Pikiran Rakyat
USD Jual 14.083,00 Beli 13.783,00 | Umumnya cerah, 17.6 ° C

Dua Bom Tewaskan 21 Orang di Filipina, Abu Sayyaf Diduga Terlibat

Yusuf Wijanarko
Bom.*/DOK. PR
Bom.*/DOK. PR

MANILA, (PR).- Pengeboman ganda saat misa Minggu di gereja di Filipina bagian selatan menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai 71 orang.

Ledakan pertama muncul di katedral di Jolo, di Provinsi Sulu, diikuti ledakan kedua di tempat parkir mobil hingga menewaskan personel militer dan warga sipil.

Reuters melaporkan, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

Pengeboman terjadi setelah muncul pengumuman pada Jumat 26 Januari 2019, yang menyebutkan bahwa daerah itu yang dihuni warga mayoritas muslim itu mengseahkan rencana pemerintahan mandiri pada 2020.

Langkah tersebut meningkatkan harapan perdamaian di Filipina, yang beberapa wilayahnya dilanda konflik, sekaligus salah satu negara termiskin di Asia.

Referendum pada Senin lalu menghasilkan 85 persen suara dukungan bagi pembentukan wilayah otonomi bernama Bangsamoro.

Meskipun Sulu menjadi salah satu dari sedikit daerah yang menolak otonomi, daerah itu tetap akan menjadi bagian entitas baru tersebut.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana menyebut, serangan bom sebagai tindakan pengecut dan meminta warga setempat waspada dan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mencegah menangnya terorisme.

"Kami akan menggunakan kekuatan penuh hukum untuk mengadili para pelaku di balik insiden ini," kata Lorenzana.

Juru Bicara Komando Militer Mindanao Barat Kolonel Gerry Besana mengatakan pemeriksaan material bom akan mengungkap dalang serangan.

Kepala Kepolisian Nasional Oscar Albayalde mengatakan gerilyawan kelompok Abu Sayyaf kemungkinan terlibat dalam insiden itu.

"Mereka ingin menggangu keamanan dan ketertiban. Mereka ingin unjuk kekuatan dan menabur kekacauan," kata Albayalde via radio.

Kawasan Jolo adalah benteng Abu Sayyaf, yang dikenal lewat serangkaian pengeboman dan kebrutalan, serta berbaiat kepada ISIS. Gerilyawan Abu juga sering terlibat dalam pembajakan dan penculikan.

Referendum pekan lalu digelar pada masa-masa kritis Filipina, yang berharap dapat mengakhiri konflik separatis puluhan tahun di Mindanao.

Konflik itu dikhawatirkan dapat menarik gerilyawan asing ke Mindanao untuk memanfaatkan perbatasan yang rapuh, hutan, dan pegunungan, serta melimpahnyapersenjataan.***

Bagikan: