Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 18.6 ° C

Ledakan Granat dalam Masjid di Filipina, 2 Guru Meninggal Dunia

Gita Pratiwi
Ilustrasi/DOK PR
Ilustrasi/DOK PR

MANILA, (PR).- Ledakan granat terjadi di sebuah masjid di Filipina selatan, Rabu 30 Januari 2019. Pihak berwenang mengatakan sebuah granat dilemparkan ke sebuah masjid di Kota Zamboanga tempat para guru Muslim tidur.

Dua guru meninggal, dan empat lainnya luka-luka. Demikian dilaporkan Antara melansir Reuters.

Insiden terjadi setelah tengah malam di Zamboanga, provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen di wilayah Mindanao. Zamboanga berada tidak jauh dari kepulauan Sulu yang kebanyakan Muslim, tempat insiden pengeboman gereja pada Minggu.

Militer menyerukan agar komunitas-komunitas di Mindanao bersatu dan mendesak masyarakat supaya tidak berspekulasi di media sosial yang dapat menyebarkan informasi yang tak akurat.

Komandan satgas wilayah Kolonel Leonel Nicolas menekankan bahwa insiden tersebut "bukan aksi balas dendam",pemboman sebuah katedral Katolik di Jolo Minggu, 27 Januari 2019.

Ia mengatakan para penyelidik berusaha untuk menentukan motif dan identitas tersangka dalam serangan itu. Para korban berasal dari Basilan dan provinsi terdekat, dan sedang berada di masjid untuk mengajarkan Islam kepada anak-anak.

Abu Sayyaf

Insiden-insiden tersebut menyusul referendum 21 Januari yang berjalan damai dan sukses. Para pemilih menyetujui otonomi bagi sekitar 5 juta penduduk di daerah-daerah yang mayoritas Muslim di Mindanao, menyusul perjuangan separatis selama beberapa dekade yang telah menewaskan sedikitnya 120.000 orang.

Muslim merupakan minoritas di Filipina yang penduduknya kebanyakan beragama Katolik dan mewakili sekitar 25 persen dari penduduk di wilayah Mindanao.

Kekerasan sektarian sangat jarang terjadi di sana dan rencana otonomi, yang bertujuan mengatasi kemiskinan, keterbelakangan dan kekerasan yang kronis, sebagian besar didukung oleh seluruh rakyat Filipina.

Dewan Ulama Semenanjung Zamboanga mengecam apa yang disebut sebagai satu "tindakan keji, tidak masuk akal dan tidak manusiawai" dan mendesak semua orang untuk tetap waspada.

Pemerintah meyakini faksi dari kelompok Abu Sayyaf menjadi dalang pengeboman di gereja. Saat kelompok tersebut berjanji setia kepada ISIS, kelompok tersebut terdiri dari sejumlah faksi dengan tujuan yang berbeda dan banyak terlibat dalam kasus pembajakan dan penculikan.***

Bagikan: