakan di lebih dari 105 negara.

Seperti dilansir The Guardian, Jumat, 15 Maret 2019, Greta Thunberg, pendiri dari gerakan Perlawanan Pemuda-Pemudi Terhadap Perubahan Iklim, telah dinominasikan untuk menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

Thunberg memulai aksi protes secara solo di Swedia pada bulan Agustus 2018 lalu di depan Gedung Parlemen Swedia. Sejak itu, aksi solonya telah menginspirasi para siswa di seluuh dunia. Aksi protes diperkirakan terjadi di 1.659 kota di 105 negara pada hari Jumat ini, melibatkan ratusan ribu pemuda-pemudi.

“Kami mengusulkan Greta Thunberg karena jika kita tidak melakukan apapun untuk menghentikan perubahan iklim, kelak akan terjadi perang, konflik, dan pengungsian akibat iklim yang berubah,” kata anggota parlemen Sosialis Norwegia Freddy André Øvstegård. “Greta Thunberg telah meluncurkan gerakan massa yang bagi saya merupakan kontribusi besar bagi perdamaian.”

“Saya merasa terhormat dan sangat berterima kasih atas pencalonan ini,” kata Thunberg lewat akun Twitternya seperti dikutip The Guardian.

“Esok hari kami akan #schoolstrike ( #aksimogokdisekolah) demi masa depan kita semua. Dan, kami terus melaksanakannya selama yang dibutuhkan,” cuit Greta. 

Ia secara pribadi sudah menantang para pemimpin saat KTT Iklim PBB pada akhir 2018 lalu dan juga di Davos pada bulan Januari 2019. “Perubahan iklim akan terjadi, terlepas dari mereka suka atau tidak,” katanya.

Para politisi nasional dan beberapa profesor universitas dapat mengajukan calon untuk penghargaan Nobel perdamaian yang akan dianugerahkan pada bulan Desember. Terdapat 301 kandidat untuk penghargaan tahun 2019: 223 individu dan 78 organisasi.

Pada tahun 2014, penghargaan perdamaian dianugerahkan kepada Malala Yousafzai, yang saat itu berusia 17 tahun.

Banyak pendukung

Meskipun beberapa politisi telah menentang aksi protes di sekolah, banyak juga politikus lain yang mendukungnya, termasuk Angela Merkel dari Jerman dan LeoVaradkar dari Irlandia. Walikota Paris, Milan, Sydney, Austin, Philadelphia, Portland, Oslo, Barcelona, dan Montreal juga menambahkan dukungan mereka pada hari Kamis waktu setempat.

“Sangatlah menginspirasi bagaimana para pemuda dan pemudi, dipimpin oleh seorang wanita muda yang cerdas dan gemilang, membuat suara mereka didengar dan menuntut tindakan penting bagi perubahan iklim. Benar sekali pernyataan mereka bahwa tindakan kita pada hari ini kelak akan menentukan masa depan mereka,” ujar Anne Hildago, walikota Paris dan ketua kelompok C40 di kota-kota.

“Pesan saya pada generasi muda sudahlah jelas: ini adalah tanggung jawab para orang dewasa dan para pemimpin politik untuk belajar dari kalian semua anak muda, dan memberikan masa depan yang kalian inginkan.”

Aksi protes tersebut juga didukung oleh mantan kepala gereja Anglikan Rowan Williams dan kepala Amnesti Internasional, Kumi Naidoo. “Seringkali anak-anak diberitahukan bahwa mereka adalah ‘pemimpin di masa depan’. 

Namun, jika mereka menunggu hingga ‘masa depan’ dalam melakukan tindakan, mungkin tak akan ada masa depan untuk dipimpin,” ujar Naidoo. 

“Hasrat dan tekad yang para generasi muda sudah tunjukan untuk bertarung dalam pertempuran penting ini telah membuat para pemimpin merasa malu dengan diri sendiri.”***

Bagikan: