Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan singkat, 21.6 ° C

PM Israel Benjamin Netanyahu Akan Terima Otonomi Palestina dengan Syarat

Gita Pratiwi (error)

JAKARTA, (PR).- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia menerima baik Pemerintah Otonomi Palestina. Namun, ada syaratnya, yakni hanya jika Israel mempertahankan kendali keamanan atas wilayah semacam itu.



Pernyataan tersebut dikeluarkan selama penjelasan kepada wartawan Israel di PBB, setelah Netanyahu bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Selama pertemuan tersebut, Trump untuk pertama kali secara nyata mensahkan penyelesaian dua-negara bagi konflik Palestina-Israel.



Netanyahu mengatakan pengesahan Trump tidak menjadi "kejutan", kata jejaring berita Israel, Ynet.



"Saya siap buat rakyat Palestina untuk memiliki kemampuan mempertahankan diri mereka tanpa kemampuan untuk mengancam kami," kata Netanyahu, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis 27 September 2018pagi.

"Kecuali buat Jalur Gaza, kendali keamanan atas bagian barat Sungai Jordan sampai laut akan tetap berada di tangan kami. Itu tak bisa dirundingkan dan takkan berubah selama saya menjadi perdana menteri. Saya yakin bahwa setiap gagasan Amerika akan meliputi prinsip ini," katanya Rabu 26 September 2018 waktu setempat.

Netanyahu mengatakan bahwa dalam pertemuannya dengan Trump, yang juga dihadiri oleh penasehat dan menantu laki-laki Trump, Jared Kushner, yang mengatakan bahwa

"Setiap orang menafsirkan istilah 'negara' secara berbeda." Netanyahu mengumandangkan pernyataannya, dan mengatakan, "Saya menangani isinya, dan bukan penjelasan. Pertanyaannya ialah: Apa itu negara? Apakan itu Costa Rica atau Iran, ada banyak kemungkinan."

Pidato Trump



Sebelumnya, Trump tidak menjelaskan sikapnya mengenai pilihan penyelesaian bagi konflik Palestina-Israel. “Saya memandang dua-negara, dan satu-negara, dan saya menyukai pilihan yang disukai kedua pihak ... Saya memikirkan untuk sejenak dua-negara kelihatannya mungkin lebih mudah buat keduanya. Tapi sejujurnya, jika Israel dan Palestina senang, saya senang dengan pilihan yang paling mereka sukai," katanya.

Dalam pidato pada 2009 di Bar Ilan University di luar Tel Aviv, Netanyahu menjanjikan dukungannya buat penyelesaian dua-negara dengan dasar kompromi wilayah.



Ia menarik dukungannya bagi negara Palestina selama kampanyenya buat masa jabatan keduanya pada 2015, dalam upaya terakhir untuk menarik lebih banyak suara. Ia mundur dari pernyataannya setelah menang pemilihan umum beberapa kali dan sekali lagi mengatakan ia takkan pernah menerima negara Palestina.***

Bagikan: