Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Berawan, 23.9 ° C

Kamp Reedukasi Uighur Kelak Akan Ditutup

Huminca Sinaga
TRUK yang mengangkut rombongan militer Tiongkok melintas di depan seorang pria etnis Uighur di Xinjiang.*/DOK. PR
TRUK yang mengangkut rombongan militer Tiongkok melintas di depan seorang pria etnis Uighur di Xinjiang.*/DOK. PR

BEIJING, (PR).- Pejabat tinggi Uighur mengatakan bahwa jumlah pelajar akan terus berkurang di pusat pembelajaran yang juga disebut kamp reedukasi itu. Seperti dilansir The Guardian, Kamis, 14 Maret 2019, para pejabat tinggi di Xinjiang mengisyaratkan bahwa suatu hari nanti sistem kamp reedukasi bagi satu juta minoritas Muslim  bisa saja dihapus.

Sejumlah besar warga, sebagian besar warga Uighur, ditahan di kamp-kamp penahanan dan pendidikan ulang di wilayah Barat Tiongkok. Para peneliti menyatakan bahwa penahanan tersebut merupakan salah satu tindakan keras dalam aksi keamanan besar-besaran yang mengatasnamakan kontra terorisme.

“Secara umum, jumlah siswa di pusat akan menjadi semakin sedikit. Jika suatu hari masyarakat kami sudah tidak membutuhkannya lagi, pusat-pusat pendidikan dan pelatihan itu akan hilang,” ujar Shohrat Zakir, gubernur di kawasan kamp tersebut berdiri sekaligus pejabat Uighur yang paling senior.

Komentar Zakir muncul setelah kritik internasional menggunung selama berbulan-bulan. Pernyataan Zakir yang pro pemerintah komunis Tiongkok itu, menandakan adanya fase baru dalam kampanye pemerintah Beijing di Xinjiang. 

Adrian Zenz, seorang peneliti yang berfokus pada Xinjiang dan Tibet, mengatakan, “Pernyataan ini sepertinya menandakan bahwa sebagian besar dari tahanan saat ini bisa jadi kelak akan dibebaskan. Ini juga merupakan indikasi yang jelas dimana negara tersebut percaya bahwa kampanye pendidikan ulang pada dasarnya sudah  berhasil.”

Akan tetapi, lanjut Zenz, bisa saja kamp-kamp itu tidak akan ditutup. Ancaman akan dikirim kembali ke kamp bisa menjadi alat kontrol lainnya. “Saya percaya kamp-kamp itu merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk kontrol sosial, dan tidak hanya di Xinjiang saja,” kata Adrian Zenz kepada The Guardian.

Beberapa laporan yang didasarkan pada kesaksian para kerabat, para tahanan memang perlahan-lahan dibebaskan dari kamp, tapi tetap berada di bawah pengawasan. Laporan lain mengatakan bahwa kamp-kamp itu mendukung sistem kerja paksa dimana para tahanan dibebaskan tetapi diperintahkan untuk bekerja di pabrik-pabrik tekstil.

Zakir mengatakan para siswa seusai menamatkan pendidikan di kamp reedukasi bisa mendapat penghasilan antara 1.500 yuan hingga 2.000 yuan (sekira Rp 3 juta - Rp 4,5 juta) setiap bulannya. ***

 

Bagikan: