Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Cerah berawan, 26.2 ° C

Raja Malaysia Mundur Tak Lama Setelah Menikahi Oksana Voevodina

Huminca Sinaga
ISTIMEWA
ISTIMEWA

KUALA LUMPUR, (PR).- Pertama kalinya dalam sejarah, ­Raja Malaysia yang masih bertakhta, Yang Dipertuan Agung Sultan Muhammad, mengundurkan diri dari posisinya. Sultan baru saja menikah dengan Oksana Voevodina, Miss Moscow 2015.

Seperti dilaporkan BBC, Senin 7 Januari 2019, sebelum Sultan Muhammad V, belum ada raja Malaysia yang lengser dari takhta sejak negeri jiran meraih kemerdekaan dari Inggris lebih dari 60 tahun lalu.

Istana negara tidak menjelaskan alasan di balik pengunduran sang sultan.

”Yang Dipertuan Agung me­ngatakan kepada rakyat Malaysia agar terus bersatu untuk mempertahankan kesatuan, toleransi, dan kerja sa­ma,” demikian pernyataan Istana Negara seperti dikutip BBC, Senin 7 Januari 2019.

Sebelum mundur, Raja Malaysia sempat mengambil cuti. Selama masa cuti itu, secara mengejutkan Raja Malaysia melangsungkan pernikahan dengan mantan putri kecantikan Rusia di Rusia akhir November 2018 lalu.

Belum diketahui apakah ada kait­an antara pengunduran diri sang raja dan pernikahan dengan Oksana Voevodina tersebut.

Yang jelas, Sultan Muhammad V seharusnya masih menjabat sebagai raja sampai tahun 2021. Namun, dia memilih mundur setelah dua tahun berkuasa dengan alasan tidak jelas.

Istana Kerajaan Malaysia me­ngatakan bahwa raja yang berusia 49 tahun tersebut sudah mengundurkan diri sebagai Yang Dipertuan Agung Malaysia yang kelima belas tanpa memberikan alasan di balik keputusannya itu.

ISTIMEWA

Menikahi Oksana Voevodina saat cuti sakit

Dilansir ABC Net Australia, Sultan Muhammad V, yang sebelumnya adalah Sultan Kelantan diambil sumpahnya bulan Desember 2016 lalu dan menjadikannya raja termuda dalam sejarah negeri jiran.

Bulan November 2018 lalu ber­edar kabar bah­wa Sultan Muhammad menikahi mantan ratu kecantikan Rusia Oksana Voevodina. Voevodina berusia 25 tahun, dan raja menikainya ketika sedang cuti sakit selama dua bulan.

Dalam laporan yang muncul di media Rusia dan Inggris dan ber­edar luas di media sosial me­nun­jukkan gambar-gambar pesta per­nikah­an yang dilaporkan terjadi di Moskow.

Terkait pernikahan itu, sejauh ini tidak ada pengukuhan sama sekali. Baik itu dari Sultan, pihak Istana maupun pemerintah Malaysia.

Spekulasi mengenai kemungkinan Sultan Mu­hammad V akan mengundurkan diri muncul minggu lalu beberapa saat setelah dia kembali dari cutinya. 

Akan tetapi, Perdana Menteri Mahathir Mohamad, Jumat lalu, me­nga­takan bahwa dia ti­dak mengetahui adanya rencana pengunduran diri.

Yang Dipertuan Agung Malaysia yang merupakan jabatan kehormatan tanpa adanya keku­asaan politik. Jabatan ini digilir oleh sembilan kesultanan yang ada, dengan masa jabatan raja berlangsung selama lima tahun.

Pernyataan dari istana menyebutkan bahwa Yang Dipertuan Agung berterima kasih atas kesempatannya menjadi raja serta meng­ucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri dan pemerintah atas kerja sama mereka selama dia menjabat.

Bersitegang 

Harian Malaysia The New Straits Times melaporkan bahwa sejak Mahathir memenangi pe­milu Mei 2018 lalu, muncul ketegangan antara istana kerajaan dan pemerintah.

Mahathir yang sebelumnya pernah berku­a­sa selama 22 tahun, dilaporkan kerap berbeda pendapat dengan pihak Kerajaan Malaysia. So­sok Mahathir saat ini berbeda saat dulu dia ber­kuasa selama 22 tahun. 

Di usianya yang sudah lebih dari 90 tahun itu, Mahathir muncul menjadi sosok pemimpin yang inklusif. Di masa lalu, Mahathir dikenal se­bagai pemimpin yang mengistimewakan ka­langan etnis Melayu yang merupakan mayoritas di Malaysia.

Akan tetapi, sikapnya ini berubah total sejak dia memutuskan menjadi oposisi. Mahathir menunjukkan sosoknya seabgai pemimpin bagi se­mua kalangan, baik itu Melayu, etnis Tionghoa maupun India. Bahkan, sikap politiknya pun kini cenderung liberal dan globalis. 

Mahathir di usianya yang sudah sepuh itu, ju­ga tak melulu manut dengan pihak kerajaan. Bahkan, dilansir ABC Net, minggu lalu lewat unggahan di blog, Mahathir menuliskan bahwa semua orang mulai dari pihak kerajaan, perdana menteri, menteri, pegawai negeri, hingga rakyat biasa harus tunduk pada hukum. 

Unggahannya ini menegaskan bahwa tak ada seorang pun, meski­pun itu raja, kebal da­ri hukum Malay­sia. Sebelumnya, sudah menjadi rahasia umum, keluarga kerajaan kerap mendapatkan perlakuan khu­sus, termasuk kasus berbau hukum.

Keindependenan sikap Mahathir yang tak bisa diintervensi kerajaan, juga terlihat saat bulan Juni 2018 lalu. Saat itu, pemerintah dan pihak kerajaan bersitegang selama dua minggu mengenai rencana pemerintah mengangkat calon bukan dari suku Melayu sebagai jaksa agung. 

Setelah sempat bersitegang, Raja akhirnya menyetujui peng­ang­katan jaksa agung non-Melayu tersebut.***

Bagikan: