Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Berawan, 22.4 ° C

Orang Indonesia pada Perang Dunia II dan Kisah Pembelotan di Australia

Kodar Solihat
ILUSTRASI yang menggambarkan seorang juru udara asal Pulau Jawa bernama Kopral Djadi dan seorang anggota angkatan udara Belanda Sersan Mayor Weertman mengurus pesawat pemburu Amerika Serikat, Curtiss P-40D Kittyhawk di pangkalan udara Sekutu di Canberra, Australia pada Perang Dunia II tahun 1943.*
ILUSTRASI yang menggambarkan seorang juru udara asal Pulau Jawa bernama Kopral Djadi dan seorang anggota angkatan udara Belanda Sersan Mayor Weertman mengurus pesawat pemburu Amerika Serikat, Curtiss P-40D Kittyhawk di pangkalan udara Sekutu di Canberra, Australia pada Perang Dunia II tahun 1943.*

BULAN Agustus ­merupakan momen ­penting bagi ­perjalanan negara Indonesia. Pada bulan ini, setiap ­tanggal 17 di­peringati sebagai hari ulang tahun ­kemerdekaan Indonesia.

Pada 2018, kita ­merayakan hari ulang tahun ke-73 kemerdekaan Indonesia. Namun, pada tahun 1945 dalam bulan yang sama, selepas ­kemerdekaan ­Indonesia pada 17 Agustus 1945, muncul pula sejumlah kabar dan catatan tentang perjuang­an orang-orang ­Indonesia untuk mencapai ­kemerdekaannya. Pun sejak tahun-tahun selama Perang Dunia II tahun 1942-1945.

Kisahnya diawali oleh terbelahnya sikap sejumlah orang Indonesia selama Pe­rang Dunia II. Ada yang ber­gabung dengan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Di lain pihak, ada pula yang bergabung dengan pihak Sekutu untuk mengusir pihak Jepang.

Dari catatan yang dikum­pulkan dari sejumlah arsip National Library of Australia Trove dan Australian War Memorial, ada juga sejumlah orang Indonesia yang bergabung dengan pihak Sekutu di Australia. Ternyata, diam-diam sejumlah orang Indonesia yang bergabung de­ngan Sekutu di Australia lebih memilih bekerja sama de­ngan Jepang untuk melawan Sekutu.

Menurut catatan BeeldbankWo2 Amsterdam Belanda, pada Oktober 1943 pihak Jepang telah membentuk pasukan Pembela Tanah Air yang terdiri atas orang-orang Indonesia.

Pada masa itu pula, sebelumnya pada 7 Juli 1943, di Jakarta mendapat kunjung­an pemimpin militer Jepang Hideki Tojo yang kemudian ditemui oleh pemimpin ke­lompok nasio­nalis Indonesia, yaitu Soekarno.

Kerja sama orang-orang Indonesia di Australia de­ngan Jepang juga tersimpan pada sejumlah arsip surat kabar terbitan Australia yang disimpan National Library of Australia Trove, yang baru diungkap seusai kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, oleh pihak berwenang di Australia.

Beritanya dimuat dalam surat kabar terbitan New South Wales Australia, Goulburn Evening Post pada 21 August 1945 dan Narrandera Argus and Riverina Advertiser pada 28 Agustus 1945.

Kedua surat kabar itu sama-sama memberitakan, pada Perang Dunia II tahun 1943 tersebut, tiga orang penerbang asal Indonesia yang bergabung dengan pihak Sekutu ditangkap di Canberra. Ketiga penerbang itu dituduh telah berkhianat atau membelot karena berkomplot dengan Jepang untuk menyerang Australia.

Menurut berita tersebut, ketiga penerbang Indonesia tersebut ditangkap di lapang­an terbang militer di Canberra, Australia. Saat ditangkap, ketiganya bersiap menerbangkan tiga pesawat Sekutu untuk dibawa keluar dari Australia dan kemudian diserahkan ke Jepang.

Apa yang dilakukan ketiga penerbang asal Indonesia itu terbongkar karena komunikasi radio yang mereka laku­kan dengan pihak Je­pang diketahui pihak Sekutu.

Setelah diinterogasi dan dihadapkan pada mahkamah militer di Melbourne, Sekutu kemudian membawa ketiga penerbang  itu ke pulau di utara Australia. Mereka kemudian ditembak.

Informasi dari Australian War Memorial, selama Perang Dunia II 1942-1945, banyak orang Indonesia, terutama asal Pulau Jawa, belajar teknik permesinan di Australia. Saat perang berkecamuk, banyak pula orang Indonesia yang bergabung dengan militer pihak Sekutu. Namun, ada pula kumpulan orang Indonesia dari kelompok berseberangan diinternir atau menjadi tahanan perang di Australia.

Setelah Perang Dunia II di Asia-Pasifik usai yang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada 2 September 1945, menurut catatan Australian War Memorial pula, di Australia banyak poster dikirim­kan pihak Indonesia untuk memanggil orang-orang Indonesia kembali ke tanah air.  

Hal itu dilakukan oleh pemerintah Indonesia menghadapi gelagat adanya pihak Belanda berupaya melakukan penjajahan kembali.***

Bagikan: