Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

AS Desak Korut Hancurkan Semua Senjata Nuklir

Huminca Sinaga
ILUSTRASI pembangkir nuklir.*/ANTARA/PR
ILUSTRASI pembangkir nuklir.*/ANTARA/PR

WASHINGTON, (PR).- Amerika Serikat mendesak Korea Utara untuk menghancurkan semua senjata nuklir, kimia, dan biologis yang miliknya jika ingin semua sanksi dicabut. Posisi kedua negara itu sendiri memanas setelah pertemuan pemimpin mereka di Hanoi minggu lalu.

Seperti dilansir The Guardian, Jumat 8 Maret 2019, Amerika Serikat melontarkan desakan tersebut setelah satelit menangkap foto Korea Utara yang membuka kembali pusat peluncuran roket luar angkasa yang sebelumnya ditutup setelah pertemuan pertama mereka pada Juni tahun lalu.

Kementerian luar negeri AS masih menunggu klarifikasi dari Pyongyang mengenai tujuan dibangunnya pusat peluncuran roket tersebut. Mereka juga mengingatkan bahwa peluncuran roket untuk keperluan apapun akan mengancam komitmen yang telah dibuat Kim Jong Un terhadap Donald Trump.

Penasihat keamanan nasional, John Bolton, mengatakan bahwa Presiden Trump kembali membuka kesempatan untuk melakukan pertemuan dengan Kim. Namun, Amerika Serikat ingin mendiskusikan kesepakatan untuk melucuti persenjataan Korea Utara supaya mereka dapat memiliki “masa depan yang cerah”.

Otoritas Kementerian Luar Negeri AS menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak akan melakukan pencabutan seluruh sanksi sebelum Korea Utara melucuti semua persenjataan mereka.

“Bagaimanapun juga kami berharap denuklirisasi Korea Utara sebagai syarat untuk dapat menjalankan langkah-langkah lainnya,” ungkapnya.

Mereka mengatakan bahwa negosiasi yang sebelumnya dilakukan antara kedua negara tidak berjalan dengan baik.

“Kami mencoba (pendekatan) yang baru kali ini,” ungkapnya. Mereka yakin denuklirisasi Korea Utara bisa dicapai di akhir era kepemimpinan Trump.

Terlalu berlebihan

Victor Cha yang bertugas diCentre for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa permintaan denuklirisasi dari kelompok Trump merupakan sebuah penawaran yang terlalu berlebihan.

“Menurut pandangan saya (keputusan) ini akan memburuk sebelum menjadi lebih baik,” ungkapnya. “Satu pelajaran yang dapat diambil oleh kedua negara dari Hanoi yakni keduanya menganggap tekanan akan membuahkan hasil. Kini, keduanya mencoba melunakan posisi satu sama lain.”

Foto satelit terbaru menunjukan bahwa pusat peluncuran roket luar angkasa Sohae telah beroperasi kembali.  Meski hanya digunakan untuk meluncurkan satelit, tetapipeluncuran roket tersebut menggunakan teknologi yang sama untuk meluncurkan Peluru Kendali Balistik Antarbenua (ICBM).

Pergolakan pun kian memanas setelah dikabarkan terjadi aktivitas di area industri Korea Utara yang memproduksi rudal ICBM dan roket luar angkasa.

“Fakta bahwa kedua area industri aktif pada waktu yang bersamaan menunjukan ada persiapan untuk melakukan peluncuran baru, namun belum dapat dipastikan apa mereka akan melakukan peluncuran,” ungkap Melissa Hanham, pakar Korea Utara dariYayasan One Earth Future.

Lebih berat

Grace Liu dari Middlebury Institute of International Studies di Monterey mengungkapkan bahwa Korea Utara tampaknya berencana untuk meluncurkan roket luar angkasa. Namun, dirinya juga menambahkan bahwa mereka bisa saja memasang mesin ICBM terbaru pada roket tersebut untuk meluncurkan satelit yang lebih berat.

Kabar mengenai kemungkinan peluncuran rudal ini merupakan lanjutan dari pertemuan di Hanoipekan lalu yang gagal mencapai kesepakatan. Hal ini merupakan pertanda bahwa kesepakatan yang dibuat tahun lalu untuk mendamaikan ketegangan antar dua negara, mungkin akan mulai runtuh. Presiden Trump sendiri pernah menunjukan berhentinya aktivitas pengetesan rudal atau nuklir selama 2017 sebagai pencapaian diplomatisnya.

Kementerian Luar Negeri AS mengatakan bahwa mereka telah melihat pembangunan yang dikerjakan di Sohae, namun belum menemukan alasan di balik pembangunan tersebut.

Situs Korea Utara, 38 North, mengeluarkan sebuah rekaman satelit yang menunjukan bahwa rekonstruksi di fasilitas peluncuran satelit Sohae telah selesai dibangun.

“Mengingat konstruksi dan aktivitas di sekitar kawasan tersebut, Sohae tampaknya akan kembali beroperasi,” ungkap situs tersebut.

Meski begitu, Direktur Situs38 North, Joel Wit, mengungkapkan bahwa pembangunan pusat peluncuran roket bukan berarti akan ada peluncuran apalagi meluncurkan ICBM.

“Untuk apa mereka melakukannya dari tempat peluncuran yang bisa dilihat semua orang?” ungkapnyaseperti dilansir The Guardian.***

Bagikan: