Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Rabu 25 Juli 2018, Hari Paling Mematikan di Sweida Suriah

Yusuf Wijanarko

DAMASKUS, (PR).- Nasib buruk wagra Suriah yang terjebak dalam perang saudara tujuh tahun semakin buruk pada Rabu 25 Juli 2018. Serangan di satu provinsi yang dianggap sebagai salah satu tempat paling aman menewaskan lebih dari 200 orang.

Tak kurang dari 215 orang tewas dalam sehari dan 180 orang lainnya cedera dalam serangkaian serangan yang dilancarkan petempur ISIS di Sweida.

Peristiwa tersebut menjadikan Rabu 25 Juli 2018 sebagai hari paling mematikan bagi provinsi di Suriah Selatan itu sejak perang saudara meletus pada 2011 dan bentrokan meningkat antara angota ISIS, pasukan propemerintah, dan warga yang membawa senjata untuk mempertahankan kota tempat tinggal mereka.

PBB mengutuk pemboman di lokasi itu dan mengatakan ISIS telah memperlihatkan bahwa kelompok itu sama sekali tidak peduli dengan nyawa manusia. PBB juga menyerukan terhadap perlindungan warga sipil serta prasarana sipil.

"Salah satu serangan paling mematikan ISIS sejak perang meletus. Marilah kita kubur itu." Demikian komentar Jenan Moussa dari dari stasiun televisi Arab, Al Aan yang berpusat di Dubai, Uni Emirat Arab, sebagaimana dilaporkan Xinhua dan dikutip Antara.

" ISIS tidak lagi menguasai banyak wilayah Suriah/Irak, tapi setiap orang yang mengira ancaman ISIS sudah usai berkhayal." Demikian bunyi laporan itu.

Warga lokal mengatakan, petempur ISIS memasuki banyak rumah saat fajar dan menyembelih anggota keluarga dalam serangan yang mengejutkan.

Banyaknya korban jiwa juga meliputi korban yang tewas akibat tiga pemboman bunuh diri di ibu kota provinsi tersebut dan mereka yang memerangi ISIS di pinggir provinsi di bagian timur laut Suriah itu. Laporan tersebut disampaikan Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia yang berpusat di Inggris.

Lebih dari 6,9 juta orang meninggalkan Suriah sejak perang saudara meletus dan mengungsi ke 45 negara. Demikian data dari Kementerian Pertahanan Rusia.

Perhatian teralihkan



Banyak pengungsi Suriah tinggal di kamp sementara di dekat perbatasan Jordania dan Israel tanpa air, makanan, dan tempat berteduh yang memadai.

Meski pinggiran Sweida telah menyaksikan pertempuran antara Tentara Suriah dan gerilyawan, termasuk ISIS, Kota Sweida telah tetap tenang dan kebanyakan warganya adalah suku minoritas Druze, masyarakat yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad.

Serangan di Sweida mengalihkan perhatian militer dan meringankan tekanan di daerah yang dikuasai ISIS di Provinsi Daraa di dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, tempat Tentara Suriah telah melancarkan serangan tanpa henti terhadap kelompok garis keras tersebut.

Dengan bantuan Rusia, militer Suriah telah merebut 90 persen Daraa melalui pertempuran dan perujukan.

Setelah serangan Rabu 25 Juli 2018, sebagian tetua suku di Sweida mengatakan ratusan pemuda sudah bergabung dalam perang melawan ISIS.***

Bagikan: