Pikiran Rakyat
USD Jual 14.083,00 Beli 13.783,00 | Umumnya cerah, 17.6 ° C

Indonesia Kirimkan Tim Identifikasi ke Filipina Terkait Bom Bunuh Diri

Puga Hilal Baihaqie
SEORANG anggota Angkatan Darat Filipina memeriksa kerusakan di dalam sebuah gereja setelah serangan bom di Jolo, provinsi Sulu, Filipina 27 Januari 2019. Angkatan Bersenjata Filipina.*/REUTERS
SEORANG anggota Angkatan Darat Filipina memeriksa kerusakan di dalam sebuah gereja setelah serangan bom di Jolo, provinsi Sulu, Filipina 27 Januari 2019. Angkatan Bersenjata Filipina.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Pemerintah Indonesia menerjunkan tim untuk melakukan identifikasi terhadap korban dan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel, Jolo, Filipina yang terjadi 27 Januari 2019. Adapun tim yang berangkat ke Filipina terdiri dari Detasemen khusus 88 antiteror, Badan Intelejen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Kementerian Luar Negeri.

Meski belum dipastikan adanya keterlibatan WNI dalam aksi yang merengggut nyawa 22 orang dan lebih dari 100 orang luka-luka itu, namun Pemerintah Indonesia tetap mengirimkan timnya. 

"Keterlibatan Indonesia dalam identifikasi tersebut karena ada dugaan dari salah satu pejabat berwenang di negara tersebut yang menyebutkan dua orang terdiri suami isteri merupakan pelaku bom bunuh diri. Perwakilan Indonesia akan berupaya semaksimal mungkin melakukan proses identifikasi," kata Kepala Divisi Humas Polri Muhammad Iqbal di Jakarta, Selasa 5 Februari 2019. 

Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Sinyo Harry Sarundajang, dalam keterangan persnya menyatakan otoritas Filipina belum bisa menunjukan adanya bukti keterlibatan WNI dalam pengeboman Gereja Our Lady of Mt Carmel, di Kepulauan Jolo bagian Selatan Filipina tersebut. 

Hingga kini kepolisian Filipina belum mengeluarkan hasil tes DNA terhadap para jenazah pelaku, untuk membuktikan bahwa ada sepasang suami isteri WNI yang terlibat dalam pengeboman tersebut. Selain itu, rekaman kamera pengintai (CCTV) di sekitar lokasi ledakan juga belum disampaikan ke publik, terkait tudingan Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano, dengan menyebutkan salah seorang perempuan WNI yang menjadi bom bunuh diri masuk ke dalam gereja dan duduk di barisan belakang. 

Namun Ano sudah meyakini bila pasangan suami istri itu merupakan WNI. Dalam keterangan persnya di Provinsi Visayas Filipina pada 1 Februari 2019, Ano menyebutkan bila pelaku bernama Abu Huda dari Indonesia, dengan salah seorang isterinya yang identitasnya belum diungkap ke publik.

"Pihak intelejen Filipina (NICA) belum mengetahui dasar penyampaian indivasi yang diutarakan oleh Menteri Dalam Negeri Filipina tentang keterlibatan WNI. KBRI Manila telah menghubungi pihak NICa secara indival, dan menyatakan keterbukaannya kepada Pemerintah Indonesia untuk melakukan investigasi bersama," kata Harry dalam keterangan persnya. 

SEORANG anggota Angkatan Darat Filipina memeriksa kerusakan di dalam sebuah gereja setelah serangan bom di Jolo, provinsi Sulu, Filipina 27 Januari 2019. Angkatan Bersenjata Filipina.*/REUTERS

Tudingan keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya saat ledakan bom di Kota Lamitan Provinsi Basilan 31 Juli 2018, serta bom di Kota Cotabato menjelang akhir 2018, pemerintah negara jiran termasuk media negara tersebut menyebutkan adanya keterlibatan WNI.

Namun setelah dilakukan investigasi, tidak ditemukan adanya WNI dalam aksi teror di dua peristiwa tersebut.  Pihak otoritas Filipina menyebutkan sejumlah orang yang merupakan warga negara Filipina, telah ditangkap dalam aksi tersebut.

Mereka diketahui berafiliasi dengan kelompok ekstrimis Abu Sayyaf. Organisasi itu dikenal memiliki keterikatan dengan kelompok teroris internasional ISIS. 

Aksi bom bunuh diri dengan melibatkan anggota kelurga sebelumnya juga terjadi pada 13 Mei 2018 di Surabaya. Kepala keluarga, Dita Oeprianto, bersama isteri dan empat orang anaknya melakukan bom bunuh diri di Gereja Katholik Santa Maria Tak Bercela dan Gereja Protestan Pantekosta Surabaya.

Aksi tersebut mengakibatkan 28 tewas termasuk para pelaku yang merupakan satu keluarga tersebut.*** 

Bagikan: