Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 23.4 ° C

Budaya Jadi Alasan Jepang Memburu Paus

Huminca Sinaga
Sashimi Ikan Paus di salah satu restoran sushi yang ada di Jepang.*/REUTERS
Sashimi Ikan Paus di salah satu restoran sushi yang ada di Jepang.*/REUTERS

TOKYO, (PR).- Jepang mengatakan akan memulai kembali perburuan secara komersial paus pada Juli 2019. Rencana ini langsung mendapat kecaman keras masyarakat internasional.

Karena telah memutuskan melanjutkan perburuan paus secara komersial, Jepang pun keluar dari Komisi Penangkapan Paus Internasional (IWC). 

Dilansir BBC, Kamis, 27 Desember 2018, selama bertahun-tahun Jepang berburu hewan mamalia ini dengan alasan ”untuk penelitian ilmiah”. Namun, Jepang juga menjual daging paus, langkah yang dikecam para pegiat lingkungan.

Pemerintah Australia dan Selandia Baru juga mengkritik keputusan pemerintah di Tokyo.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne menggambarkan langkah Jepang ”sangat disayangkan”. Pemerintah Selandia Baru mengatakan, praktik perburuan paus ”sudah kuno dan tak diperlukan”. Kedua negara ini sangat menentang kegiatan tahunan Jepang memburu paus di Laut Antarktika.

Larangan perburuan paus diterapkan pada 1986 setelah beberapa spesies mamalia ini hampir punah.

Dengan mundur dari keanggotaan IWC, Jepang bisa dengan bebas memburu paus, termasuk paus minke yang dilindungi. Laporan wartawan BBC Rupert Wingfield-Hayes menyebutkan bahwa pemerintah Jepang selama ini selalu menggunakan alasan budaya untuk membenarkan perburuan paus secara komersial. Pemerintah setempat mengatakan, memakan daging paus adalah bagian dari kebudayaan mereka.

Para pejabat Jepang juga mengatakan bahwa ”makan adalah urusan dalam negeri dan tak semestinya didikte oleh negara lain”.

”Orang Jepang tak pernah makan daging kelinci, tetapi kami tak pernah mengatakan kepada orang-orang Inggris untuk tidak mengonsumsi daging binatang tersebut,” kata seorang pejabat Jepang kepada BBC.

Selain Jepang, yang juga punya tradisi memburu paus adalah Norwegia, Islandia, dan orang-orang Inuit di Kanada utara. Bedanya adalah, Jepang mengerahkan kapal-kapal besar dan berlayar hingga ke perairan Antarktika untuk mencari paus.

Armada Jepang mencakup kapal yang dilengkapi fasilitas yang bisa memproses ratusan paus langsung di tengah laut.

Masyarakat Jepang Mengonsumsi Ikan Paus.*/REUTERS

Tahun 1930

Jepang pertama kali melakukan perburuan paus di Antarktika pada 1930-an dan skalanya menjadi jauh lebih besar setelah Perang Dunia II. Jepang porak-poranda akibat perang dan penduduknya kelaparan.

Atas usul Jenderal Douglas MacArthur, Jepang mengubah dua kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi kapal pemroses ikan dan berlayar ke perairan di sekitar Antarktika.

Mulai akhir 1940-an hingga pertengahan 1960-an, paus adalah sumber utama daging bagi Jepang. Pada 1964, Jepang membunuh lebih dari 24.000 paus dalam setahun, sebagian besar dari jenis paus fin dan paus sperma.

Sekarang, Jepang termasuk negara maju dan mampu mengimpor daging dari Australia dan Amerika. Mereka tak perlu lagi berlayar jauh ke selatan untuk mencari paus.***

Bagikan: