Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Festival Indonesia di Tokyo Diminati Warga Jepang

Dodo Rihanto

TOKYO, (PR).-  Festival Indonesia yang digelar di Hibiya Park, Tokyo, Jepang, resmi dibuka Mentri Koordinator Bidang Sumber Daya Manusia, Puan Maharani, Minggu 29 Juli 2018. Festival tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-60 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia Jepang.

Hadir dalam acara itu Presiden ke-5 Indonesia, Megawati Soekarnoputri, Duta Besar RI untuk Jepang, Arifin Tasrif, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Utusan Khusus Presiden Untuk Jepang Rachmat Gobel, Wakil Mentri Luar Negeri Jepang Mr. Iwao Horii, Walikota Kesennuma, Perfektur Miyagi - Mr. Shigeru Sugawara, Wakil Ketua Japan Indonesia Association- Mr. Kojiro Shiojiri, dan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono.

Dalam sambutannya Puan Maharani mengatakan, hubungan diplomatik antara Indonesia - Jepang dimulai pada era Presiden Soekarno. Saat ini hubungan kerja sama dengan Jepang tidak sebatas pada bidang politik namun sudah berkembang ke bidang lainnya, seperti sosial, budaya, ekonomi, dan pariwisata.

Festival tersebut cukup menyedot perhatian warga Jepang juga WNI yang sudah lama tinggal di Jepang. Antusiasme mereka tetlihat dari jumlah pengujung festival yang membludak. Bahkan, beberapa warga sempat dilibatkan dalam penampilan kesenian gotong singa yang berasal dari Jawa Barat. 

 

Mobil listrik Toyota



PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memastikan peralihan tekhnologi dalam industri otomotif di Indonesia paling lambat bakal dimulai 2025 mendatang. Pada era itu mobil berbahan bakar minyak (BBM) akan beralih ke mobil elektrik (listrik).

"Kita tidak mungkin selamanya mengandalkan BBM sebagai energi penggerak mobil karena suatu saat BBM pasti akan habis," ujar President Director PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono, seusai menyaksikan persiapan Festival Indonesia yang di gelar di Tokyo, Jepang dalam rangka mengisi Peringatan ke-60 Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang, Sabtu 27 Juli 2018

Dalam acara tersebut PT TMMIN ikut berpartisipasi dengan membuka stand di erea  festival dan memboyong 30 seniman serta penari ke Tokyo, Jepang. Acara rencananya akan  dihadiri Presiden Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri dan sejumlah mentero Kabintet Indonesia Bersatu.

Menurut Warih, perubuah tekhnologi dalam dunia industri khususnya otomotif tidak mungkin bisa dibendung. Sebab, jika Indonesia tidak mengikuti hal itu dipastikan akan tergerus oleh negara luar.

Disebutkan guna mengikuti arus perubahan itu ada empat pilar yang haris diperhatiakan produsen otomitif di Indonesia, yaitu costumer, infrastruktur, suplayer, dan regulasi (aturan). "Kita haris bisa meyakinkan konsumen jika mobil listrik lebih aman dan nyaman ketimbang mobil ber-BBM. Jika konsumen sudah menerima, maka peralihan teknologi tersebut, sudah melewati satu hambatan," kata Warih.

Setelah itu, lanjut dia, yang harus diperhatikan berikutnya adalah infrastruktur. Artinya, pengisian baterai untuk mobil listrik harus ada di mana-mana, termasuk juga bengkel yang siap merawat mobil jenia itu harus tersedia.

Pilar berikutnya adalah suplayer komponen mobil haris bisa diajak berubah. Jika tidak mereka akan tergusur dengan sendirinya. "Toyota memiliki ratusan suplayer komponen dengen ribuan pekerja. Mereka harus siap mengikuti perkembangan ini," katanya.

Yang tak kalah penting, lanjut Warih, pemerintah harus membuat aturan (regulasi) yang tepat agar mobil listrik di Indonesia bisa dikembangkan bahkan bisa mengalahkan negara yang sudah maju. "Kami terus menerua memberi masukan kepada pemerintah mengenai peralihan teknologi ini," katanya.

Disebutkan pula, saat ini Indonesia memiliki bahan baku pembuatan baterai mobil yang tidak dimiliki oleh begara lain. Potensi tersebut bisa dikembangkan agar semua baterai mobil merk apapun dibuat di Indonesia. 

Guna keperluan itu, katanya, diperlukan hubungan baik antar pemerintahan. "Partisipasi PT TMMIN dalam festival ini aalah satu tujuannya adalah untuk hal tersebut," kata Warih. 

Disebutkan juga, mobil listrik yang saat ini sudah dipriduksi negara maju masih banyak kelemahan. Di antaranya bentuk baterai yang terlalu besar dan berat. Selain kekuatan baterai dalam menggerakan motor kendaraan belum bisa bertahan lama.

Hal tersebut dipastikan akan berpengaruh terhadap minat konsumen untuk beralih ke mobil listrik. Artinya, peluang untuk merebut pasar mobil listrik sangat terbuka lebar, jika produsen bisa memperbaiki kelemahan-kelamahan tersebut.

"Saat ini belum satupun negara berkembang yang memproduksi mobil listrik, baru ada di negara-negara maju," ujarnya. ***

Bagikan: