Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Hujan petir singkat, 22.6 ° C

Aneh, Memasuki Desa Andaman Sepatu Harus Dilepas

Tim Pikiran Rakyat
PENDUDUK desa melepas sandal atau sepatu dan menentengnya ketika mereka memasuki desa.*/KAMALA THIAGARAJA/BBC
PENDUDUK desa melepas sandal atau sepatu dan menentengnya ketika mereka memasuki desa.*/KAMALA THIAGARAJA/BBC

ANDAMAN adalah sebuah desa di negara bagian Tamil Nadu di India selatan, yang berjarak 450 km (sekitar 7,5 jam perjalanan) dari ibu kota Tamil Nadu, Chennai. Sekitar 130 keluarga tinggal di sana dan mayoritas dari mereka bekerja sebagai buruh tani di sawah-sawah sekitarnya.

Ada kebiasaan unik warga Andaman, yakni melepas sepatu/sandal jika memasuki desanya. Sepatu akan dilepas di dekat pohon mimba besar sebagai tanda pintu masuk desa.

Di bawah pohon mimba itulah kisah yang menjadi ciri khas desa Andaman dimulai. Semua penduduk desa melepas sandal atau sepatu mereka dan menentengnya ketika memasuki desa.

Seorang penduduk Mukhan Arumugam, yang sudah berusia 70 tahun, menceritakan, tidak ada seorang pun di desa Andaman, kecuali yang sangat tua dan lemah, yang memakai sepatu. Dia sendiri bertelanjang kaki, meskipun dia mengatakan dia berniat untuk segera memakai sandal, terutama di bulan-bulan musim panas mendatang.

Jangan kaget jika melihat anak-anak dan remaja yang bergegas ke sekolah dan pasangan-pasangan yang pergi kerja, semuanya dengan santai membawa sepatu mereka di satu tangan. Sepatu itu terlihat seperti aksesoris, seperti dompet atau tas.

Terlihat juga Anbu Nithi, 10 tahun, yang mengayuh sepedanya dengan kaki telanjang. Nithi duduk di kelas lima di kota yang berjarak 5 km dari desa itu. Sejak kecil Nithi sudah diajarkan tradisi tidak mengenakan sepatu ketika berada di desanya. Dan dia sangat taat dan tak pernah melanggar aturan bertelanjang kaki di desa.

"Ibu saya memberi tahu saya bahwa seorang dewi yang sangat kuat bernama Muthyalamma melindungi desa kami. Sehingga kami tidak boleh memakai sandal di sini untuk menghormati-Nya," katanya kepada jurnalis BBC, Kamala Thiagarajan. 

"Jika saya mau, saya bisa, tapi itu akan seperti menghina seorang teman yang dikagumi semua orang," tambahnya.

Tradisi kuno

Begitulah  budaya di Andaman memang berbeda dengan desa lainnya. Tidak ada yang memaksakan praktik melepas sepatu/sandal itu. Tradisi itu bukan aturan agama yang ketat, melainkan tradisi kuno yang penuh cinta dan rasa hormat.

"Kami adalah generasi keempat dari penduduk desa yang hidup seperti ini," kata Karuppiah Pandey, seorang pelukis berusia 53 tahun. Dia menenteng sepatunya, tetapi istrinya, Pechiamma, 40, yang bekerja di ladang untuk memanen padi, mengatakan dia sama sekali tidak peduli dengan alas kaki kecuali ketika dia pergi ke luar desa.

Ketika seseorang mengunjungi desa mengenakan sepatu, mereka mencoba menjelaskan aturannya. Tetapi jika mereka tidak mematuhi, aturan itu tidak pernah dipaksakan.

"Ini murni pilihan pribadi yang dianut oleh semua yang tinggal di sini," kata Pechiamma. Meskipun dia tidak pernah memberlakukan aturan itu pada empat anaknya – yang sekarang sudah dewasa dan bekerja di kota lain – mereka semua mengikuti kebiasaan itu ketika mereka mengunjunginya.

Tetapi ada saat ketika warga menaati aturan ini karena rasa takut.

"Sebuah legenda mengatakan demam misterius akan menyerang Anda jika Anda tidak mengindahkan aturan itu," kata Subramaniam Piramban, 43, seorang pengecat rumah yang tinggal di Andaman seumur hidupnya.

"Kami tidak hidup dalam ketakutan ini, tetapi kami sudah terbiasa memperlakukan desa kami seperti ruang sakral — bagi saya, desa ini seperti bagian kuil," ujarnya.

Cara hidup

Untuk mengetahui bagaimana legenda ini berkembang, ada seorang sejarawan awam desa setempat bernama Lakshmanan Veerabadra, 62. Veerabadra, adalah sosok sukses mengejutkan di desa kecil ini. Kini, ia mempunyai sebuah perusahaan konstruksi di Dubai, setelah bekerja sebagai buruh upahan harian di luar negeri empat dekade yang lalu. Dia sering pulang ke desa, kadang-kadang untuk merekrut personel, tetapi kebanyakan untuk tetap terhubung dengan "akarnya".

Tujuh puluh tahun yang lalu, tuturnya, penduduk desa memasang patung tanah liat pertama Dewi Muthyalamma di bawah pohon Mimba di pinggiran desa. Saat pendeta sedang menghiasi patung itu dan orang-orang sedang khusyuk berdoa, seorang pria muda berjalan melewati patung dengan sepatu. Tidak jelas apakah pria ini memang berniat untuk melecehkan upacara itu, tetapi legenda itu mengatakan ia kemudian jatuh di tengah jalan. Malam itu, ia diserang demam misterius, dan butuh waktu berbulan-bulan baginya untuk pulih.

"Sejak saat itu, orang-orang di desa tidak memakai alas kaki apa pun. "Hal itu berkembang menjadi cara hidup," ungkap Veerabadra.

Setiap lima hingga delapan tahun sekali, selama bulan Maret atau April, desa ini menyelenggarakan festival pemasangan patung tanah liat Muthyalamma di bawah pohon Mimba. Selama tiga hari, sang dewi dipercaya akan memberkati seluruh desa, sebelum patung itu kemudian dihancurkan berkeping-keping supaya kembali ke elemen tanah.

Selama festival, desa dipenuhi dengan doa, pesta, arak-arakan, tarian dan drama. Tetapi karena biaya yang besar, acara itu tidak diadakan setiap tahun. Festival terakhir diadakan pada tahun 2011 dan belum pasti kapan acara berikutnya akan diadakan. Semua tergantung dari sumbangan penduduk lokal.

Banyak orang luar yang memandang legenda itu sebagai semacam takhyul aneh, kata Ramesh Sevagan, 40, seorang pengemudi. Namun, paling tidak, katanya, legenda itu telah mengukir rasa identitas dan komunitas desa yang kuat. "Tradisi ini telah menyatukan kita, membuat semua orang di desa merasa seperti keluarga," kata Sevagan.

Kekeluargaan di desa itu, katanya, juga sudah melahirkan adat setempat. Ketika seseorang di desa itu meninggal, misalnya, terlepas dari apakah orang yang meninggal itu kaya atau miskin, penduduk desa akan menyumbangkan uang – masing-masing 20 rupee – kepada keluarga yang berduka. "Selain ingin membantu tetangga, berada di sisi mereka di saat baik atau pun buruk, membuat kami merasa bahwa kami semua sama," kata Sevagan.***

Bagikan: