Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 19.9 ° C

UU Tenaga Kerja Diubah, Buruh Perempuan India Dapat Hak Duduk

Huminca Sinaga

NEW DELHI, (PR).- Undang-undang buruh di India akhirnya diamandemen untuk mengakomodasi hak-hak kaum buruh perempuan yang selama ini sering termarginalkan.

Seperti dilaporkan laman The Guardian, Selasa 17 Juli 2018, kaum buruh perempuan di India kini dibolehkan duduk dan minum saat bekerja di toko atau tempat lainnya. Amandemen UU tersebut disambut gembira kaum bruuh India karena selama ini mereka, khususnya kaum wanita, banyak yang mengalami sakit ginjal, infeksi saluran kemih karena selama bekerja di toko atau pabrik dibatasi untuk keluar-masuk toilet. Akibatnya, mereka memilih mimun sedikit air karena tak ingin gaji dipotong akibat sering minta ijin ke toilet.

Begitu juga dengan hak untuk duduk di kursi selama bekerja di toko, kini diberikan untuk kaum wanita. Sebelumnya mereka dilarang duduk selama bekerja di toko pakaian dan toko lainnya, dengan alasan mereka harus tetap melayani konsumen. Kendati tak ada pembeli, pelayan toko perempuan tetap harus berdiri sampai jam kerja mereka selesai.

The Guardian mengungkapkan kisah salah seorang buruh  wanita India yang sebelum UU Buruh diamandemen,merasakan penderitaan luar biasa selama bekerja sebagai pelayan di toko sari. Buruh wanita yang namanya disamarkan menjadi Cybil Wilson itu dilaporkan telah bekerja selama 10 tahun di salah satu toko sari ternama  di kota Trivandrum, negara bagian Kerala, India Selatan.

Gajinya di toko tersebut selalu rendah, tetapi dia tak terlalu mempersoalkan itu. Yang menjadi masalah baginya selama bekerja 10 tahun it u adalah rasa sakit dan bengkak di kakinya. Ini adalah hal yang paling membuatnya kesal. Majikannya melarang Wilson, dan 120 asisten penjual wanita lainnya yang bekerja di toko empat lantai, duduk selama shift 12-14 jam.

“Kami juga dilarang menggunakan lift. Semua pelanggan membayar di lantai dasar untuk pembelian mereka dan kami harus menemani mereka sehingga kami naik dan turun tangga sepanjang hari. Beberapa kali, ketika kami menggunakan lift, pelanggan mengeluh karena tak ingin berbagi lift dengan kami, ” kata Wilson dikutip The Guardian.

Sekarang pemerintah Kerala telah mengumumkan akan mengubah undang-undang ketenagakerjaannya untuk memasukkan klausul yang mewajibkan para majikan untuk membiarkan perempuan duduk. Amandemen UU Ketenagakerjaan ini merupakan hasil perjuangan serikat perempuan untuk irippu samara (hak untuk duduk dalam bahasa Malayalam) bagi para pekerja toko di India. 

Sediakan kursi dan waktu istirahat cukup



Sebagian besar pemilik toko sari dan gerai ritel lainnya melarang perempuan, sebagian besar tenaga kerja toko, untuk duduk. Bahkan bersandar di dinding pun bisa dihukum. Makan siang dibatasi hanya 30 menit. Istirahat untuk ke toilet pun sangat terbatas. Berbicara dengan rekan kerja, bahkan, dapat menyebabkan pemotongan gaji. Pengusaha pun memantau rekaman CCTV untuk memeriksa kepatuhan para karyawan mereka. 

Persatuan buruh perempuan, yang disebut Amtu, didirikan oleh Viji Penkoot ketika serikat pekerja yang didominasi laki-laki di negara itu mengabaikan masalah ini. “Selama ini para wanita berhati-hati untuk tidak minum terlalu banyak karena mereka tidak dapat pergi ke toilet ketika mereka ingin buang air kecil. Mereka mendapat infeksi saluran kencing, masalah ginjal. Mereka memiliki varises dan nyeri sendi dari berdiri. Kami butuh waktu lama bagi pemerintah untuk memperhatikan masalah ini,” kata Penkoot.

Pada 4 Juli, kabinet negara bagian Kerala, akhirnya bereaksi terhadap protes jalanan oleh ribuan asisten toko. Mereka pun mengumumkan akan mengubah undang-undang yang ada, yang selama ini gagal untuk menentukan fasilitas mana yang harus disediakan untuk kaum perempuan yang bekerja di toko, termasuk hak untuk duduk. “Ini adalah kebijakan kami untuk melindungi kepentingan semua pekerja perempuan kami dan kesenjangan dalam hukum ini harus dicabut,” kata Thozil Bhawan, seorang komisioner tenaga kerja di Kerala.

Undang-undang baru akan menetapkan gaji awal bulanan minimum 10.000 rupee (sekira Rp 2 juta), bekerja maksimal delapan jam sehari, toko harus menyediakan kursi atau bangku, istirahat teh sore, dan istirahat makan siang, dengan durasi yang sampai saat ini belum diputuskan oleh kabinet Kerala.***

Bagikan: