Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Erdogan Sebut Semangat Hitler Bangkit, Hubungan Turki-Israel Memanas Lagi

Huminca Sinaga

ISTANBUL, (PR).- Turki dan Israel bersitegang setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa ”roh Hitler” bangkit kembali di antara para pejabat Israel. Seperti dilaporkan laman The Guardian, Rabu 25 Juli 2018, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun meradang. Netanyahu menyebut Turki di bawah Erdogan te­lah menjadi ”kediktatoran gelap” .

Kedua kekuatan regional tersebut bentrok atas undang-undang baru yang men­de­fi­ni­sikan Israel sebagai negara Yahudi.

Pada pertemuan dengan anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) pada Selasa, Erdogan mengecam undang-undang Israel yang disahkan di Knesset pekan lalu. UU itu katanya mencerminkan obsesi Nazi de­ngan kemurnian ras Arya.

”Undang-undang itu adalah bukti bahwa, tanpa diragukan lagi, Israel ada­lah negara paling Zionis, fasis, dan rasis di dunia,” kata Erdogan.

”Pandangan pemerintah Israel untuk mengidentifikasi tanah kuno itu sebagai milik orang Yahudi saja tidak berbeda dari obsesi Hitler dengan ras Aria-nya,” ujarnya. ”Semangat Hitler, yang menye­ret dunia ke dalam bencana besar, telah meningkat lagi di antara beberapa pejabat Israel.”

Netanyahu membalas di media sosial, menggambarkan Turki di bawah Erdogan sebagai ”kediktatoran gelap”. ”Erdogan melakukan pembantaian warga Suriah dan Kurdi dan telah memenjara­kan puluhan ribu warganya.

”Fakta bahwa Erdogan ’si demokrat besar’ sedang menyerang hukum negara kami adalah pujian terbesar untuk undang-undang ini,” ujar Netanyahu.

”Turki, di bawah pemerintahan Erdogan, menjadi kediktatoran yang gelap, sementara Israel dengan saksama mempertahankan hak-hak yang setara untuk semua warganya. Baik sebelum dan se­sudah memperkenalkan undang-undang ini,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan, Rabu 25 Juli 2018.

Hubungan berliku Turki-Israel



Sementara itu, dilansir BBC, meski­pun sebelumnya sempat menjadi sekutu dekat, Turki memutus hubungan diplomatik dengan Israel pada 2010. Setelah 10 pegiat pro-Palestina Turki terbunuh dalam bentrokan dengan komando Israel yang memasuki kapal milik Turki. Kapal itu berusaha menembus blokade laut di Jalur Gaza.

Hubungan membaik pada 2016, tetapi diplomat senior masing-masing dikirim pulang pada Mei tahun ini karena pertikaian terkait dengan pembu­nuh­an oleh Israel. Warga Palestina dibunuh di tengah-tengah unjuk rasa yang terjadi di perbatasan Gaza-Israel.

Kelompok hak asasi manusia menu­duh pasukan Israel menggunakan ke­kerasan secara berlebihan. Israel me­nyatakan, mereka menembak hanya untuk membela diri atau terhadap warga Palestina yang berusaha menyusup ke wilayahnya.

Dilansir BBC, dalam sebuah pidato di depan anggota partainya, AKP, Erdogan dengan tajam mengkritik hukum kontroversial yang diloloskan Israel minggu lalu. Dia menilai hukum itu menggolongkan negara itu sebagai negara Yahudi.

”Semangat Hitler, yang menyebabkan terjadinya bencana besar dunia, bangkit kembali di antara sebagian pemimpin Israel,” ujar Erdogan.

Israel memandang perbandingan dengan rezim Nazi yang membunuh enam juta warga Yahudi di Eropa saat Holokos, sebagai suatu ejekan yang mengerikan. Netanyahu segera bereaksi lewat Twitter dengan menuduh Erdogan ”membantai warga Suriah dan Kurdi serta memenjarakan puluhan ribu warganya”.

Itu bukan untuk pertama kalinya Erdogan melancarkan serangan kata-kata terhadap Israel. Permulaan tahun ini, Erdogan menyatakan Netanyahu sebagai seorang ”pelaku pendudukan” dan ”seorang teroris”.

Netanyahu menjawab dengan mengatakan Israel ”tidak akan digurui terkait dengan moralitas oleh seseorang yang selama bertahun-tahun mengebom warga sipil tanpa pandang bulu”. ***

Bagikan: