Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 31.8 ° C

Drama Penyanderaan Samsul Saguni Oleh Abu Sayyaf Berakhir

Fani Ferdiansyah
DUBES Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang (kanan) menyampaikan sambutan disaksikan Wamenlu A.M.Fachir (kedua kanan) atas nama perintah Indonesia menyerahterimakan ABK kapal ikan korban penyanderaan kelompok bersenjata di Filipina Selatan atas nama Usman Yunus (kedua kiri) kepada istri/perwakilan keluarga di Kemenlu, Jakara, Kamis (13/12/2018). Usman Yunus diculik dan disandera oleh kelompok bersenjata di perairan dekat Pulau Gaya, Samporna, Sabah, Malaysia pada 11 September 2018.*/ANTARA
DUBES Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang (kanan) menyampaikan sambutan disaksikan Wamenlu A.M.Fachir (kedua kanan) atas nama perintah Indonesia menyerahterimakan ABK kapal ikan korban penyanderaan kelompok bersenjata di Filipina Selatan atas nama Usman Yunus (kedua kiri) kepada istri/perwakilan keluarga di Kemenlu, Jakara, Kamis (13/12/2018). Usman Yunus diculik dan disandera oleh kelompok bersenjata di perairan dekat Pulau Gaya, Samporna, Sabah, Malaysia pada 11 September 2018.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Samsul Saguni, WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan, dibebaskan pada 15 Januari 2019 sekitar pukul 15.35 waktu setempat. Melansir Kantor Berita Antara, Samsul Saguni saat ini berada di Pangkalan Militer Westmincom, Jolo, Filipina Selatan.

“(Di pangkalan militer) guna pemeriksaan kesehatan dan menunggu diterbangkan ke Zamboanga City,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal, Rabu 16 Januari 2019.

Setelah diserahterimakan secara resmi kepada KBRI Manila, Samsul Saguni akan diproses pemulangannya ke Indonesia. Samsul diculik pada 11 September 2018 di perairan Pulau Gaya, Semporna, Sabah, Malaysia.

Seorang WNI lainnya yakni Usman Yunus yang diculik bersamaan dengan Samsul telah lebih dahulu bebas pada 7 Desember 2018. Beberapa waktu lalu, video Samsul yang menangis meminta tolong sempat tersebar luas di media sosial Malaysia dan menjadi perhatian.

Menurut Iqbal, video seperti itu seringkali dikirimkan penculik kepada keluarga sandera untuk memberikan tekanan psikologis agar keluarga segera memberi tebusan yang diminta. Sejak 2016, sebanyak 36 WNI disandera di Filipina Selatan, 34 di antaranya sudah bebas, sementara dua WNI lainnya masih dalam upaya pembebasan.

Sebelumnya, Kemenlu mengonfirmasi bahwa video Samsul Saguni yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina beredar luas. Samsul dan Usman Yunus, diculik dari Pulau Gaya, Malaysia pada 11 September 2018.

Usman berhasil melarikan diri dari penculiknya pada 5 Desember dan telah dipersatukan kembali dengan keluarganya di Indonesia. "Sejak penyanderaan WNI pertama kalinya pada 2016, penyebaran video semacam ini sudah beberapa kali dilakukan oleh penyandera," ucap Lalu Muhammad Iqbal.

Dalam video berdurasi sekitar 10 detik itu, Samsul yang hanya mengenakan celana pendek berwarna merah muda tampak menangis sambil berkata, "Tolong saya, Bos, tolong saya, Bos, tolong."

Samsul berlutut di dalam lubang yang baru digali, sementara di belakangnya tampak dua orang berdiri dan menodongkan senjata laras panjang yang diarahkan padanya. Menurut sumber-sumber yang berbasis di Filipina, video itu dikirim oleh kelompok Abu Sayyaf ke pemilik kapal penangkap ikan untuk meminta uang tebusan untuk pembebasan Samsul.

Samsul ditahan bersama dengan tiga korban penculikan lainnya, yaitu seorang warga Malaysia dan dua orang warga Indonesia, yang ditangkap oleh orang-orang bersenjata dari kapal penangkap ikan di perairan dekat dengan rantai pulau-pulau Tawi Tawi di Filipina.***

 

Bagikan: