Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Umumnya berawan, 23.2 ° C

WNI Korban Tragedi Boeing Max 8 Akan Dimakamkan di Roma

Huminca Sinaga
HARINA Hafitz (tengah), WNI korban kecelakaan Ethiopian Airlines ET 302 .*/ DOK. KELUARGA
HARINA Hafitz (tengah), WNI korban kecelakaan Ethiopian Airlines ET 302 .*/ DOK. KELUARGA

ROMA, (PR).- Kecelakaan Ethiopian Airlines ET 302 masih meninggalkan duka bagi banyak orang. Pasalnya, seluruh  penumpang dan kru pesawat  dipastikan tewas, termasuk seorang WNI bernama Harina Hafitz (59) yang bekerja untuk Badan Pangan PBB (WFP).

Harina akan dikuburkan di Roma, Italia. Demikian disampaikan oleh adik almarhumah, Harlinda Putri Hafitz yang dihubungi kontributor Pikiran Rakyat, Rieska Wulandari di Milan, Italia.

Harlinda Putri mengatakan, saat mendengar berita kecelakaan tersebut, ia baru selesai menjalankan reuni keluarga di Roma dan sedang berada di Turki untuk keperluan pribadi.

Begitu mendengar berita, Harlinda segera kembali ke Roma dan meninggalkan kegiatannya di Turki, untuk mengurus jenazah dan mendampingi keluarga kakak tercintanya.

Sementara itu, KBRI di Roma segera melakukan pelayanan dan pendampingan antara lain menjemput Harlinda di bandara Italia dan mengantar keluarga ke rumah korban di Roma.

Bersama adik korban hadir pula Duta Besar RI untuk Italia, Siprus, Malta,  San Marino serta FAO, IFAD, WFP dan UNIDROIT,  Esti Endayani dan Pejabat Koordinator Fungsi Protokoler KBRI Roma,  Dyah Andarini. Mereka secara resmi menyampaikan duka cita dan bela sungkawa kepada keluarga korban.

Rombongan KBRI Roma juga bertemu langsung dengan suami korban, Eduardo de Gregorio yang merupakan warga negara Italia.

Merespons berita duka, pihak KBRI yang tengah melakukan peresmian gamelan Bali membuka upacara dengan acara mengheningkan cipta bagi korban pesawat. Pasalnya, korban jiwa yang berkewarganegaraan Italia juga cukup banyak.

Harlinda mengatakan, almarhumah  yang merupakan sulung dari empat bersaudara, sempat melakukan reuni keluarga pada 25 Februari lalu, sekaligus mengajak mereka menikmati Italia.

Selama di Roma, mereka sempat berkunjung ke lokasi-lokasi pariwisata Roma.

Harlinda mengatakan, dirinya membuat banyak foto dokumentasi untuk kakaknya.

“Ada perasaan khusus yang mendorong saya untuk membuat banyak foto kakak saya. Termasuk ketika saya mengunggah foto makan yang saya beri judul Our Last dinner for this trip (makan malam terakhir kami pada perjalanan ini), tapi tidak menyangka ini benar-benar yang terakhir,” ujarnya.

Menurut keterangan Harlinda, selama reuni tersebut terlihat kesibukan kakaknya yang luar biasa.  Kakaknya, lanjut Harlinda, sempat mengatakan, seharusnya sudah terbang ke Afrika sejak dua bulan lalu. Namun ada penundaan dan akhirnya terbang pada akhir pekan lalu.

Ia menambahkan, keluarga telah memutuskan untuk melakukan pemakaman di Roma dan KBRI Roma menyatakan bersedia mencari pemakaman dan melaksanakan pemakaman dengan cara Muslim.

Keputusan melakukan penguruburan di Roma adalah agar almarhumah dekat dengan anak-anaknya yang masih syok dengan berita ini dan tidak mungkin sanggup melakukan perjalanan jauh untuk melakukan pemakaman di Indonesia.

“Lembaga PBB dalam hal ini WFP sendiri akan membantu penuh proses pemulangan dan pemakaman almarhumah, sesuai permintaan keluarga yaitu pemakaman dengan cara Muslim  dan dikuburkan di pemakaman Muslim di kota Roma,” ujarnya.***

 

 

 

Bagikan: