Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Trump Isyaratkan Akan Kunjungi Pasukan AS di Afghanistan

Fani Ferdiansyah

PALM BEACH, (PR).- Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan pada Kamis 29 November 2018 pekan depan, dirinya akan mengunjungi Afghanistan, tempat salah satu perang terpanjang Amerika.

Pada Jum’at 23 November 2018, Reuters menulis, dalam sebuah pesan liburan Thanksgiving melalui teleconference kepada pasukan di Afghanistan, kepada seorang jenderal Angkatan Udara AS, Trump mengatakan dia akan melihatnya kembali ke AS, sebelum menambahkan, “Atau mungkin saya bahkan akan melihat Anda di Sana. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.”

Pimpinan komandan AS baru-baru ini secara rutin mengunjungi pasukan di zona perang aktif. Trump telah mendapat kecaman karena gagal melakukannya, meskipun Wakil Presiden Mike Pence membuat kejutan perjalanan ke Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan, pada Desember tahun lalu untuk mengunjungi pasukan.

Pada titik ini di kepresidenannya, bila dibandingkan dengan sejumlah Presiden AS sebelumnya, seperti mantan Presiden Barack Obama yang telah melakukan perjalanan ke Irak dan dua kali ke Afghanistan. Mantan Presiden George W. Bush pun melakukan perjalanan ke Afghanistan sebanyak dua kali dan empat kali ke Irak selama dua masa jabatannya di Gedung Putih.

Trump dikritik ketika ia membatalkan kunjungan yang direncanakan ke pemakaman militer AS selama kunjungan ke Paris bulan ini, karena helikopternya dihalangi oleh cuaca buruk selama perjalanan yang menandai peringatan 100 tahun berakhirnya Perang Dunia Pertama. Kembali di Washington pada Hari Veteran, ia pun gagal mengunjungi Arlington National Cemetery.

Ketika ditanya wartawan apakah dia akan mengunjungi zona perang, Trump berkata,"Pada waktu yang tepat, kami akan melakukan beberapa hal yang sangat menarik."

Terkait waktu, Trump mengaku tidak bisa memberitahukan meski ia berjanji akan melakukannya. Perjalanan kepresidenan ke zona perang biasanya diselubungi kerahasiaan karena alasan keamanan.

Trump pun tampak membela tindakannya, saat ia menanggapi kritik bahwa menelepon pasukan pada hari Thanksgiving masih belum cukup. Ia mengatakan bahwa dia telah menaikan anggaran untuk militer dan veteran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis pada Rabu 21 November 2018 sebelumnya, menjelaskan Trump tidak harus mengunjungi pasukan di zona perang.

"Presiden adalah panglima tertinggi dan dia memutuskan ke mana dia harus pergi. Ada saatnya saya tidak ingin dia di lokasi tertentu, untuk keamanannya dan keamanan pasukan," kata Mattis.

Amerika Serikat memiliki sekitar 14.000 pasukan di Afghanistan, yang bertugas dalam pelatihan dukungan misi dan penasehat resolute yang dipimpin NATO, serta dalam operasi kontra-terorisme yang terpisah terhadap kelompok-kelompok militan seperti ISIS.

Pasukan AS tiba di Afghanistan pada 2001, sebagai bagian dari kampanye untuk menggulingkan Taliban menyusul serangan 11 September di Amerika Serikat.***

Bagikan: