Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Sedikit awan, 24.1 ° C

Cari Produk Halal dan Berjenggot Bisa Dianggap Gejala Ekstremisme Agama di Xinjiang

Huminca Sinaga
PEDAGANG menyayat daging babi di sebuah pasar di Tiongkok.*
PEDAGANG menyayat daging babi di sebuah pasar di Tiongkok.*

BEIJING, (PR).- Otoritas berwenang di Xinjiang telah meluncurkan kampanye melawan "penyebaran produk halal". Seperti dilaporkan laman The Guardian, Rabu, pemerintah Xinjiang mengklaim, semakin banyak produk halal yang mendorong ekstremisme agama di wilayah Tiongkok yang dipantau secara ketat itu.

Para pejabat Partai di Urumqi, ibu kota Xinjiang, yang merupakan rumah bagi sekitar 12 juta orang dari minoritas Muslim, pada hari Senin menyerukan kepada pejabat pemerintah untuk memperkuat "perjuangan ideologis" dan melawan "halalifikasi". Seruan itu, seperti dikutip The Guardian, diunggah via akun Wechat milik lembaga Kejaksaan Rakyat Urumqi.

Istilah halalifikasi yang disasar pemda Xinjiang ini mengacu pada perluasan pelabelan halal - mulai dari makanan yang boleh dikonsumsi sesuai hukum Islam sampai kepada barang-barang non-makanan,  untuk menarik konsumen Muslim.

Pejabat dan media pemerintah Xinjiang mengatakan, pihaknya menentang halaifikasi karena semakin banyak produk berlabel halal, maka ini memungkinkan ritual Islam semakin menembus kehidupan sekuler di Tiongkok. Untuk diketahui, Tiongkok adalah negara komunis yang menjadikan ideologi komunis sebagai prinsip yang harus dinomorsatukan warga Tiongkok, apapun keyakinan mereka. 

Meski berpaham komunis, banyak warga Tiongkok beragama, seperti Buddha, Islam dan Kristen. Mereka yang beragama ini sering mengalami tekanan karena mereka tak bisa dengan bebas menjalankan keyakinan yang dianut.  

“Kecenderungan kelompok pro-halal mengaburkan batas antara agama dan kehidupan sekuler. Jadi mudah jatuh ke dalam lumpur ekstremisme agama, ” demikian laporan Global Times, media berbahasa Inggris milik negara dalam sebuah artikel tentang kampanye baru di Urumqi.

Kampanye ini datang sebagai protes atas kebijakan kontra-terorisme Tiongkok di kawasan Xinjiang. Aktivis HAM, peneliti dan media telah mendokumentasikan aksi pemerintah Xinjiang yang melakukan penggunaan pengawasan massal serta pembatasan kebebasan beragama dari sejumah minoritas di Tiongkok, termasuk Muslim Uighur, warga Kazakh, dan suku Hui di wilayah barat laut.

Berjenggot hingga diskon di pelayanan syariah pun dilarang



Para pengeritik kebijakan pemerintah Xinjiang mengatakan, Tiongkok berusaha untuk mengasimilasi minoritas ke dalam etnis Han yang menjadi mayoritas di Tiongkok, dengan cara menghilangkan tradisi Muslim. Sebelumnya, pihak berwenang setempat telah membatasi jenggot panjang, penutup kepala, atau pakaian Islami lainnya - yang dapat "membangkitkan fanatisme agama". 

Selain itu, semua kegiatan Haji harus dilakukan melalui tur yang diatur oleh negara. Intinya, semua kegiatan keagamaan di kalangan warga Tiongkok diawasi ketat oleh pemerintah. Selain Musim, warga kristen Tiongkok juga mengalami diskriminasi dari otoritas pemerintah komunis Tiongkok. Pemerintah tak ingin agama menjadi candu bagi masyarakat, sebagaimana tertuis dalam ajaran Marxisme yang menjadi fondasi ideoogi Tiongkok.

Masih dilansir The Guardian, inisiatif menentang pelabelan halal di Xinjiang untuk produk daging, produk susu dan minyak, telah mendapatkan momentum baru-baru ini. Pejabat di provinsi Gansu, rumah bagi populasi besar Muslim Hui, menutup lebih dari 700 toko yang menjual "produk halal" pada bulan Maret. Layanan seperti "potongan rambut halal" dan "kolam renang halal" juga telah dilarang.

Di bawah hashtag "halalification" atau dalam bahasa setempat disebut fanhua qingzhen, pengguna internet Tiongkok bersikap kritis terhadap tren unggahan foto item berlabel halal, seperti minuman dan susu. Seorang pengguna menulis, “Apakah ada darah babi dalam susu biasa? Yang harus kita khawatirkan adalah persatuan nasional, bukan kesatuan kelompok agama. ”

Pertemuan para pejabat partai pada Senin meminta semua pejabat pemerintah dan anggota partai di Urumqi untuk berbicara bahasa Mandarin di tempat kerja dan di depan umum, dan untuk menegaskan kembali komitmen mereka terhadap ideologi partai Komunis Tiongkok.

Cari makanan halal dinilai sebuah gejala ekstremisme



Masih dilansir BBC, sebuah foto menunjukkan Liu Ming, sekretaris partai komunis, di hadapan para warga Urumqi, termasuk suku Uighur yang mayoritas Muslim, meminta mereka untuk setia pada ideologi partai.

Saat berbicara lewat pelantang, pejabat partai komunis Liu Ming mengepalkan tangannya di udara, dan meminta para warga di Urumqi untuk mengucapkan janji yang isinya: “Keyakinan saya adalah Marxisme-Leninisme. Saya tidak percaya pada keyakinan agama apa pun. Saya harus berjuang keras melawan halalifikasi sampai akhir ”.

Seorang kader partai yang bersuku Uighur menulis sebuah artikel yang berjudul: “Teman, Anda tidak perlu menemukan restoran halal untuk saya.” Dia menulis, “Kami etnis minoritas telah menghormati kebiasaan makan di sini dan tak mempersoalkan apakah ini produk halal atau tidak.”

Warga Uighur yang juga kader partai komunis ini, juga mendorong warga Uighur lainnya yang juga anggota partai untuk makan bersama rekan-rekan Han (etnis mayoritas di Tiongkok) ketimbang hanya memilih makan di restoran halal. "Mengubah kebiasaan makan memiliki dampak yang signifikan dan jauh jangkauannya untuk melawan ekstremisme!"," ujar warga Uighur anggota partai komunis Tiongkok tersebut.***

Bagikan: