Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sedikit awan, 24.2 ° C

Citra Satelit Tunjukkan Korea Utara Memperbarui Reaktor Nuklir

Huminca Sinaga

PYONGYANG, (PR).- Korea Utara masih terus memperbarui satu-satunya reaktor nuklirnya (Yongbyon) yang digunakan untuk menjalankan program senjatanya. Hal ini terungkap dalam laporan kelompok pemantauan Utara 38, seperti dilaporkan laman The Guardian, Rabu 27 Juni 2018. 

Kelompok Utara 38 menggunakan citra satelitsaat menyimpulkan bahwa Korut masih mempertahankkan reaktor nuklirnya. Padahal dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS, Korut berjanji untuk melakukan denuklirisasi. Adapun citra satelit komersial yang diambil kelompok tersebut dilakukan pada 21 Juni.

Dilansir The Guardian yang mengutip laporan kelompok Utara 38,perbaikan infrastruktur di pembangkit nuklir Yongbyon "terus berjalan dengan cepat".

Masih dalam analisis Utara 38, disebutkkan bahwa sistem pendingin untuk reaktor produksi plutonium telah dimodifikasi. Setidaknya dua bangunan non-industri baru telah dibangun di lokasi, mungkin untuk digunakan oleh pejabat yang berkunjung. 

"Sebuah gedung perkantoran teknik baru telah selesai. Dan pembangunan terus berlanjut pada fasilitas pendukung di seluruh kompleks," demikian analisis Utara 38 yang ditulis tiga penelitinya, Frank V Pabian, Joseph S Bermudez Jr dan Jack Liu.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, telah berkomitmen untuk "menyelesaikan denuklirisasi" dalam pertemuan dengan Donald Trump dan presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. Tetapi rincian tentang bagaimana dan kapan itu akan terjadi belum diputuskan. Kim mengumumkan awal tahun ini bahwa persenjataan nuklir dan senjata nuklir Utara yang mampu menyerang AS telah selesai. Korea Utara menutup satu-satunya tempat uji coba nuklirnya yang diketahui pada bulan Mei.

"Perbaikan infrastruktur terus berlanjut di Yongbyon," ujar Jenny Town dari kelompok Utara 38 lewat akun twitternya. "Tetapkan alasan mengapa transaksi yang sebenarnya diperlukan, bukan hanya pernyataan tujuan yang luhur," cuit Jenny lagi dikutip The Guardian.

Denuklirisasi dan menghunungkan dua Korea



Status berbagai bagian dari kompleks nuklir Yongbyon sampai  saat ini masih belum jelas, dan para ahli memperingatkan agar berhati-hati saat mengkaitkan perbaikan yang sedang berlangsung untuk negosiasi dengan AS.

"Terus bekerja di fasilitas Yongbyon tidak harus dilihat sebagai memiliki hubungan dengan janji Korea Utara untuk denuklirisasi," para ahli memperingatkan. 

Meskipun tidak ada kejelasan tentang kesepakatan nuklir, Korea Selatan telah mendorong maju dengan upaya diplomatik. Kedua pihak bertemu untuk pembicaraan militer minggu ini yang bertujuan memulihkan jalur komunikasi. Para pejabat kereta api juga sepakat untuk mengeksplorasi menghubungkan kedua negara dengan kereta api.

Pemeriksaan akan dimulai bulan depan pada jalur panjang yang tidak terpakai yang pernah diizinkan melintasi seluruh semenanjung. Pembicaraan telah dimulai satu dekade lalu, tetapi ditangguhkan di tengah meningkatnya ketegangan. Korea Selatan sudah memiliki baja berkilauan dan stasiun kaca tepat di sebelah selatan perbatasannya dengan Korea Utara, dengan jalur yang ditandai untuk destinasi ke ibu kota Korea Utara, Pyongyang.

Kim memilih infrastruktur kereta api canggih di Selatan selama pertemuannya dengan Moon pada bulan April lalu. Dia mengakui bahwa saat ini Korea Utara tertinggal jauh di belakang tetangganya. Namun kemajuan dalam masalah nuklir dan pencabutan sanksi harus dilakukan sebelum proyek rel kereta api bersama.

Pertemuan bersejarah bagaikan fantasi



Seperti diketahui,  KTT AS-Korea Utara yang digelar di Singapura, Selasa 12 Juni 2018 lalu, berlangsung sukses. Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un akhirnya bertemu untuk pertama kalinya dan keduanya berhasil mencapai kesepakatan. 

Dilansir laman The Guardian, bagi sejumlah kalangan, pertemuan keduanya tampak sureal karena sebelumnya kedua tokoh terlibat perang kata-kata.  Bahkan, pada September tahun lalu, Korut sudah mengancam AS akan meluncurkan nuklirnya ke kawasan Guam, salah satu teritori AS di Pasifik.

Tak heran, saat berjumpa pertama kali dengan Trump, Kim pun sempat berkomentar bahwa banyak orang sempat berseloroh. Bahwa pertemuannya dengan Trump adalah fantasi seperti dalam film fiksi ilmiah. 

Trump pun menyebutkan bahwa pertemuannya dengan Kim berjalan sukses sehingga dia akan mengundang Kim ke Gedung Putih. 

Dalam pertemuan selama 40 menit dengan Kim, Trump mengatakan keduanya membahas sejumlah hal, termasuk denuklirisasi dan juga jaminan keamanan AS untuk Korut. 

Trump pun menambahkan bahwa keduanya berhasil mencapai kesepakatan. Salah satunya, AS telah setuju untuk menangguhkan latihan militer dengan Korea Selatan dengan imbalan komitmen untuk denuklirisasi dari Korea Utara.

Kesepakatan ini cukup mengejutkan karena Donald Trump sebelumnya mengatakan denuklirisasi harus dipatuhi Korut tanpa syarat. Sebelum KTT, Trump tak pernah mengatakan akan menghentikan latihan militer tahunan dengan Korsel. Namun demi kesuksesan KTT dan babak baru perdamaian di Semenanjung Korea, Trump bersedia menghentikan kegiatan tahunan tahunan tersebut.***

Bagikan: