Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Israel dan Rusia Bahas Koordinasi Keamanan di Suriah

BANDUNG, (PR).- Israel segera membahas koordinasi keamanan di Suriah dengan Rusia terkait operasi udara. Perdana Menteri Israel Benjamin Netannyahu mengatakan, dia akan bertemu dengan Presden Rusia Vladimir Putin.

Rencana itu diumumkan Benjamin Netanyahu dalam sidang kabinet, Minggu 7 Oktober 2018. Namun ia tidak menyebutkan secara pasti tanggal pertemuanya dengan Vladimir Putin.

Seperti dilaporkan Reuters dan dikutip Antara, Selasa 2 Oktober 2018, Rusia memastikan akan meningkatkan pertahanan udara Suriah dengan sistem peluru kendali S-300.

Sebelumnya, Negeri Beruang Merah itu beranggapan bahwa Israel bertanggung jawab secara tidak langsung atas jatuhnya pesawat Rusia oleh pasukan Suriah. Pesawat tersebut tertembak jatuh ketika pasukan Presiden Bashar Al Assad menembaki jet Israel yang melancarkan serangan pada bulan lalu.



Pejabat Israel mengatakan sistem baru rudal itu bisa dikalahkan jet tempur siluman Israel dan kemungkinan bisa dihancurkan di darat. Mereka juga telah menyatakan tekad untuk memperkuat upaya menghalangi pergerakan militer musuh Israel, Iran, di Suriah.



Sejak pesawat Rusia jatuh ditembak, belum ada laporan jika negara Zionis ini kembali melancarkan serangan di Suriah. Setidaknya, penghentian serangan itu telah meningkatkan spekulasi di kalangan media Israel, bahwa Israel tersebut sedang menahan diri atas permintaan Rusia atau karena khawatir serangan bisa membakar ketegangan dengan Moskow.



Selama ini Rusia dikenal sebagai pendukung militer utama pemerintah Suriah. Benjamin Netanyahu mengatakan ia telah berbicara melalui telefon dengan Vladimir Putin, "Dan kami sepakat untuk segera bertemu guna melanjutkan koordinasi keamanan penting antara kedua angkatan bersenjata".



"Israel akan terus melakukan tindakan untuk mencegah Iran menempatkan kubu militernya di Suriah dan mengalirkan persenjataan mematikan kepada Hizbullah di Lebanon," katanya.



Hizbullah yang dia maksud adalah kelompok Muslim Syiah Lebanon, yang bersekutu dengan Presiden Suriah Bashar Al Assad. Israel mengaku sangat menyayangkan insiden tersebut.

Jatuhnya pesawat militer ini sedikitnya menewaskan 15 anggota militer Rusia.

Di Washington, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika serikat Heather Nauert tidak bisa memastikan laporan bahwa S-300 itu sudah dikirimkan.



Menurut dia, pengiriman peluru kendali bisa meningkatkan kekhawatiran dan masalah di negara tersebut. (Fani Ferdiansyah)***

Bagikan: